BETA
Hidup Berbelaskasihan
Sumber: artikel_c3i
Id Topik: 7749

Hidup bisa saja keras. Sering kali ada rasa sakit, kekecewaan, kesepian, dan kehilangan. Kita harus mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang kita kasihi, dan tertinggal sendiri. Kita mengabaikan posisi yang merupakan impian hati kita. Kita diberi tahu hasil MRI oleh dokter dengan nada suram dan kemudian matanya menatap lantai.

Mungkin inilah alasan iman Kristen sering kali berbicara tentang belas kasihan. Ada dunia yang sedang membutuhkannya. Di setiap sudut. Di setiap ruangan. Di sepanjang jalan.

Saat itu tengah hari, dan teman saya Billie baru saja selesai berbelanja bersama putrinya. Putrinya sedang mengecek belanjaan. Wanita muda yang memasukkan barang belanjaan senang ketika Billie berbelanja. Billie akan berbincang dengannya; wanita muda ini, yang menderita "down syndrome", telah mengetahui bahwa tidak semua orang sangat ramah. Saat keduanya selesai berbisnis, wanita muda itu menyebutkan bahwa ia baru saja akan keluar makan siang. Billie berkata kepadanya, "Putri-putriku dan aku akan keluar makan siang juga. Mengapa tidak bergabung saja bersama kami?"
Setiap orang di pusat perbelanjaan Fountain Oaks hari itu akan melihat mereka bertiga, Billie, dan dua putrinya, makan dan mendengarkan dengan penuh perhatian tamu makan siang mereka yang paling bahagia yang pernah diundang, terus berbincang -- mengetahui bahwa ia diterima dan dihargai serta masuk dalam kelompok itu.

Saya terkadang merasa malu ketika melihat dunia yang sama seperti orang-orang hebat ini dan melihatnya dengan kurang berbelaskasihan. Mereka seolah-olah telah diberi lensa yang berbeda. Mereka melihat hati dengan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan lapar. Mereka melihat kesempatan untuk memedulikan apa yang mungkin tidak saya pedulikan.

Sebagian orang melihat hidup dengan cara yang berbeda dari sebagian besar kita. Para seniman dan fotografer dapat melihat keindahan dalam sesuatu yang tampak sebagai pemandangan biasa. Para komedian tetap membuat kita tertawa karena hal yang biasa seperti berjuang mengeluarkan acar dari botol. Mereka memandang dunia dengan cara berbeda. Dr. Frasier Crane, karakter psikiater dalam acara TV Cheers (dan selanjutnya dalam acaranya sendiri), mendengarkan salah seorang kolega di tempatnya duduk mendeskripsikan insiden dari perspektif uniknya. Setelah jeda singkat, Frasier berkata, "Cliff, apa warna langit di dunia tempatmu hidup?"

Hanya itu. Mereka yang berbelaskasihan melihat warna langit yang berbeda. Mereka memandang dunia dan melihat kesempatan yang lebih banyak dari apa yang kita lewatkan, kesempatan untuk memelihara kehidupan dan menyentuh hati.

Belas kasihan berarti menjangkau di luar diri saya dengan motif sederhana untuk membantu orang lain. Belas kasihan berarti peduli bahkan ketika "Aku tidak berhubungan dengannya." Ini bukan sesuatu yang diberikan sebagai ganti dari sesuatu yang lain. Tidak ada pemanfaatan. Belas kasihan itu memerhatikan hanya karena Anda -- kesejahteraan, kebahagiaan, kebutuhan Anda -- berarti bagi saya. Saya percaya keinginan ini ada dalam jaringan gen kita. Belas kasihan ada pada perangkat keras emosional kita. Yesus tidak mengatakan kepada kita untuk mulai melakukannya; Ia mengingatkan kita bahwa ini adalah bagian dari siapa kita.

Akan tetapi, mari kita melihat kenyataannya. Mungkin ada saat-saat kita merasakannya. Ada saat-saat kita bergumul dengan ini. Mungkin ada saat-saat kita harus mengingatkan diri kita untuk peduli, saat ketika memandang dunia dengan lensa tampak tidak alami.

Kita semua memiliki poin-poin di mana kita perlu bersentuhan kembali dengan bagian diri yang diberikan Allah. Rasa belas kasihan itu ada di sana. Mungkin terkubur. Mungkin terabaikan, sebagian tersembunyi. Namun, itu ada di sana. Belas kasihan adalah "Kristus ada di tengah-tengah kamu," seperti yang ditulis oleh Paulus (Kol 1:27). Kristus melimpah dengan kasih karunia dan belas kasihan. Kristus dalam diri setiap kita pasti mencerminkan sesuatu seperti keserupaan itu.

Jika tidak siap mengakses rasa belas kasihan kita, kita perlu memulai pencarian kita untuk menemukan hal yang menghalangi kita dari kepedulian yang sepenuh hati. Apakah ketidakamanan atau pertahanan diri membuat kita hidup dalam cara melayani diri sendiri? Mengapa "apa manfaatnya untuk saya" terus-menerus menjadi kegagalan kita? Apakah ketidakamanan -- yang kita timbun secara emosional, membuat kita tidak dapat berfokus pada kebutuhan orang lain karena ketakutan akan tidak terpenuhinya kebutuhan kita? Apakah kecintaan pada diri sendiri -- perasaan dihormati yang kita inginkan muncul di atas segalanya? Apakah penghalangnya?

Jika ini adalah pergumulan saya, saya harus menemukan apa yang menghalangi kasih pemberian Allah yang saya miliki bagi Anda, di mana Anda dan sukacita serta kesejahteraan Anda sungguh-sungguh berarti bagi saya. Apa pun yang menghalangi kapasitas saya untuk melihat Anda melalui kacamata belas kasihan, harus saya sebutkan.

Elizabeth Barret Browning menulis konsep ini dalam puisinya "Airora Leigh":

Kepenuhan bumi oleh surga, Dan setiap semak biasa menyala oleh Allah; Tapi hanya ia yang melihat, melepas sepatunya; Sisanya mengelilinginya dan memungut blackberry.

Belas kasihan pertama-tama memerlukan kita untuk melihat, kemudian merespons. Kita melihat kebutuhan, kesempatan untuk memedulikan, dan memutuskan untuk mengambil saat itu dan merespons.

Jarang sekali respons itu berupa kesediaan untuk menjadi misionaris ke Afrika atau pergi ke seminari. Terkadang. Namun, tidak sering. Selalu, respons tersebut berupa perubahan sederhana dari hati yang menyebabkan perbedaan dalam beberapa cara sederha

na.

Kasih muncul dari beberapa cara sederhana. Hampir selalu, dalam beberapa cara sederhana. Demikianlah cara belas kasihan selalu diekspresikan. Seperti diungkapkan Bunda Teresa, "Kita tidak dapat melakukan hal-hal besar; kita dapat melakukan hal-hal sederhana dengan kasih yang besar."

Kepada seorang teman yang sudah menjanda, sebuah catatan penuh kasih tiba pada hari peringatan kematian suaminya. Lima tahun sudah berlalu. Lima tahun -- dan seorang teman masih ingat. Sebuah cara yang sederhana. Selesai. Namun, ia duduk di ruang makannya dengan memegang catatan itu dan menangis karena begitu dikasihi. Seseorang mengingat.

Cara-cara sederhana ... yang menyentuh hati dan membuat perbedaan mendalam.

Diambil dari:

Judul asli buku:If You Know who You Are You'll Know what to Do
Judul buku terjemahan:Living with Integrity
Judul bab:Hidup Berbelaskasihan
Penulis:Ronald J. Greer
Penerjemah:Febriana Ayu P.
Penerbit:Penerbit ANDI, Yogyakarta 2009
Halaman:79 -- 82