BETA
Menemukan Sukacita Natal
Sumber: artikel_c3i
Id Topik: 3155

Syair salah satu lagu Natal berbunyi, "It`s the most wonderful time of the year" (Natal adalah saat yang terindah sepanjang tahun). Bagi orang Kristen, ungkapan ini seharusnya benar. Namun bagi beberapa orang, Natal adalah saat untuk mempertahankan hidup, depresi, dukacita, dan kesepian. Semua itu sering kali diperparah dengan keadaan keluarga yang terpecah belah dan meningkatnya dana yang harus dikeluarkan.

Di beberapa tempat di dunia ini, Natal telah menjadi sasaran yang empuk bagi para pengusaha dan para konsumen. Keceriaan Natal datang dengan serangan yang meremukkan. Antrian panjang terjadi pada pintu kasir-kasir toko. Orang-orang marah dan merengek saat hanya satu dari sepuluh loket yang buka. Tidak ada yang mau memberi tempat di halaman parkir dan orang berburu tempat parkir yang susah dicari, seperti serigala.

Desember adalah hari-hari yang penuh dengan tuntutan panjang dan puncaknya adalah menyanyikan lagu "Malam Kudus" dengan letih. Lelah karena paduan suara, perayaan-perayaan, belanja, perjamuan, keluarga dan perjalanan, hingga akhirnya kita tiba di "palungan Bethlehem" dengan letih lesu. Malam Natal akan melambungkan suara kita yang letih saat menyanyi, "Joy to the world, the Lord is come" (Hai dunia bersukalah, Rajamu telah datang). Lalu kita terburu-buru dari kebaktian di gereja untuk mendapatkan satu hadiah terakhir atau mengunjungi satu pesta Natal yang terakhir.

Itu semua segera berakhir. Kita kemudian menyimpan hiasan-hiasan Natal, membakar pembungkus-pembungkus, melepas pohon Natal, dan mengerjakan resolusi tahun baru kita. Kita terlalu sering melewatkan inti pentingnya. Kita seperti orang yang pergi ke pantai, namun tidak pernah melihat lautan. Pembajakan pada saat liburan adalah sangat nyata. Jika kita tidak menetapkan hati kita pada sukacita perayaan Natal yang sesungguhnya, kita akan mudah terperangkap dalam suasana yang tidak berarti dan tidak berguna. Ketika kita kehilangan pandangan akan arti dari Natal, masa-masa itu benar-benar tidak berguna.

Yesaya melihat perayaan keagamaan terpisah dari penyembahan yang benar. Orang-orang Israel senang dengan pesta-pesta dan festival-festival, namun mereka kehilangan pandangan mereka. Allah berbicara melalui Yesaya seperti angin yang berhembus, "Kalau kamu merayakan bulan baru dan sabat atau mengadakan pertemuan-pertemuan, Aku tidak tahan melihatnya, karena perayaanmu itu penuh kejahatan. Perayaan-perayaan bulan barumu dan pertemuan-pertemuanmu yang tetap, Aku benci melihatnya; semuanya itu menjadi beban bagi-Ku, Aku telah payah menanggungnya" (Yesaya 1:13-14). Anak-anak Israel mengubah hari kudus menjadi hari libur dan Tuhan diturunkan menjadi salah satu daftar tamu yang hadir. Jika saat ini Yesaya masih ada, dia dapat menawarkan kembali nubuatan yang sama tanpa mengubah satu kata pun.

Semangat yang benar dari Natal yang dirayakan oleh orang Kristen harus dibangun kembali dalam hati kita dan di rumah kita. Tidak ada yang hilang. Inti dari cerita kasih Allah masih tetap nyata. Kemuliaan itu masih ada untuk disaksikan oleh orang-orang yang mau bersaksi. Bagaimana kita dapat benar-benar mengalami sukacita Natal? Bagaimana kita dapat menjelaskan semangat Natal yang benar?

Sukacita Natal ada dalam semangat perdamaian. Natal harus memusatkan hati kita pada karya perdamaian Kristus. Paulus menuliskan kedatangan Kristus dengan istilah perdamaian. "Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus" (2Korintus 5:19). Berbagai perayaan Kristus harus merefleksikan inti tujuan kedatangan-Nya.

Hal utama yang memisahkan manusia dengan Allah adalah kepicikan dan keegoisan. Adalah sebuah tragedi jika perayaan Natal sering kali di dilatarbelakangi oleh motivasi untuk mengubah sikap kasar atau keletihan karena luka pada masa lalu.

Dalam semangat Kristus, sukacita yang kita tahu adalah ketika kita melakukan hak istimewa yang sama dengan yang Tuhan lakukan ketika Ia mengirimkan Putra Tunggal-Nya ke dunia, kita mendapatkan hak istimewa pengampunan dan perdamaian. Natal dapat menjadi pengingat, bahwa orang-orang yang kedinginan bisa mendapatkan tempat yang hangat bersama-sama dengan kita di sekitar pohon Natal andai saja kita mau menjadi lebih serupa lagi dengan Pribadi yang kita rayakan.

Sukacita Natal ada dalam semangat rekoneksi. Kabar baik harus diberitakan. Natal sekali lagi harus mendorong kita memberitakan kabar sukacita terbesar di dunia dan memberikan persekutuan yang sejati. Yesus menceritakan seorang wanita yang kehilangan uangnya yang sangat berharga. Wanita itu mencari ke seluruh penjuru rumahnya sampai uang itu ditemukan dan ketika uang yang berharga itu ditemukan kembali, ia memanggil tetangga-tetangganya dan teman-temannya sehingga mereka bersukacita bersama-sama. Dampaknya tak dapat dihindarkan. Kabar baik menyebabkan berkumpulnya orang-orang yang berada jauh maupun dekat dengan kita datang bersama-sama untuk merayakannya. Keluarga yang bertengkar pada saat Natal menunjukkan ketidakhormatan kepada Allah.

Keluarga yang tidak akur jarang menghasilkan sesuatu selain kebencian dan kepahitan yang lebih dalam lagi. Perayaan Natal seharusnya menyingkirkan keluhan yang membatasi sukacita kita, jika ingin benar-benar menghormati Kristus. Perayaan yang tepat dan membagikan kemuliaan karya Kristus sering kali akan dapat menyelesaikan perselisihan dan menyembuhkan hati yang terluka.

Semakin tua, saya semakin menghormati Natal dengan membaca cerita terbesar sepanjang masa pada pagi hari di hari Natal. Ada sesuatu yang sangat kuat dan suci ketika inti dari iman kita dibagikan secara turun-temurun.

Hubungan antara cucu dan kakek-nenek menciptakan kenangan bagi generasi yang akan datang. "Natal" dan "sendiri" adalah dua kata yang seharusnya tidak pernah dihubungkan. Sukacita pada masa Natal ada ketika kita berhubungan kembali dengan orang yang kita kasihi dan bahkan dengan mereka yang sudah lama tidak kita temui.

Sukacita Natal ada dalam semangat untuk tetap bersukacita. Lukas mengatakan bahwa kelahiran Kristus disertai dengan pujian bala tentara surga (Lukas 2:13-14). Kita harus melakukan yang berkenan bagi Tuhan jika ingin bergabung dengan bala tentara surga yang menaikkan pujian itu. Setiap orang percaya, dengan sadar harus berusaha menyingkirkan semua rintangan untuk menaikkan pujian.

Natal membuka kesempatan untuk menyingkirkan hati yang sedih dan murung. Harapan mencerahkan dan memutihkan semua yang tersentuh. Palungan Betlehem lebih dari sekadar batu ukur yang bersejarah; palungan Betlehem merupakan sebuah janji yang diberikan kepada semua orang percaya. Yesus adalah Karunia yang terus memberi. Orang Kristen dapat bersukacita untuk hal-hal yang abadi, meskipun kadang-kadang dalam keadaan yang sulit.

Sukacita Natal ada pada semangat kemurahan hati. Ayat Natal favorit saya adalah Yohanes 3:16, "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Kita perlu menegaskan kembali dasar yang suci yang mendukung tradisi membagikan hadiah pada saat Natal. Kita tidak boleh hanyut dalam anggaran belanja yang berlebihan dan kesombongan dalam mengadakan perayaan, melainkan kita harus belajar untuk bermurah hati dalam perbuatan dan semangat sebagai suatu perayaan yang benar-benar untuk Yesus. Ingatlah bahwa hadiah selalu menyentuh hati. Kebanyakan hadiah mudah menjadi rusak, digunakan, dan dilupakan, namun hati yang mengasihi dan memberi akan abadi.

Jika kita tidak memaknai Natal dengan arti dan pesannya yang mulia, Natal akan berlalu seperti festival penyembah berhala. Jika kita tidak benar-benar merayakan Kristus, cerita terbesar yang pernah ada akan hilang di tengah-tengah lonceng, anak panah, dan hiasan-hiasan yang kecil nilainya. Jadikan hari libur Anda hari yang suci. Tambahkan satu atau dua kursi di dekat meja Anda. Lepaskan dendam atau iri hati yang ada dalam diri Anda. Nyanyikan lagu-lagu Natal dengan sepenuh hati. Ceritakan cerita Natal dengan ucapan syukur dan perasaan kagum. Bungkuslah setiap hadiah dengan kasih. Anda adalah alasan bagi Yesus untuk datang ke dunia ini. Tidak seorang pun dapat merayakannya dengan lebih meriah lagi seperti yang Anda lakukan. (t/Ratri)