BETA
Mengapa Anakku Mudah Iri?
Sumber: telaga
Id Topik: 2338

Abstrak:

Anak egois bukanlah hanya satu-satunya alasan anak mudah iri. Ada beberapa faktor lain yang dapat menyuburkan hati yang iri, yaitu: orangtua tidak sengaja membedakan anak-anak, anak-anak lahir dengan tampilan fisik yang berbeda (contoh: cantik dan tidak menarik). Ajak anak untuk menerima kenyataan perbedaan itu kemudian menggali, menghargai dan mengembangkan potensinya.

Transkrip:

oleh Pdt. Dr. Paul Gunadi.

Kata kunci: Orangtua harus introspeksi diri, anak lahir tidak sama secara fisik dan kemampuan, dorong anak untuk berbagi agar fokusnya tidak hanya pada diri sendiri, ajak anak menghargai dan mengembangkan potensi dirinya

TELAGA 2019

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (TEgur Sapa GembaLA KeluarGA). Saya, Gunawan Santoso, dari Lembaga Bina Keluarga Kristen, akan berbincang-bincang dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling. Perbincangan kami kali ini tentang "Mengapa Anakku Mudah Iri ?". Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Iri itu perasaan tidak senang melihat orang lain itu berhasil atau sukses atau senang. Jadi dia tidak senang ketika orang lain senang, begitu Pak Paul. Dan itu tentu kita sebagai orangtua tidak menghendaki anak kita itu seperti itu. Tapi harus diakui kita pun sebagai orangtua ada perasaan itu juga, Pak Paul. Ini yang saya mau tanyakan, sejak kapan sebenarnya seseorang itu memunyai perasaan iri, Pak Paul ?

PG : Ternyata anak-anak itu sejak kecil sudah bisa iri. Ini memang sedikit membingungkan kita sebab kita sebetulnya berusaha untuk bersikap netral kepada anak, tidak mau membeda-bedakan tapi anak kita ini mudah iri. Nah, jadi kita mau membahas hal ini, mudah-mudahan bisa belajar satu dua hal untuk menolong anak agar tidak iri kepada orang lain.

GS : Iya. Itu sejak dia bisa berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula dia bisa iri begitu, Pak Paul ya ?

PG : Betul. Misalnya ia mulai umur 2 tahun sudah mulai kelihatan begitu; misalnya kakaknya mendapat sesuatu atau adiknya menerima sesuatu dan dia tidak, maka dia bisa langsung menunjukkan sikap tidak senang, dia bisa mau merampas barang itu, atau dia marah kepada mamanya atau papanya, jadi sekali lagi usia sedini itu pun anak sudah bisa menunjukkan reaksi iri dia tidak suka adiknya atau kakaknya mendapatkan sesuatu yang dia tidak mendapatkannya.

GS : Tapi orangtua yang tidak peka tidak merasakan bahwa itu adalah iri yang ditampakkan, dipikir hanya nakal saja, Pak Paul ?

PG : Betul. Biasanya kita ini beranggapan, "Ah, anak-anak tidak apa-apa, anak-anak" tapi justru saya kira ada baiknya kita memerhatikan reaksi-reaksi seperti ini karena kalau tidak ditangani reaksi ini akan terus berlanjut sampai dia nanti berusia remaja dan bahkan sampai mencapai usia dewasa.

GS : Karena bukankah ada iri yang bisa bersifat positif juga, Pak Paul, yang mendorong seseorang itu supaya maju. Tanpa perasaan iri itu maka dia tenang-tenang saja, dianggap dia yang paling baik. Tetapi dengan iri itu kalau kita ambil positifnya itu kadang-kadang bisa memotivasi seseorang lebih maju. Tapi yang sering terjadi lebih banyak negatifnya daripada positifnya itu tadi, Pak Paul.

PG : Seringkali iri itu membuat kita merasa tidak puas. Kita tidak puas berarti kita ini tidak bisa bersyukur. Akhirnya iri hati itu bukan saja memengaruhi relasi kita dengan sesama tapi juga dengan Tuhan. Sebab akhirnya itu kita seolah-olah merasa Tuhan itu kok tidak adil, membeda-bedakan kita, orang lain lebih diberikan berkat kenapa kita kurang; padahal Tuhan sudah memberi berkat berkelimpahan kepada kita. Jadi sebagai orangtua kita mesti awas kalau kita melihat anak kita menunjukkan sikap-sikap iri, ini mesti kita hadapi.

GS : Iya. Jadi sebagai orangtua apa yang bisa kita lakukan, Pak Paul ?

PG : Pertama kita tetap mesti introspeksi diri. Mungkin kita tidak dengan sengaja membeda-bedakan anak tapi secara tidak sengaja telah mengkomunikasikan kepadanya bahwa saudaranya lebih baik daripada dia. Tanpa kita sadari sebenarnya anak peka melihat sikap kita. Saya berikan contoh: sewaktu ia melakukan sesuatu yang baik kita hanya berkata, "Terima kasih" namun tatkala adiknya melakukan sesuatu yang baik kita berkata, "Kamu sungguh anak yang baik, terima kasih ya sayang". Mungkin kita tidak berniat membedakan reaksi tetapi karena memang terdengar berbeda maka anak menyimpulkan bahwa adiknya lebih baik dan karena lebih baik maka adiknya pun lebih disayang daripada dirinya. Contoh yang lain yang kerap terjadi adalah: pemberian hadiah, Pak Gunawan. Misalnya ini, kita beranggapan karena anak memunyai kesukaan yang lain-lain maka sebaiknya kita memberikan hadiah yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Saat anak membuka dan melihat hadiahnya ternyata ia tidak suka lalu marah-marah kepada kita dan menuduh kita tidak menyayanginya dan lebih menyayangi kakaknya. Sudah tentu kita bingung mengapa anak bereaksi seperti itu. Bisa jadi walau kategori mainannya sesuai dengan kesukaannya tapi bentuknya atau modelnya tidak dia sukai. Sewaktu ia melihat kakaknya senang menerima hadiahnya karena kebetulan sesuai baik jenis maupun bentuk mainannya, timbullah rasa iri. Nah, sesunggunya rasa iri muncul lebih dikarenakan dia tidak senang sedangkan kakaknya senang. Dengan kata lain, ia iri akan kesenangan yang dinikmati kakaknya; bukan karena mainannya itu saja. Nah, kita mesti menyadari bahwa hal-hal seperti ini dapat menimbulkan iri hati. Jadi kalau kita menyadarinya yang bisa kita lakukan adalah kita bertanya kepada dia, apa yang membuat dia tidak menyukai mainan itu. Jika dia mengatakan bentuknya atau modelnya kita dapat menjanjikan bahwa kita akan mengajaknya ke toko mainan dan menukar mainannya itu. Kepekaan dan kesediaan kita untuk memberikan sesuatu seperti yang diharapkannya membuatnya tahu bahwa dia dikasihi. Dan ini penting buat anak dari kecil untuk menyadari dan menerima dengan jelas bahwa orang tua benar-benar mengasihinya.

GS : Iya. Kalau masa kecil biasanya iri itu ditujukan pada saudara kandungnya, jarang ditujukan kepada orangtuanya atau orang lain. Ini kalau beda umurnya terlalu jauh rasa iri itu juga agak berkurang dibandingkan dengan kalau jaraknya cukup dekat, hampir sebaya, Pak Paul ?

PG : Betul sekali. Dan memang bukan hanya jarak yang lebih pendek, yang lebih mudah menimbulkan iri hati tapi juga kesamaan jenis kelamin, Pak Gunawan. Jadi anak laki yang adiknya laki-laki, anak perempuan dengan adiknya perempuan kalau usianya apalagi tidak terpaut jauh biasanya iri hati itu lebih mudah muncul di antara mereka karena mereka lebih cepat sekali membandingkan dirinya. Karena memang sebanding usianya tidak terpaut jauh dan jenis kelaminnya sama.

GS : Bagaimana jika anak kembar, bukankah usianya sama, Pak Paul, jenis kelaminnya pun misalnya sama ?

PG : Kembar agak lumayan. Karena begini, Pak Gunawan, kebanyakan orangtua yang memiliki anak kembar biasanya itu apa-apa akan membelikan barang yang persis sama. Akhirnya kemungkinan iri hati itu lebih kecil. Dan wajahnya hampir sama, bentuk tubuhnya hampir sama, akhirnya orangtua kebanyakan membeli baju yang sama, permainan yang sama, hampir semuanya sama. Jadi kemungkinan iri hati diperkecil. Yang lebih rentan adalah kakak beradik yang tidak terpaut jauh dan kebetulan jenis kelaminnya sama.

GS : Tapi rupa-rupanya memang iri hati di antara anak-anak banyak disebabkan oleh kesalahan orangtua di dalam mendidik, Pak Paul. Kalau kita melihat contoh di Alkitab seperti Yusuf dan kakak-kakaknya, lalu Yakub dan Esau itu ‘kan karena orangtuanya, Pak Paul ?

PG : Betul. Kadang-kadang orangtua melakukan itu tidak sengaja akhirnya menyuburkan iri hati itu. Saya tidak berkata orangtua yang menyebabkan, tapi akhirnya menyuburkan iri hati itu muncul dari diri si anak itu. Tapi sudah tentu memang ada orangtua yang jelas-jelas, Pak Gunawan, membedakan anak. Ada. Kita tidak bisa pungkiri, ada anak yang difavoritkan karena misalnya dari tiga bersaudara dia yang paling ganteng, yang paling tinggi, sudah begitu di sekolah prestasi belajarnya paling bagus. Nah, jadi ada anak-anak yang akhirnya jelas-jelas ditinggikan dari anak-anak yang lainnya. Nah, ini tidak bisa tidak akan memancing rasa iri dari adik atau kakaknya yang lain.

GS : Iya. Jadi itu kalau keluarga atau anak-anak itu terdiri lebih dari dua orang, Pak Paul, seperti keluarganya Yakub, mereka bisa membentuk kelompok-kelompok begitu, Pak Paul.

PG : Betul. Sebab akhirnya mereka itu merasa kelompok yang dirugikan, diabaikan, tidak diterima, dinomor duakan maka mereka jadinya memiliki satu kesamaan. Dan dalam kasusnya anak-anak Yakub bahwa dikata mereka semua sebetulnya sudah tidak suka baik dengan Yusuf maupun adiknya, Benyamin. Karena memang jelas-jelas Yakub sangat mengutamakan ibu mereka. Jadi memang jelas 2 anak itu sangat mungkin, Benyamin saat itu masih kecil, jadi yang lebih menjadi sasaran kemarahan kakaknya adalah Yusuf, sebab dia memang diberikan baju yang baik. Jadi tidak bisa tidak mereka melihat, "Kami tidak disayang seperti Yusuf disayang oleh ayah".

GS : Iya. Dan Pak Paul untuk alasan diberikan yang baik dibandingkan dengan yang lain itu, orangtua ‘kan memiliki alasan sendiri dan anak-anak atau saudara-saudaranya yang iri itu punya alasan juga. Jadi katakan tadi yang Pak Paul usulkan anak yang iri itu tidak cocok dengan mainan apapun, dia selalu punya alasan untuk menolak pemberian orangtuanya, Pak Paul.

PG : Bisa saja. Ada anak-anak yang memang pokoknya mau tolak saja tidak mau begitu. Ada juga memang anak yang memanipulasi orangtuanya, Pak Gunawan jadi dia sengaja menolak, marah, membuat orangtuanya susah, ada juga begitu. Tapi intinya adalah sumbernya iri hati. Anak merasa orangtuanya itu lebih menyayangi kakak atau adiknya daripada dirinya.

GS : Jadi kalau kita sudah melakukan hal yang seadil-adilnya menurut pandangan kita sebagai orangtua tapi masih terjadi iri hati seperti itu ini bagaimana, Pak Paul ?

PG : Kemungkinan yang kedua ini, Pak Gunawan, anak lahir tidak sama. Ini berarti secara fisik dan kebisaan anak pun tidak sama; satu anak dengan yang lainnya tidak sama. Masalahnya adalah ketidaksamaan seringkali berkonotasi tidak sama baik. Misalkan, wajah berbeda tidak hanya berarti wajah berlainan tetapi juga wajah yang tidak sama gantengnya, tidak sama cantiknya begitu. Talenta yang berbeda acap kali berarti cerdas atau kurang cerdas, bagus atau buruk maka singkat kata perbedaan antara anak adalah ladang subur munculnya iri hati. Nah, sebagai orangtua kita mesti menyadari hal ini. Pada akhirnya tanggapan atau penghargaan orang terhadap dirinya baik fisik maupun kebisaan sangat menentukan seberapa baik ia menilai dirinya. Jika adiknya memunyai nilai fisik dan kebisaan yang dihargai oleh lingkungan besar kemungkinan ini akan membuatnya iri. Misalnya dia bisa dalam bidang-bidang bersifat seni, kakaknya bisa sekali dalam hal-hal yang bersifat matematika, fisika atau apa kita harus mengakui kenyataan bahwa anak-anak yang kuat dalam bidang sains seringkali lebih dihargai dan itu tidak bisa sangkal. Kita pernah sekolah dulu jadi kita masih ingat, kalau ada teman yang memang pandai sekali dalam bidang-bidang sains, sangat menerima penghargaan; baik dari guru maupun dari sesama teman. Tapi teman-teman atau kita yang memunyai talenta atau kebiasaan dalam bidang-bidang seperti misalkan seni biasanya dianggap biasa-biasa saja. Kalau kebetulan itu adalah adik atau kakak kita, kita akan merasa sekali dibandingkan. Jadi sebagai orangtua jangan kita berkata kepadanya, "Oh penilaian orang tidak tepat dan bahwa semua talenta sama. Tidak ada yang lebih baik satu dari yang lainnya"; perkataan ini tidak sesuai kenyataan sebab memang penampilan dan kebisaan tertentu lebih dihargai daripada penampilan dan kebisaan lainnya. Memang tidak sama. Anak yang cantik akan dikerumuni oleh orang-orang atau teman-temannya, anak yang kurang cantik biasanya tidak dikerumuni oleh teman-temannya. Jadi kita tidak bisa menyangkali perbedaan memang seringkali menimbulkan reaksi atau respons dari lingkungan yang berbeda. Upaya kita menghiburnya dengan berkata, "Semua sama" akan membuatnya merasa kita tidak peka dengan kenyataan dan tidak hirau dengan penderitaannya. Nah, maka seyogyanya akuilah bahwa memang penampilan dan kebiasaan tertentu lebih mendapat penghargaan daripada yang lainnya. Utarakanlah pengertian kita terhadap kesedihan dan mungkin pula ketakutannya, setelah itu baru kita yakinkan bahwa kita mengasihinya sama seperti kita mengasihi kakak atau adiknya dan ajaklah dia untuk bersukacita bersama adiknya; merayakan hal baik yang boleh terjadi dalam hidup adiknya. Tindakan ini memang perlu, Pak Gunawan, sebab kita tidak mau menyangkal kenyataan hidup dan kita pun tidak ingin jika ia menyangkal kenyataan hidup. Kita mau mendidiknya untuk menerima "kekurangan diri" dan merayakan "kelebihan orang"; jadi singkat kata tugas kita adalah mendorongnya menerima diri apa adanya, akui dengan jujur bahwa tidak mudah untuk bersukacita atas keberhasilan atau kemenangan orang atau kelebihan orang yang tidak kita miliki. Namun selalu tekankan bahwa Tuhan memunyai rencana tertentu atas setiap diri kita. Yang ganteng, yang cerdas matematikanya atau apa, memunyai rencana Tuhan atas hidupnya. Kita juga memunyai rencana Tuhan atas hidup kita.

GS : Iya. Mungkin kalau kita mengajak anak yang iri tadi, Pak Paul, untuk bersukacita dengan keberhasilan atau kelebihan dari saudaranya mungkin ini agak sulit juga kita lakukan. Tapi minimal kita bisa memberikan dorongan kepadanya untuk menerima kenyataan itu. Dan kita tunjukkan bahwa orang yang memunyai kelebihan juga memiliki tanggung jawab yang besar, hanya itu Pak Paul. Tapi kalau dia diminta untuk bersukacita atas kelebihan memang agak sulit, Pak Paul.

PG : Sulit sekali, Pak Gunawan. Kita coba bayangkan skenario seperti ini, Pak Gunawan. Misalnya anak perempuan, keduanya anak perempuan. Si adik itu cantik sekali tapi si kakak tidak ya, biasa saja. Sudah remaja, Pak Gunawan, setiap malam teman-teman si adik itu datang ke rumah dan kalau mereka mencari, mencari siapa ? Si adik. Tok, tok, tok,... pintu terbuka, "Cari siapa?" Si adik. Si kakak hanya bisa ‘gigit jari’ melihat teman-teman adiknya begitu banyak yang datang, sedangkan tidak ada satu pun teman pria yang cari dia. Itu benar-benar berat, Pak Gunawan. Berat sekali. Nah, ini penting sebagai orangtua kita mengakui tidak gampang memang. Kita bisa katakan, "Kalau saya jadi kamu, saya akan merasakan yang sama. Saya akan sedih dan saya akan bertanya mengapa wajah saya tidak seperti adik saya? Mengapa adik saya yang dikaruniakan begitu banyak oleh Tuhan, mengapa saya tidak ?’"; memang berat sekali. Maka, tadi Pak Gunawan bilang, betul, bersukacita untuk kelebihan adiknya disini memang berat sekali. Kita juga bisa mengatakan "Setiap kelebihan memunyai tanggung jawab masing-masing". Kelebihan misalnya penampilan fisik yang begitu baik, nanti ada tanggungjawab yang berat juga; bagaimana bisa menjaga diri, memilih pasangan yang tepat sebab begitu banyak orang yang menyukainya. Nah, sedangkan yang biasa-biasa saja tidak terlalu sulit dalam hal memilih pasangan hidup. Jadi mungkin hal seperti itu yang bisa kita sampaikan kepada anak kita.

GS : Iya. Hal yang ketiga yang perlu kita lakukan apa, Pak Paul ?

PG : Kita mesti menyadari bahwa ada anak yang egois sehingga selalu menuntut perhatian penuh dari kita. Nah, anak-anak yang seperti ini tidak bisa tidak akan mudah iri. Anak yang egois ini, Pak Gunawan, tidak dapat dan tidak rela berbagi perhatian dengan orang lain. Itu sebab iri hati mudah sekali timbul dalam hatinya. Apakah yang mesti dia lakukan bila inilah penyebab iri hatinya? Sudah tentu kita tidak suka melihat sifat ini dan besar kemungkinan sifat seperti ini membuat kita marah; kita tidak suka anak kita itu egois. Namun justru inilah yang harus kita waspadai. Kemarahan kita kepadanya semakin membuatnya merasa diri jahat atau jelek. Dan ini akan memperburuk iri hati pada dirinya. Baginya kemarahan kita adalah pertanda bahwa kita tidak menyukainya dan ingin membuangnya. Mungkin kita bertujuan baik, tapi kemarahan dan penghukuman akan makin membuatnya merasa diri jelek dan jahat. Dan sebagai akibatnya, dia makin iri dan makin membenci saudaranya yang dinilai lebih baik daripada dirinya. Jadi saran saya, sebaiknya kita berbicara kepadanya secara pribadi. Kita katakan bahwa kita ingin mengasihinya namun kita prihatin akan tindakannya yang mementingkan diri sendiri. Ajaklah dia untuk menjadikan ini proyek dalam hidupnya, yaitu proyek mementingkan orang lain. Doronglah dia untuk berbagi supaya fokus hidupnya beralih dari dirinya kepada orang lain. Akhirnya dia itu tidak memikirkan kepentingan diri dia sendiri.

GS : Nah, orang yang egois atau anak ini yang iri apakah otomatis dia menjadi anak yang egois, Pak Paul ?

PG : Memang sebetulnya tidak mesti, Pak Gunawan. Jadi anak-anak yang iri karena memang dia merasa dan kenyataannya dia itu tidak sama dan tidak memunyai apa yang dimiliki oleh adik atau kakaknya. Jadi contoh yang sebelumnya kita bahas ini. Tapi memang anak-anak yang egois hampir dapat dipastikan semuanya iri. Kenapa? Sebab anak-anak egois harus selalu mendapatkan yang terbaik, yang paling utama yaitu tidak bisa mendapatkan yang nomor dua atau diperlakukan sebagai kelas dua; tidak bisa dia harus selalu yang nomor satu. Maka begitu melihat ada orang yang mendapatkan sesuatu yang dianggapnya lebih dari dia, maka dia tidak suka, dia tidak senang sekali. Itu adalah bentuk iri hati.

GS : Iya. Untuk menangani hal ini, Pak Paul, bapak tadi katakan kita harus berbicara secara pribadi dengan anak ini. Dan kita mengatakan bahwa kita mengasihinya. Tapi ini bukan sesuatu yang mudah. Mungkin mudah untuk dikatakan, tapi pada waktu kita hidup sehari-hari, kalau anak itu tidak merasakan bahwa kita mengasihi ‘kan makin parah anak ini, Pak Paul ?

PG : Iya, memang tidak mudah, Pak Gunawan. Begini, nomor satu reaksi kita mesti kita jaga itu tidak mudah sebab kalau kita ini kebetulan orang yang tidak egois, kita kebetulan justru menekankan pada, "Ayo menolong orang ! Ayo berbagi dengan orang ! Ayo murah hati" lalu lihat anak kita egois maka reaksi kita biasanya adalah marah. Jadi begitu melihat anak kita egois maka kita langsung marah. Jadi penting untuk kita bisa tenang berbicara dengannya dan berkata, "Ini memang menimbulkan keprihatinan karena ini bisa jadi masalah dalam hidupnya, tapi kita mau dia tahu bahwa kita mengasihinya tetap sama". Jadi penting reaksi kita bukan reaksi yang marah dan negatif. Karena semakin seperti itu, apalagi kalau kita sering memaki-maki dia, mengatai dia, "Memang kamu anak egois. Memikirkan diri sendiri" maka makin dia merasa diri jelek dan terbuang, maka makin dia egois.

GS : Jadi paling tidak orangtua itu bisa mengurangi kemarahannya terhadap anak yang iri hati begitu, Pak Paul. Walaupun menunjukkan kasih merupakan suatu langkah yang lain yang memang membutuhkan perjuangan tersendiri bagi orangtua yang responsnya biasanya marah. Apakah ada cara yang lain, Pak Paul ?

PG : Yang terakhir adalah kita harus mengajak anak untuk menghargai dan mengembangkan potensi pada dirinya. Inilah obat iri hati yang paling mujarab. Iri hati ditimbulkan oleh mata yang berfokus kepada orang lain, bukan diri sendiri. Jadi doronglah anak untuk mengembangkan apa yang dimilikinya, bukan memimpikan apa yang tidak dimilikinya. Makin dapat dia melihat kegunaan potensi yang ada pada dirinya, makin besar penghargaannya atas karunia yang dimilikinya. Jadi kita mencoba terus mendorong anak melihat apa yang menjadi potensi pada dirinya. Dorong dia untuk mengembangkannya sehingga fokusnya tidak lagi pada orang lain, pada apa yang orang lain miliki tapi perlahan-lahan fokusnya beralih kepada dirinya; "Oh, saya punya kebisaan ini". Apalagi dia melihat kebisaannya ini berguna dan bisa dipakai oleh dia yang bisa membawa kegunaan bagi dirinya. Jadi kita coba tolong anak kita untuk melihat kebisaan pada dirinya dan mengembangkannya.

GS : Dan memang yang paling penting saya lihat disini juga adalah teladan orangtua. Jadi kita mengatakan kepada anak ini supaya jangan iri terhadap saudaranya, tetapi kalau orangtua menampilkan bahwa dia iri terhadap keberhasilan kakak-kakaknya sendiri, begitu itu pun juga akan dinilai oleh anak ini.

PG : Betul. Orangtua berperan sangat besar sekali, Pak Gunawan. Kita tidak bisa berkata pada anak kita "Jangan iri", tetapi kita terus sering membicarakan orang ‘kanan-kiri’; "Si A punya ini, si A sombong, kita memang orang tidak punya. Si B begini" hal ini akan diserap oleh anak. Jadi akhirnya anak bertumbuh besar dengan sikap tidak puas dengan apa yang dimilikinya dan selalu memimpikan apa yang orang punya.

GS : Kita harus belajar lebih banyak bersyukur di depan anak-anak ini supaya paling tidak bisa menunjukkan bahwa sifat iri hati ini bukan sesuatu yang positif, banyak negatifnya. Dan ini sesuatu yang sulit kalau kita tangani sendiri. Apakah ada ayat firman Tuhan yang mendasarinya, Pak Paul ?

PG : Amsal 12:27 mengingatkan "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga". Orang yang rajin adalah orang yang terus menggali dan mengembangkan dirinya. Nah, orang seperti inilah yang akan memeroleh kepuasan, tapi orang yang malas dalam hal ini adalah orang yang iri jadi memikirkan buruan yang di luar dirinya akhirnya tidak pernah menangkap itu. Tapi orang rajin akan melihat ke dalam, melihat apa yang bisa dikerjakannya itu, coba dia gali dan coba dikembangkan, maka orang ini akan memeroleh kepuasan dan tidak mudah dililit dengan iri hati.

GS : Iya. Pak Paul, kalau masa kanak-kanak itu memunyai iri hati seperti itu dan sebagai orangtua kita sudah berusaha membantu anak ini supaya tidak iri. Namun kalau sampai tidak terselesaikan, Pak Paul, apa akibatnya ?

PG : Sudah tentu nomor satu yang paling dirugikan adalah diri sendiri. Orang yang iri sebetulnya dia menghancurkan dirinya; tidak pernah puas, tidak pernah bersyukur, selalu melihat apa yang kurang. Dia akan sengsara. Yang kedua adalah dia akan membuat orang yang dekat dengannya sengsara juga, karena dia akan mengeluh terus, dia akan menuntut terus. Maka akhirnya seringkali orang akan menjauh dari dia, karena tidak tahan. Dia akan menuntut sana sini. Kebanyakan orang akan menjauh darinya. Berarti dia semakin sendiri, semakin sengsara. Jadi sekali lagi iri hati itu merugikan nomor satu yaitu diri sendiri.

GS : Terima kasih, Pak Paul, untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian, kami mengucapkan terima kasih telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Pdt. Dr. Paul Gunadi dalam acara TELAGA (TEgur sapa GembaLA KeluarGA). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Mengapa Anakku Mudah Iri ?". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Atau Anda juga dapat menggunakan e-mail ke alamat telaga@telaga.org. Kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan, serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhir kata dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa dalam acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan:

dpo. Pdt. Dr. Paul Gunadi

Salah satu kebingungan kita sebagai orangtua adalah melihat anak mudah iri terhadap orang, termasuk saudaranya sendiri. Kita bingung sebab kita telah berusaha untuk tidak membeda-bedakan anak, namun, ternyata anak tetap saja mudah iri. Mengapa demikian? Berikut akan dipaparkan beberapa masukan untuk menghadapi masalah iri hati ini.

  1. Kita tetap mesti introspeksi diri. Mungkin kita tidak dengan sengaja membeda-bedakan anak tetapi secara tidak sengaja kita telah mengkomunikasikan kepadanya bahwa saudaranya lebih baik daripadanya. Tanpa kita sadari sebenarnya anak peka melihat sikap kita. Sebagai contoh, sewaktu ia melakukan sesuatu yang baik, kita hanya berkata, "Terima kasih." Namun, tatkala adiknya melakukan sesuatu yang baik, kita berkata, "Kamu sungguh anak yang baik. Terima kasih ya, sayang." Mungkin kita tidak berniat membedakan reaksi tetapi karena memang terdengar berbeda, maka anak menyimpulkan bahwa adiknya lebih baik dan karena lebih baik, maka ia pun lebih disayang daripada dirinya. Contoh lain yang kerap terjadi adalah pemberian hadiah. Kita beranggapan, karena anak memunyai kesukaan yang lain-lain, maka sebaiknya kita membelikan hadiah yang sesuai dengan kesukaan masing-masing. Setelah anak membuka dan melihat hadiahnya, ternyata ia tidak suka dan malah marah kepada kita. Ia menuduh kita tidak menyayanginya dan lebih menyayangi kakaknya. Sudah tentu kita bingung; mengapakah reaksinya seperti itu. Sewaktu ia melihat kakaknya senang menerima hadiahnya karena kebetulan sesuai, baik jenis maupun bentuk mainannya, timbullah rasa iri. Sesungguhnya rasa irinya muncul lebih dikarenakan ia tidak senang, sedang kakaknya senang. Dengan kata lain, ia iri akan kesenangan yang dinikmati kakaknya, bukan karena mainannya itu saja. Nah, kita mesti sadari bahwa hal-hal seperti ini dapat menimbulkan iri hati. Kepekaan dan kesediaan kita untuk memberikan sesuatu seperti yang diharapkannya membuatnya tahu bahwa ia dikasihi.
  2. Anak lahir tidak sama dan ini berarti secara fisik dan kebisaan anak pun tidak sama. Masalahnya adalah, ketidaksamaan sering kali berkonotasi tidak sama baik. Misalkan, wajah berbeda tidak hanya berarti wajah berlainan tetapi juga wajah yang tidak sama tampan dan cantiknya. Talenta yang berbeda acap kali juga berarti cerdas-kurang cerdas dan bagus-buruk. Singkat kata, perbedaan antara anak adalah ladang subur munculnya iri hati. Sebagai orangtua kita mesti menyadari hal ini. Pada akhirnya tanggapan atau penghargaan orang terhadap dirinya—baik fisik maupun kebisaan—sangat menentukan seberapa baik ia menilai dirinya. Nah, jika adiknya memunyai penampilan fisik dan kebisaan yang dihargai oleh lingkungan, besar kemungkinan ini akan membuatnya iri. Upaya kita menghiburnya dengan mengatakan bahwa semua sama, malah membuatnya merasa kita tidak peka dengan kenyataan dan tidak hirau dengan penderitaannya. Seyogianya akuilah bahwa memang penampilan dan kebisaan tertentu lebih mendapat penghargaan ketimbang yang lainnya. Utarakanlah pengertian kita terhadap kesedihan dan mungkin pula ketakutannya. Setelah itu barulah kita yakinkan bahwa kita mengasihinya sama seperti kita mengasihi adiknya. Dan, ajaklah dia untuk bersukacita bersama adiknya, merayakan hal baik yang boleh terjadi dalam hidup adiknya. Tindakan ini perlu sebab kita tidak mau menyangkal kenyataan hidup dan kita pun tidak ingin ia menyangkal kenyataan hidup. Kita mau mendidiknya untuk menerima "kekurangan" diri dan merayakan "kelebihan" orang. Singkat kata, tugas kita adalah mendorongnya menerima diri apa adanya. Akui dengan jujur bahwa tidak mudah untuk bersukacita atas kemenangan orang lain. Namun selalu tekankan bahwa Tuhan memunyai rencana tertentu atas setiap diri kita.
  3. Kita mesti menyadari bahwa ada anak yang egois sehingga selalu menuntut perhatian penuh dari kita. Anak yang egois tidak dapat dan tidak rela berbagi perhatian dengan orang lain; itu sebab iri hati mudah sekali timbul dalam hatinya. Apakah yang mesti dilakukan bila inilah penyebab iri hatinya. Sudah tentu kita tidak suka melihat sifat ini dan besar kemungkinan sifat seperti ini membuat kita marah. Namun, justru inilah yang harus kita waspadai. Kemarahan kita kepadanya makin membuatnya merasa diri jahat atau jelek dan ini akan memperburuk iri hati pada dirinya. Baginya, kemarahan kita adalah pertanda bahwa kita tidak menyukainya dan ingin membuangnya. Mungkin kita bertujuan baik—menghilangkan iri hati—tetapi kemarahan dan penghukuman akan makin membuatnya merasa diri jelek dan jahat. Sebagai akibat, ia makin iri dan membenci saudaranya yang dinilainya lebih baik daripada dirinya. Sebaiknya kita berbicara kepadanya secara pribadi. Katakan bahwa kita mengasihinya namun kita prihatin akan tindakannya yang mementingkan diri sendiri. Ajaklah dia untuk menjadikan ini proyek dalam hidupnya yaitu proyek untuk mementingkan orang lain. Doronglah dia untuk berbagi supaya fokus hidupnya beralih ke orang lain, tidak hanya dirinya sendiri.
  4. Kita harus mengajak anak untuk menghargai dan mengembangkan potensi pada dirinya. Inilah obat iri hati yang paling mujarab. Iri hati ditimbulkan oleh mata yang berfokus pada orang lain bukan diri sendiri. Jadi, doronglah anak untuk mengembangkan apa yang dimilikinya, bukan memimpikan apa yang tidak dimilikinya. Makin dapat ia melihat kegunaan potensi yang ada pada dirinya, makin besar penghargaannya atas karunia yang dimilikinya. Amsal 12:27 mengingatkan, "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga." Orang yang rajin adalah orang yang terus menggali dan mengembangkan dirinya; orang seperti ini akan memperoleh kepuasan.

Questions: