BETA
Kesulitan Belajar dan Suasana Lingkungan
Sumber: artikel_c3i
Id Topik: 7585

Lingkungan hidup yang pertama-tama dan yang terutama memengaruhi, melatih, dan membiasakan anak adalah orang tuanya sendiri. Kegagalan sering dirasakan orang tua karena ada hal-hal yang kurang diperhatikan, padahal bisa menjadi sumber utama ke arah munculnya kesulitan-kesulitan belajar anak. Suasana hubungan antara orang tua dan anak acap kali menjadi sumber yang memengaruhi motivasi dan dorongan untuk berprestasi pada anak. Benturan nilai antara orang tua dengan anak bisa menimbulkan ketegangan yang berlarut-larut yang juga mengganggu konsentrasi belajar anak. Kecemasan akan kegagalan, yang mana kegagalan berarti mengecewakan atau tidak bisa memuaskan orang tua, yang berakibat tidak dicintai, juga dapat mengganggu sebagian dari aspek kepribadian dan dengan sendirinya mengganggu pula prestasi belajarnya. Harapan yang berlebihan dari orang tua juga bisa menjadi beban dan tekanan pada anak, dan berubah menjadi tuntutan yang disengaja atau tidak disengaja, disadari atau kurang disadari, terlalu berat bagi anak. Kemudian, ini bisa menimbulkan reaksi-reaksi drastis pada anak, antara lain dalam bentuk tingkah laku kompensasi dan bahkan tidak mau belajar atau tidak mau melanjutkan sekolah sama sekali (mogok sekolah, school refusal). Pengertian mengenai kondisi anak sebagaimana telah dijelaskan pada permulaan tulisan ini, sangat diperlukan orang tua. Pengertian orang tua juga tercermin dalam nilai sikap, dalam arti dan pentingnya pendidikan bagi anak agar hal ini berpengaruh juga terhadap anak. Kegiatan utama yang menyita sebagian besar dari kegiatan anak sehari-hari adalah belajar. Karena itu, kegiatan belajar harus menjadi kegiatan utama anak yang disetujui dan didukung oleh orang tua.

Penilaian mengenai anti pendidikan hendaknya tidak dinomorduakan dan harus dirasakan oleh anak sebagai tanggung jawab dan kewajiban dalam kehidupan. Acara atau tugas tertentu memang sulit dihindari, tentu kadang-kadang bisa menyisihkan acara pokok anak di rumah. Namun, hal itu tidak masalah asalkan tidak menjadi kebiasaan dan mengubah nilai atau arti pendidikannya. Seorang anak yang sedang tekun belajar dan mempersiapkan diri menghadapi ulangan, hendaknya tidak dihentikan untuk melakukan tugas lain, apalagi yang menyita waktu lama, kalau tidak betul-betul mutlak harus dilakukan.

Persaingan antara saudara (sibling rivalry) bisa berpengaruh positif atau negatif bagi anak. Persaingan yang sehat dan tetap dalam pengamatan orang tua, bisa terus dipertahankan agar semua anak terdorong untuk mencapai prestasi dan meraih hasil sebaik-baiknya. Sebaliknya, persaingan yang tidak sehat, apalagi dipengaruhi oleh orang tua, bisa menimbulkan keseganan belajar dan tidak berani menghadapi realitas yang tidak menyenangkan. Bahkan, dalam intensitas yang lebih mendalam, bisa menimbulkan kesulitan penyesuaian diri, pelarian diri, dan gejala atau gangguan fungsi kefaalan dalam tubuhnya. Kebijaksanaan orang tua sangat diperlukan. Bekal dan modal utama untuk menghadapi anak ialah pengakuan bahwa setiap anak mempunyai kekhususan tersendiri yang tetap bisa dibedakan dengan kakak atau adik kandungnya sendiri. Bahwa karena itu, sikap dan perlakuan pun harus disesuaikan dengan pribadi yang berbeda-beda. Ini tentu meliputi cara mendorong, membimbing, dan mengarahkan anak yang harus disesuaikan dengan keadaan khusus setiap anak.

Kesulitan Belajar dan Lingkungan Sekolah

Sekolah sebagai lembaga pendidikan sebenarnya juga sebagai unit sosial tersendiri, yang untuk jangka waktu cukup lama terjadi proses saling memengaruhi antara berbagai pihak yang ada di lingkungan sekolah, seperti antara anak yang satu dengan anak yang lain, antara anak (siswa) dengan guru, antara guru dengan Kepala Sekolah. Hubungan antara berbagai pihak yang terus-menerus terjalin, mudah menimbulkan ketegangan dan memengaruhi emosi maupun kepribadian dari mereka yang tersangkut. Seorang siswa bisa merasakan lingkungan sekolah sebagai lingkungan yang menekan karena merasa dirinya diremehkan, tidak diperhatikan dan dikucilkan. Misalnya, karena penampilan fisiknya atau karena status sosial ekonominya sangat berbeda. Dalam keadaan seperti ini lingkungan sekolah dirasakan sebagai lingkungan yang tidak menyenangkan. Setiap kali bangun pagi, timbul rasa sakit kepala atau mungkin mual-mual, bahkan beberapa anak ada yang terus-menerus muntah-muntah. Ini sebenarnya merupakan ungkapan dari keinginan menghindar dan tidak mau menghadapi.

Bantuan dari pihak orang tua yang bekerja sama dengan pihak sekolah sangat diperlukan agar tekanan yang dirasakan lambat laun berkurang. Seorang anak merasa dirinya dibedakan, ditekan ("diperlakukan sentimen") oleh guru karena kesalahpahaman yang pernah terjadi, sehingga mengganggu kelancaran hubungan antara anak dengan guru yang bersangkutan. Dalam hal seperti ini, peranan pembimbing (guru pembimbing, konselor) sangat besar untuk membantu mengatasi persoalan yang timbul. Kebebasan dan keterbukaan dari pihak siswa untuk menemui pembimbing harus dirasakan cukup dimiliki sehingga suatu persoalan bisa segera diatasi dan tidak berlarut-larut. Peranan orang tua juga besar, sekiranya orang tua cukup peka melihat perubahan tingkah laku dan sikap sehari-hari, dengan mencoba memancing adanya persoalan yang dialami oleh anak. Hubungan yang baik dan suasana keterbukaan, akan memudahkan anak berani mengungkapkan masalah yang dihadapi untuk dicari dan ditentukan upaya penyelesaian sebaik-baiknya.

Hal-hal yang formal dari pihak guru, yakni cara mengajar, tidak luput pula dari kemungkinan menjadi sumber timbulnya kesulitan belajar pada anak. Hal ini memang mudah terjadi karena pihak guru sendiri perlu melakukan introspeksi apakah cara mengajarnya sudah memerhatikan segi-segi didaktik metodik serta kekhususan pada kelompok anak/siswa yang bersangkutan, karena di dalamnya bukan saja ada prinsip perbedaan penerangan, tetapi juga ada perbedaan kelompok (kelas). Kerja sama antara berbagai pihak sangat diharapkan, khususnya antara pihak sekolah dengan orang tua, dalam menghadapi anak yang prestasi sekolahnya tidak mantap. Sebagai tempat yang setiap hari dikunjungi oleh anak/siswa, keadaan lingkungan yang meliputi sarana pendidikan dan fasilitas-fasilitasnya, besar pengaruhnya terhadap penilaian menyenangkan atau tidak menyenangkannya suatu lingkungan bagi anak. Lingkungan yang sempit, penerangan yang kurang baik, dan kebisingan, memengaruhi motivasi belajar anak. Dan, secara tidak langsung juga memengaruhi proses belajar anak di sekolah.

Dalam menangani masalah tingkah laku pada anak, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

  1. Dasar beda perorangan (individual differences), yakni dasar yang mengatakan bahwa tidak ada anak yang sama, sekalipun antar saudara kandung. Profil kepribadian yang berbeda-beda antara seorang anak dengan anak lain, meskipun ada ciri-ciri umum kepribadian sesuai dengan tahapan perkembangannya, menyebabkan adanya perbedaan dinamika perkembangan psikis kepribadiannya yang menimbulkan tingkah laku khusus (faktor psikogenik). Karena itu, kita perlu melakukan pendekatan yang berorientasi pada keadaan khusus anak (child centered approach). Menghadapi seorang anak berumur 12 tahun berbeda dengan anak berumur 16 tahun, atau anak laki satu-satunya. Demikian juga berbeda dalam menghadapi anak sulung, bungsu, tunggal, anak dengan kondisi fisik tertentu, dengan keadaan perkembangan kognitif serta lingkungan hidupnya yang berbeda. Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa sekali pun masalah tingkah lakunya sama (misalnya mencuri atau adiksi obat-obatan), tetapi sumber dan dinamika permasalahannya tidak sama. Oleh karena itu, penanganannya harus berbeda juga.

  2. Anak sebagai subjek. Anak sebagai pribadi harus diperlakukan sebagai subjek (bukan objek) yang sedang dalam proses berkembang. Sebagai subjek, anak mempunyai perangkat kebutuhan (misalnya dari A.H. Maslow) yang tidak semata-mata membutuhkan pertolongan untuk melangsungkan hidupnya, tetapi membutuhkan perlakuan dan bantuan untuk merasakan dirinya sebagai pribadi sesuai harkat dan martabat kemanusiaannya. Tidak diperlakukan semena-mena karena dianggap hanya jalinan antara otot dan jaringan semata. Sebagai subjek yang sedang berubah, karena hal itu bisa dipengaruhi arah perubahannya seperti yang diharapkan. Dalam hubungan ini tidak berlebihan adanya pernyataan yang mengatakan bahwa "tidak ada anak yang tidak bisa berubah" atau "anak yang pernah dimasukkan Lembaga Pemasyarakatan pasti tidak bisa berubah lagi". Sekalipun pernyataan seperti ini berorientasikan optimisme, dalam dunia pendidikan pernyataan ini agaknya berlebihan karena dalam kenyataannya ada gejala tingkah laku anak yang sulit atau tidak bisa diubah lagi. Namun, pernyataan seperti itu harus dipergunakan sebagai landasan pendekatan untuk menangani masalah tingkah laku anak. Harapan harus selalu ditumbuhkan agar kita tidak terjerumus pada sikap sebaliknya: "Apa lagi yang dapat dilakukan kalau keadaan anak memang sudah seperti itu?"

  3. Orientasi pada kasih sayang (love oriented technique). Sikap serta perlakuan tegas dan keras dalam dunia pendidikan dan dalam usaha mengubah tingkah laku anak, memang sering kali diperlukan. Sama halnya dengan teknik pujian dan hukuman untuk mengubah anak dan menumbuhkan pengertian baru. Namun, dasar kasih sayang harus diikutsertakan agar hak anak untuk memperoleh perlakuan sesuai dengan keadaannya (tanpa paksaan yang tidak atau kurang manusiawi) tetap diperhatikan.

    Memaksakan anak untuk menumbuhkan pengertian sebagai dasar timbulnya sesuatu tingkah laku akan sia-sia kalau dari pihak anak selalu merasa dipaksa. Ancaman, kekerasan, siksaan, paksaan dan macam-macam perlakuan keras dari luar mungkin bisa mengubah tingkah laku anak (antara lain karena takut disakiti, dipukul, diusir, dihukum) untuk sementara, tetapi hal itu acap kali malah menjadi sumber munculnya pikiran untuk melakukan sesuatu perbuatan yang tidak baik, tidak sesuai dengan lingkungan, dan wujud pelanggaran-pelanggaran sebagai balas dendam dari pemaksaan yang telah dialami. Orientasi pada kasih sayang, justru acap kali menyentuh pribadinya, karena ia dapat memahami dan percaya bahwa yang akan dan harus dilakukan adalah penting untuk masa depannya yang baik, cerah dan penuh pengharapan. Dasar kasih sayang sering kali perlu disertai dengan sikap memahami keadaan anak (acceptance), memahami mengapa ia melakukan sesuatu tingkah laku, dan mengajak anak menilai bersama perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan serta memikirkan cara dan jalan keluarnya.

  4. Teknik tidak langsung (nondirective technique). Dalam perkembangan dan pendidikan anak, ada dua hal penting yang dipakai sebagai mekanisme terjadinya perubahan tingkah laku. Pertama ialah instruksi. Yakni semua usaha yang dilakukan secara aktif dan langsung untuk menunjukkan apa yang boleh atau tidak boleh atau apa yang baik dan tidak baik dilakukan (dengan cara-cara seperti: supportive, suggestive, conditioning, reinforcement, dan lain-lain).

    Kedua ialah imitasi. Yakni usaha tidak langsung melalui proses peniruan yang berlangsung sedikit demi sedikit melalui proses identifikasi dan hal ini bisa berlangsung kalau terbina hubungan yang baik antara anak dan pribadi-pribadi yang dekat dalam kehidupan anak. Pendekatan tidak langsung mensyaratkan adanya tokoh yang pantas dan patut untuk ditiru oleh anak. Dalam usaha memengaruhi anak melalui hubungan dekat terus-menerus (relationship therapy), misalnya pada pengentasan anak (on probation, big brother/sister technique) perlu dipilih tokoh-tokoh yang tidak saja memahami dan mencintai anak, tetapi yang dalam kehidupan pribadinya menunjukkan adanya kematangan dan keterpaduan kepribadiannya.

    Apalagi jika tokoh yang dimaksud akan memengaruhi kehidupan anak secara tidak langsung karena ia dimaksudkan sebagai orang tua pengganti (substitute atau foster parents).

    Teknik tidak langsung juga dipergunakan dalam usaha agar anak mau mengungkapkan semua hal yang ada dalam pikiran anak, mengenai sebab-musabab melakukan sesuatu tindakan tidak baik, serta mengenai keinginan dan tujuan dari sesuatu tingkah laku yang diperlihatkan.

    Secara khusus dalam menghadapi anak yang tergolong remaja dan remaja dini yang sedang mengalami pertumbuhan kemampuan untuk berpikir kritis (critical sense) maka teknik-teknik tidak langsung akan lebih banyak manfaatnya.

    Terkait dengan teknik tidak langsung ini ialah perbaikan lingkungan hidup anak. Melalui usaha perbaikan lingkungan hidup, yang meliputi lingkungan fisik (ruangan, rumah) dan lingkungan keluarga dan sosial (pergaulan dan suasana kelompok) diharapkan akan memengaruhi suasana kehidupan psikis dan pribadinya. Keteraturan dalam tata ruang, kedisiplinan, dan kemantapan dalam kehidupan sehari-hari, sikap dan ungkapan emosi, serta ucapan-ucapan yang merupakan "kebudayaan" tersendiri dalam kehidupan, jelas berperan besar dalam kehidupan anak, apalagi jika lingkungan seperti ini dialami anak untuk jangka waktu cukup lama.

Diambil dan disunting dari:

Judul buku: Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga
Penulis: Prof. Dr. Singgih D. Gunarsa & Dra. Ny.Y.Singgih D. Gunarsa
Penerbit: PT BPK Gunung Mulia, Jakarta 1995
Halaman: 58 -- 68