BETA
Sikap terhadap Kemarahan
Sumber: artikel_c3i
Id Topik: 7694

Menghadapi sisi-sisi gelap dalam diri sendiri merupakan sumber dari segala pergumulan hidup manusia. Filsuf Rusia, Feodor Dostoevski, pernah mengatakan bahwa "Di tengah kedalaman lubuk hati manusia, ada sesuatu yang manusia sembunyikan dan tidak mampu singkapkan kecuali kepada sahabatnya. Itupun dilakukan secara sembunyi. Di samping itu manusia masih mempunyai berbagai rahasia lain, yang kepada sahabatnya pun ia tidak berani ceritakan, yaitu rahasia yang ia hanya dapat singkapkan kepada dirinya sendiri. Lebih mengherankan lagi, manusia masih dapat menyimpan rahasia- rahasia lain, yang ia tidak mampu singkapkan bahkan kepada dirinya sendiri."

Itulah sisi gelap yaitu hal buruk yang mungkin sangat memalukan dan menjijikkan sehingga manusia yang berhati-nurani takut untuk menghadapi dan memikirkannya sendiri. Paul Tournier dalam bukunya "Reflections" mengatakan bahwa memasuki daerah sisi gelap tersebut, manusia tidak dapat lagi dibedakan dengan binatang. Tingkah laku dan perasaannya digerakkan oleh instingnya sehingga akal dan pertimbangan pikiran yang sudah dibekali dengan berbagai pengetahuan akan kebenaranpun tidak berdaya lagi. Setiap kali muncul, ia menuntut pemuasan yang akan disesali kemudian.

Kasus:

A adalah seorang Kristen yang cukup aktif dalam berbagai kegiatan rohani. Sebagai seorang majelis gereja, A seringkali memimpin pemahaman Alkitab dan menangani berbagai masalah konseling. Tidak heran jikalau A dikenal sebagai tokoh Kristen dan berbagai jabatan dipegangnya.

Hari ini istri A menemui Anda. Mula-mula ia mengeluh tentang anaknya yang kedua, yang terjerat narkoba dan sudah dua hari tidak pulang ke rumah. Ia juga menceritakan dengan bercucuran air mata tentang sifat suaminya yang pemberang dan abusive (memukul). Ia menunjukkan bekas- bekas luka di tangannya dan memar-memar di punggung dan dadanya.

Ia mengakui bahwa A sebenarnya seorang suami yang baik, tetapi pemarah dan sulit memaafkan kesalahan orang lain. Kalau harga dirinya tersinggung, ia bisa dengan segera mata gelap, dari mulutnya akan keluar kata-kata kotor, sumpah-serapah dan ia bisa melakukan apa saja. Pisau, gunting, sapu, kursi apa saja bisa dipakai untuk melampiaskan kemarahannya. Memang kemudian ia akan menyesal, tetapi ini terus terulang-ulang sehingga seluruh keluarga menjadi korban, termasuk anaknya yang terjerat narkoba, tidak lagi tahan tinggal di rumah.

Menghadapi kasus di atas beberapa prinsip konseling di bawah ini bisa Anda pakai.

  1. Boleh marah tetapi tidak berbuat dosa (Efesus 4:26). Munculnya perasaan marah merupakan bagian integral dari jiwa manusia. Bahkan Alkitab menyaksikan bahwa Allah pun pada saat- saat tertentu marah, meskipun kemarahan Allah adalah kemarahan atas dosa. Alkitab menyaksikan bahwa reaksi Allah yang suci atas dosa dan kecemaran adalah "kemarahan." Ada 375 kali di Perjanjian Lama dan 80 kali di Perjanjian Baru dicatat tentang kemarahan Allah. Alkitab juga mencatat bahwa Tuhan Yesus dan rasul-rasul pun berulang kali marah. Bahkan yang lebih mengherankan adalah bahwa ekspresi kemarahan yang suci itu bisa "menjadi batu sandungan" di mata manusia. Oleh sebab itu, meskipun setiap kata yang dipakai bukan merupakan manifestasi dari dosa, Yohanes 6:60-66 menyaksikan bahwa banyak murid yang mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia.

  2. Marah dan tidak berbuat dosa seringkali menjadi masalah yang sangat kompleks. Meskipun jelas bahwa kemarahan Allah dan Tuhan Yesus tak dapat dibandingkan dengan kemarahan manusia yang selalu tercemari oleh dosa, tetapi batasan manifestasi kemarahan merupakan hal yang sulit sekali digariskan. Jikalau Allah dalam kemarahan-Nya bisa membunuh, maka manusia dengan alasan apapun juga tidak berhak melampiaskan "spirit membunuh" meskipun hanya dengan kata-kata. Tuhan Yesus menegaskan bahwa "spirit membunuh" telah melibatkan manusia jatuh dalam dosa yang mematikan (ayat 21- 22). Berarti, meskipun kemarahan adalah bagian integral hidup manusia, tidak ada seorang manusia pun yang berhak melampiaskan kemarahan dalam bentuk apapun juga atas dorongan dosanya. Dengan demikian, kasus A bukan hanya "kepribadian abusive" tetapi juga kasus "perkanjangan dalam dosa" oleh karena "buruknya hubungan dengan Allah." Keduanya harus diselesaikan.

  3. Jangan percaya kata-kata penyesalannya karena kemarahan yang tak terkendali bukan masalah rasional yang disadari. Untuk pengalaman pertama dengan sifat suami yang abusive, istri A mengatakan, "Saya shock sekali. Saya tidak pernah mengenal sisi A yang ini. Saya merasa tidak berarti, tetapi beberapa hari kemudian saya sudah menemukan A sebagai suami yang hangat, yang penuh kasih, yang suka memberi surprise, dan romantis. Memang untuk pemukulan yang pertama itu ia tidak minta maaf, tetapi seluruh tindakan dan sikapnya sudah menyatakan itu. Jadi saya merasa lega. Namun tiga minggu kemudian ia begitu lagi. Untuk hal yang kecil (saya lupa mengembalikan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan gereja) ia begitu marah dan memukul dan membenturkan kepala saya ke tembok. Akibatnya mulut dan hidung saya bocor dan kepala saya benjol. Nah, untuk yang ini A sampai menangis dan meminta maaf berulang kali. Ia menyesal dan bersumpah tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Memang luka hati saya saat itu cukup dalam sehingga memakan waktu lebih lama untuk sembuh. Kemudian hubungan kami membaik lagi, dan saya yakin Tuhan sudah menolong. Kami sering berdoa dan melakukan saat teduh bersama seluruh keluarga. Indah sekali, tetapi dua hari yang lalu A melakukannya lagi. Bahkan di tengah kemarahannya ia mengatakan bahwa dia menyesal menikah dengan saya. Saya betul-betul putus asa dan kecewa. Meskipun kali ini A sampai berlutut di kaki saya dan bersumpah di hadapan Tuhan, rasanya sulit sekali saya memaafkan dia."

  4. Pola seperti di atas memang merupakan pola yang seringkali ditemukan dalam hidup pasangan dengan masalah "sisi-sisi gelap (unconsciousness)" seperti A yang abusive. Munculnya dorongan yang tak terkendali untuk mengatakan atau melakukan hal-hal yang jahat merupakan hal yang muncul sebagai insting sehingga alasan dan tujuannya tidak rasional. Oleh sebab itu "Anda sulit percaya pada kata-kata dan janjinya," kecuali ia menunjukkan kesungguhan untuk memperbaiki kelakuannya, yaitu: (a) ia mau ditolong melalui pelayanan psikoterapi yang benar- benar profesional, dan (b) ia bertekad mengubah pola dan sistem kehidupannya.

    Biasanya, tekad untuk memperbaharui kehidupan hanya ada pada saat seorang sudah terpaksa dan tak mempunyai pemilihan yang lain lagi.

  5. Menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Sebagai teman (konselor awam) Anda dapat menolong A menyadari apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Itu dapat dilakukan melalui:

    1. Alasan dari penyesalannya. Mungkin A mengakui bahwa ia telah marah dengan kemarahan yang tidak dapat dipertanggung- jawabkan, tetapi apa sebenarnya alasan di belakang pengakuan tersebut? Apakah A benar-benar menyesali kesalahannya dan melihat bahwa kesalahan tersebut adalah dosa yang sangat menyedihkan, atau A menyesal karena "akibat yang harus ia tanggung?" Yang kedua merupakan gejala dari masalah yang serius dari kepribadian A, dan Anda harus merefer A kepada seorang psikoterapist.

    2. Tujuan dari kemarahannya. Setiap kemarahan mempunyai tujuan yang khusus, dan itu bisa disadari bisa pula tidak disadari. Anda perlu menolong A menemukan dan menyadari sendiri apa sebenarnya tujuan dari kemarahannya. Apakah ia marah oleh karena stimulan dari luar dirinya (mempunyai 'precipitating factors'), atau ia seringkali berada dalam 'mood' siap untuk marah (mempunyai 'predisposing factors'). Meskipun yang pertama bisa juga tidak beralasan yang mendasar (misalnya: A marah bukan oleh karena prinsip kebenaran yang ia pegang), tetapi biasanya yang kedua lebih serius dan membutuhkan penanganan seorang profesional.

    3. Sarana dan cara untuk melampiaskan kemarahannya. Memang di dalam kasus di atas ada gejala A memakai sarana dan cara pelampiasan kemarahan yang tidak sehat. Meskipun demikian Anda masih perlu menolong A menyadari mengapa atau kapan ia memakai cara dan sarana tersebut. Apakah A memukul oleh karena cara-cara lain yang ia pakai tidak mempan (berarti A sudah memakai cara dan sarana yang lain sebelum kemarahannya memuncak dan meledak/'escalated' dan 'exploded'), atau "memukul" merupakan suatu kebiasaan setiap kali ia marah. Keduanya memang tidak baik, tetapi yang pertama bisa diatasi melalui kerjasama dengan istri A (misalnya: belajar untuk tidak meresponi kemarahan A dengan sikap dan kata-kata yang lebih menstimulir kemarahan) dan yang kedua memerlukan bantuan seorang konselor yang profesional.

  6. Menyusun strategi kehidupan yang lebih baik. Meskipun mungkin penanganan kasus A ada dalam tanggung jawab konselor yang profesional, peran Anda sebagai teman dan konselor awam tidak kecil. Hal itu nampak:

    1. Kalau Anda bisa membina rapport atau hubungan yang baik dengan A. Hubungan yang baik yang dijiwai oleh 'acceptance' atau kemampuan menerima A sebagaimana adanya akan mencipta 'openness'/keterbukaan; dan 'openness' tersebut akan menjadi semakin mendalam jikalau Anda dapat menjadi 'listener' atau pendengar yang baik. Ajaib bahwa melalui peran ini saja, A akan menemukan dirinya, kerapuhannya, dan bahkan kemungkinan jalan keluarnya.

    2. Kalau Anda bisa menolong istri A menjadi teman bicara yang baik bagi suaminya. Memang aneh bahwa kebiasaan abusive seringkali hanya dilampiaskan kepada orang-orang yang terdekat. Jiwa 'pseudo masculinity' (kejantanan semu) ini adalah jiwa pengecut dari pribadi yang tidak berani menghadapi realita dan pertanggungjawaban hidupnya. Kemarahan terhadap ketidakmampuannya sendiri ditransfer kepada orang-orang yang terdekat yaitu istri dan atau anak- anaknya.

Menghadapi perlakuan yang tidak fair ini memang sulit. Secara natural istri A akan melawan atau membela diri (kecuali dia sendiri terjebak dalam pola masochism) dan ini justru akan semakin menumbuh suburkan dorongan abusive dari suaminya. Oleh sebab itu, di samping bantuan dari seorang profesional, istri A perlu ditolong untuk keluar dari sistem yang buruk itu. Ia harus menemukan strategi untuk tidak ikut menstimulir dorongan abusive dari suaminya. Suasana rumah tangga yang nyaman biasanya akan mengurangi dorongan-dorongan negatif tersebut, begitu juga "cara berkomunikasi" yang menyejukkan.

Jangan kecil hati, cobalah tips di atas dengan spirit ketergantungan pada belas kasihan dan pertolongan Tuhan.

Sumber :

Judul Buku: Buletin Parakaleo
Edisi : Juli - September 2001 Vol. VIII/ 3
Penulis : Pdt. Yakub B. Susabda
Penerbit : Dept. Konseling STTRII
Halaman : 1 - 3