BETA
Media Sosial dan Kesepian
Sumber: telaga
Id Topik: 2207

Abstrak:

Memiliki sekian banyak akun media sosial dan ribuan teman di dunia maya tidak menjamin orang merasa bahagia. Menurut penelitian, justru orang-orang yang terlalu sering bermedia sosial sesungguhnya adalah pribadi yang kesepian. Saatnya kita mawas diri terhadap ancaman ini.

Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) bekerja sama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya Yosie, akan berbincang-bincang dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, M.K. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini adalah tentang "MEDIA SOSIAL DAN KESEPIAN". Kami percaya acara ini akan bermanfaat bagi kita sekalian dan kami mengucapkan selamat mengikuti.

Y : Pak Sindu, media sosial begitu marak ya akhir-akhir ini seakan-akan memberi kita banyak keuntungan, tidak perlu mengeluarkan banyak usaha kita gampang terhubung satu dengan yang lain.

SK : Iya, betul Bu Yosie. Sekarang ini orang mudah ketemu dengan teman lamanya. Ketemu teman SMA, teman SMP, teman SD, bahkan teman TK yang sudah tersebar bahkan ada di negara-negara yang kita tidak terbayang untuk bisa kesana karena jauh dan biayanya, tapi bisa ketemu gara-gara media sosial. Akhirnya muncul juga, tidak heran satu orang bisa punya banyak akun media sosial. Bukan hanya WhatsApp, Line, Facebook, tapi juga Instagram dan banyak yang lain. Tetapi memang di satu sisi sejalan dengan topik kita saat ini, rupanya memang ada kajian menarik, ada satu studi lapangan yang dilakukan oleh para ahli dan menemukan bahwa ternyata media sosial justru bisa membuat kita semakin merasa kesepian.

Y : Kok ironis ya, Pak ? Maksudnya bagaimana, bapak bisa menjelaskan lebih lanjut ?

SK : Dari studi lapangan ini ditemukan bahwa kalau kita menghabiskan lebih dari dua jam per hari untuk bermedia sosial justru membuat peluang merasa terisolasi atau merasa terpisah dari orang lain itu dua kali lebih besar dan kita merasa semakin kesepian.

Y : Padahal di media sosial kita punya banyak teman lho, Pak. Itu terhubung terus, Pak.

SK : Betul. Kalau dalam satu hari kita memakai media sosial lebih dari dua jam, rasa kesepiannya muncul dua kali lebih besar.

Y : Lantas bagaimana, Pak ?

SK : Studi lapangan ini dilakukan tahun 2014 oleh Universitas Pittsburgh di Amerika Serikat. Studi ini menjangkau 1.787 orang yang berusia dalam rentang 19-30 tahun dan orang-orang ini menggunakan di antaranya 11 situs media sosial yang paling populer, yaitu Facebook, Youtube, Twitter, Google Plus , Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine dan Linkedln.

Y : Apa yang jadi penemuan dari studi lapangan ini, Pak ?

SK : Ditemukan bahwa orang yang mengunjungi media sosial lebih dari 58 kali seminggu condong untuk tiga kali lebih mungkin untuk merasa kesepian daripada orang yang menggunakan situs di bawah 9 kali dalam satu minggu.

Y : Jadi, dengan kata lain semakin kita aktif di media sosial sebetulnya semakin mungkin kita merasa kesepian ya, Pak ?

SK : Iya. Ini memang cukup mengagetkan ya, Bu Yosie.

Y : Iya, ironis ya, Pak.

SL : Kalau kita membuka situs media sosial 9 kali dalam seminggu bahkan di bawah 9 kali dalam seminggu, kita masih cukup aman.

Y : Cukup sehat begitu ya.

SK : Tapi kalau sudah lebih dari 58 kali dalam seminggu, kita klik klik buka media sosial, kita 3 kali lebih mungkin merasa kesepian. Wah, itu angka pelipatgandaan yang besar.

Y : Betul, Pak.

SK : Jadi, memang sebelumnya sudah ada dugaan para ahli bahwa media sosial memberi sumbangsih atau memberi kontribusi kenaikan fomo, singkatan dari bahasa Inggris Fear of Missing Out.

Y : Apa itu, Pak ?

SK : Rasa takut terhilang, rasa takut terpisah.

Y : Seperti merasa takut terasing, begitu Pak ?

SK : Ya.

Y : Ironisnya, misalnya di Facebook kita memunyai ratusan bahkan ribuan teman atau follower di Instagram, kenapa merasa terasing atau terpisah ya, Pak ?

SK : Ada dua penafsiran dari studi lapangan ini, Bu Yosie. Penafsiran yang pertama, kemungkinan bahwa orang-orang yang pada awalnya merasa terisolasi atau terpisah dari pergaulan bersama orang lain kemudian beralih ke media sosial. Jadi, memang orang-orang kesepian pada dasarnya. Sudah kesepian, tidak punya teman, tidak bisa mengembangkan pergaulan di dunia nyata, lari ke media sosial.

Y : Mungkin merasa lebih aman ya, Pak ?

SK : Betul. Kesepiannya memang sebelum memakai media sosial.

Y : Betul.

SK : Tapi penafsiran yang kedua, yaitu peningkatan penggunaan media sosial menyebabkan rasa terisolasi atau terpisah dari dunia nyata. Kenapa bisa demikian ? Karena semakin lama kita menghabiskan waktu mengklik, membuka laptop kita, handphone android kita, kita habiskan waktu semakin banyak di media sosial, berarti bukankah semakin sedikit waktu yang kita pakai untuk berinteraksi sosial sesama manusia dalam kehidupan nyata lewat perjumpaan langsung tatap muka dengan orang lain.

Y : Betul, Pak.

SK : Jadi, penafsiran kedua adalah ini orang yang sehat, pergaulan sosialnya baik-baik saja dan bahagia. Tetapi semakin banyak dia gunakan waktu di media sosial, semakin dia mengalami kesepian dan ketidakbahagiaan.

Y : Mungkin awalnya tertarik karena media sosial memang menyediakan informasi yang sangat kaya. Tapi lama kelamaan itu seperti menyeret kita dari pergaulan yang nyata ya ?

SK : Ya. Memang dunia media sosial ini dunia yang sepertinya nyata tapi sayangnya bisa menjebak dan menipu.

Y : Betul. Namanya dunia maya ya, Pak ?

SK : Ya. Memang untuk kemungkinan pertama sudah bisa kita pahami ya, orang yang memang kesepian di dunia nyata larinya ke media sosial. Nah, kenapa bisa muncul kemungkinan penafsiran yang kedua bahwa orang yang menggunakan media sosial tambah kesepian ? Karena bisa dijelaskan di antaranya dari pemahaman terhadap lima bahasa kasih sayang.

Y : Seperti apa, Pak ?

SK : Seorang ahli bernama Gary Chapman yang mempopulerkan "Lima Bahasa Kasih Sayang". Yang pertama, setiap orang membutuhkan bahasa kasih sayang berupa sentuhan fisik yang sehat (dipeluk, dikecup, dibelai, dirangkul). Kedua, orang butuh bahasa kasih sayang berupa kebersamaan yang dirasakan (Quality Time), tapi quality time bukan berarti waktu yang sedikit ya, tapi artinya kebersamaan yang melimpah secara jumlah waktu dan kualitasnya. Itu bentuk kasih sayang. Yang ketiga adalah kata-kata peneguhan, pujian, pengakuan. Yang keempat adalah pelayanan, artinya dilayani sesuai apa yang dibutuhkan maka dia merasa dikasihi. Yang kelima adalah hadiah, artinya pemberian-pemberian kecil, tidak selalu harus besar dan mahal, tapi itu menyenangkan hati kita. Inilah bahasa kasih sayang. Di antara lima ini ada yang sentuhan fisik dan kebersamaan. Ini baru dipenuhi kalau berjumpa langsung, tidak bisa lewat media sosial.

Y : Tidak bisa di dunia maya ya, Pak ?

SK : Betul. Dari sinilah jelas kebutuhan bahasa kasih sayang itu tidak lengkap kalau kita habiskan waktu kita lewat media sosial.

Y : Mungkin juga karena kita ini makhluk inderawi ya, butuh secara langsung melihat, mendengar, meraba, mengecap. Apakah seperti itu, Pak ?

SK : Betul! Saya setuju dengan analisanya Bu Yosie. Sisi lain selain dari lima bahasa kasih sayang, kita bisa menjelaskan kemungkinan ini dari lima pancaindera, yang tadi disebutkan Bu Yosie. Melihat, mendengar, meraba, mengecap dan membaui. Kita makhluk inderawi dan keberadaan kita sebagai manusia akan semakin penuh jika fungsi-fungsi panca indera kita dioptimalkan. Lewat media sosial ‘kan tidak bisa melakukan itu! Tidak bisa meraba, tidak bisa membaui. Tidak bisa terwadahi. Kecuali kalau nanti media sosial bisa memunculkan bau-bau. Hahaha !

Y : Wah, malah lebih mengerikan! Seperti klenik nanti, Pak !

SK : Hahahaha.

Y : Betul ya, Pak. Media sosial hanya memuaskan mata dan telinga ya, Pak.

SK : Ya.

Y : Adakah studi lain yang bisa mendukung penemuan-penemuan ini, Pak ?

SK : Pemahaman ini kalau kita kaitkan ada studi yang sudah lama dilakukan yaitu membandingkan dua kelompok bayi.

Y : Seperti apa itu, Pak ?

SK : Satu kelompok bayi hanya disusui dengan dot dan diganti popok. Satu kelompok bayi yang lain disusui dengan dot, diganti popok dan digendong, di timang-timang dengan suara keibuan.

Y : Lalu hasilnya seperti apa, Pak ?

SK : Kelompok bayi yang pertama ini ternyata lebih mudah sakit dan sekian bayi meninggal.

Y : Kasihan sekali.

SK : Sementara kelompok bayi yang kedua sehat, bertumbuh kembang dengan baik. Ini menunjukkan bahwa manusia butuh sentuhan, butuh kasih sayang yang ekspresif baik lewat sentuhan fisik maupun juga lewat pendengaran.

Y : Kata-kata. Suara keibuan tadi ya, Pak.

SK : Betul.

Y : Sangat menarik ya. Ternyata kita ini tidak hanya butuh makanan. Tapi lebih dari itu kita lebih butuh kasih sayang, pelukan…….

SK : Itu juga makanan !

Y : Oh, begitu ya, Pak ?!

SK : Itu makanan jiwani.

Y : Oh, betul. Saya lupa. Betul. Tidak hanya makanan fisik ya, Pak, tetapi juga makanan jiwa.

SK : Ya. Kadang para orangtua juga jadi korban iklan secara tidak sadar. "Oh, bubur ini gizinya tinggi." Tapi ingat, anak kita, bayi-bayi kita butuh gizi jiwani. Sebagai orang dewasa kita juga butuh gizi jiwani dan sayangnya media sosial tidak mencukupi 4 sehat 5 sempurna-nya.

Y : Tidak bergizi ya.

SK : Tepat !

Y : Menarik sekali, Pak. Lalu apa praktisnya, Pak ?

SK : Praktisnya, yang pertama adalah mari kita lakukan diet media sosial bahkan sesekali lakukan puasa media sosial.

Y : Wah, kalau diet dan puasa ini sangat menarik, Pak. Bagaimana Bapak menjelaskannya ?

SK : Diet media sosial artinya dalam satu hari kita melakukan upaya pembatasan secara intensional, pembatasan secara sadar dan sengaja. Seperti tadi ya, dari penelitian lapangan di Universitas Pittsburgh, bahwa kalau lebih dari 2 jam sehari maka peluang rasa terisolasi dan kesepian itu 2 kali lebih besar. Berarti, angka ini bisa kita jadikan semacam rambu-rambu, maksimal 2 jam sehari. Sedapatnya. Atau kalau memang pekerjaan kita membutuhkan media sosial, silakan. Tapi begitu kita pulang ke rumah, matikan, taruh di laci. Berinteraksilah dengan suami, istri, anak-anak kita. Ini salah satu bentuk diet. Dalam bentuk puasa artinya memang sengaja, misalnya saat akhir pekan.

Y : Saat tidak ada pekerjaan ya.

SK : Ya. Saat tidak ada pekerjaan, matikan. Taruh di laci. Nikmati alam, jalan-jalan, makan, santai.

Y : Quality time dengan keluarga ya, Pak.

SK : Tepat ! Habiskan waktu bersama. Jangan bersama-sama di meja makan tapi masing-masing sibuk dengan gadgetnya sendiri.

Y : Saya sering melihat itu di restoran, Pak ! Empat orang – papa, mama, dan dua anak – semuanya sibuk bermedia sosial.

SK : Itu ironis ‘kan ?

Y : Ironis.

SK : Media sosial membuat jauh di mata dekat di hati. Tapi di sisi lain, media sosial membuat yang dekat di mata jauh di hati.

Y : Betul.

SK : Nah, itu dihindari dengan diet sosial dan puasa media sosial. Itu akan menunjukkan bahwa kita bisa hidup tanpa media sosial. Manusia masih bisa hidup tanpa tehnologi karena pada dasarnya kita adalah makhluk cinta.

Y : Wah, luar biasa.

SK : Bukan makhluk tehnologi.

Y : Betul. Karena waktu Tuhan menciptakan kita belum ada tehnologi ya, Pak.

SK : Iya.

Y : Dan kita tetap bisa bertahan hidup walaupun tanpa tehnologi.

SK : Amin.

Y : Luar biasa, Pak. Lalu apa lagi yang perlu kita lakukan atau tidak kita lakukan ?

SK : Yang kedua, mari secara sengaja hidupkan relasi sehat dengan sesama kita secara live lewat bertemu langsung, bertegur sapa, muka dengan muka secara ekspresif.

Y : Karena tidak cukup hanya ngobrol panjang lebar di media sosial tapi tidak bertemu muka ya.

SK : Ya. Seperti di bagian poin pertama yang saya sebutkan, mari bangun interaksi yang hidup di tengah keluarga. Jangan biarkan anak-anak main dengan permainan-permainan elektroniknya saja. Main yang sehat adalah main dengan sesama manusia. Berinteraksi. Pakailah permainan board game, seperti monopoli, ular tangga. Sekarang ada beraneka macam permainan selain bentuk-bentuk yang sudah kita kenal tadi. Main petak umpet, main gulat-gulatan. Selain dengan keluarga, mari kita ke taman kota, ke ruang-ruang publik.

Y : Berkenalan dengan orang-orang baru disana ya, benar-benar menjalin pertemanan yang nyata.

SK : Tepat ! Berteman dengan warga perumahan atau warga kampung dimana kita tinggal. Jangan malas menghadiri acara warga, jalinlah acara silahturahmi. Kita orang Kristen hadirlah dalam acara buka bersama, hadir waktu acara ‘syawalan’ (Idul Fitri). Jadi, relasi hidup ini juga lintas agama lintas iman.

Y : Mulai dibangun ya.

Sk : Ya. Sengaja direncanakan. Saling berbagi kisah, dukungan lewat sharing dengan teman-teman kita. Mungkin kita punya Kelompok Tumbuh Bersama (KTB). Karena sekarang semakin mungkin kita hadir ibadah Minggu tapi anonim, kesepian.

Y : Betul, Pak. Tidak kenal karena jemaat di gereja sudah ratusan bahkan ribuan.

SK : Iya. Banyaknya komisi pun tidak menjamin. Komisi anak, komisi remaja, komisi pemuda, komisi wanita. Tidak menjamin! Nah, dialami lewat komsel – komunitas sel, lewat KTB.

Y : Setuju sekali. Yang paling menarik perhatian saya, bagaimana dengan anak-anak, Pak ? Kalau kita orang dewasa mungkin lebih memunyai pagar-pagar. Tetapi bagaimana dengan mendidik anak yang jaman sekarang ini teknologi sudah semakin merasuk memengaruhi mereka, Pak.

SK : Di era digital ini mari kita berani tetap bersemangat melakukan diet dan puasa media sosial termasuk diet dan puasa teknologi bagi anak-anak kita. Karena memang cukup ironis, Bu Yosie. Kadang orangtua tidak memahami bahwa sesungguhnya media elektronik itu berpotensi menjadi heroin, menjadi putau, menjadi narkoba bagi otak anak. Kalau kita cek atau googling atau lewat Youtube, muncullah informasi apa akibatnya jika kita kecanduan digital. Kata heroin digital itu sudah muncul. Hasil-hasil penelitian, informasi-informasi yang jelas bahwa anak mengalami kecanduan digital ketika sejak kecil sampai 12 tahun pertama sudah kita suguhi dengan televisi, permainan elektronik, apalagi dengan gadget dan segala pernak-perniknya. Karena otak pada masa dalam kandungan, masa bayi dan masa 10 tahun pertama adalah masa pembentukan otak. Apa yang dibiasakan itu bukan sekadar kebiasaan tapi itu akan lebih menjadi seperti kebutuhan dan seperti takdir. Karena terbiasa menonton televisi setiap hari berjam-jam, main handphone atau permainan elektronik, itu bukan hanya jadi terbiasa tapi juga menjadi gaya hidup. Menjadi pola otak kalau tidak pakai gadget, tidak nonton televisi, tidak main permainan elektronik, dia sakit, dia sakau. Nah, itu gejala kecanduan. Itu mulai sejak kanak-kanak. Sayangnya orangtua tidak mengerti hal ini. Maunya baik, memanjakan, mengasihi, tapi maaf, itu ibaratnya memberikan pistol berpeluru asli kepada anak kita. Ini ‘nak, main tembak-tembakan pakai pistol asli ini ya.

Y : Sangat berbahaya ya, Pak.

SK : Iya.

Y : Ini juga jadi evaluasi bagi diri saya, Pak. Sebetulnya kita yang memberikan itu kepada anak-anak, karena fasilitas itu dari orangtua ya, Pak.

SK : Tepat ! Karena itu mari kita kembalikan permainan tradisional, mainan anak-anak. Petak umpet, monopoli, gobak sodor, benteng-bentengan dan lain-lain. Kenapa ? Karena permainan itu menciptakan sportivitas, kerjasama, kepemimpinan, berkomunikasi, problem solving atau pemecahan masalah. Kadang orang promosi, "Ini lho, Pak Sindu, permainan elektronik ini bisa mencerdaskan kreativitas problem solving."

Y : Mind mapping (Pemetaan pikiran).

SK : Ya. Tanpa itu pun, dengan mainan anak-anak yang kita alami waktu kecil yang sekarang kita anggap kuno, justru itu yang juga kaya dengan nilai-nilai itu dan maaf, tanpa efek samping.

Y : Betul, Pak. Jadi, dengan sendirinya kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial justru tumbuh ya, Pak ?

SK : Tepat !

Y : Bahkan tidak ada gangguan emosi dan kepribadian, seperti resiko dari media sosial yang terlalu berlebihan tadi ya, Pak.

SK : Benar. Inilah yang diabaikan oleh kebanyakan orangtua di era post modern ini. Peduli sekali dengan gizi makanan, peduli dengan pendidikan – anaknya disekolahkan di sekolah internasional atau nasional plus.

Y : Rela membayar mahal ya, Pak.

SK : Iya. Tapi mengabaikan di sisi parenting-nya di era digital ini. Kurang berani memberikan batasan. Silakan orang lain melakukan, tetapi aku harus tegas terhadap anakku. Artinya begini, kita tetap memeringatkan orangtua yang lain, tapi kita ‘kan tidak bisa memaksa mereka. Namun mari untuk anak kita, kita berani membuat perlindungan.

Y : Baik. Apakah ada tambahan lain atau kesimpulan yang ingin Pak Sindu sampaikan berkaitan dengan tema kita kali ini, Pak ?

SK : Dunia media sosial ini semakin menunjukkan bahwa sesungguhnya kita ini adalah zoon politicon.

Y : Apa itu, Pak ?

SK : Zoon politicon merupakan istilah yang dilontarkan oleh filsuf di abad sebelum Masehi bernama Aristoteles. Aristoteles mengungkapkan bahwa manusia adalah zoon politicon, artinya makhluk yang bermasyarakat atau makhluk sosial.

Y : Makhluk yang membutuhkan orang lain di dalam kehidupannya ya, Pak.

SK : Betul. Bahkan ada istilah yang dikembangkan oleh filsuf di abad modern yaitu Adam Smith, mengatakan bahwa manusia adalah homo homini socius, artinya manusia menjadi sahabat bagi sesamanya.

Y : Manusia tidak bisa hidup seorang diri.

SK : Ya. Itu sesuai dengan kata firman Tuhan di dalam Kitab Kejadian. Tuhan Pencipta manusia mengatakan tidak baik manusia hidup seorang diri. Jadi, manusia membutuhkan ruang interaksi yang bersifat langsung dan tidak terbatas oleh media sosial. Saya jadi teringat dengan satu rekan di kota lain, dia sengaja dalam satu hari hanya tiga kali dia online untuk pekerjaan, untuk memeriksa informasi atau komunikasi dengan remaja bimbingannya. Sehari hanya tiga kali di jam-jam tertentu. Itu cara diet yang baik.

Y : Ya. Itu bagian dari diet tadi ya, Pak. Pembatasan secara sengaja.

SK : Iya. Itu perlu kita kembangkan.

Y : Betul, Pak. Bisa saya tiru setelah ini.

Sk : Dan memang dalam sebuah buku yang membahas tentang mendidik anak di era digital mengungkapkan bahwa angka gangguan jiwa pada anak dan remaja di Korea Selatan meningkat pesat sejak negara ini semakin melakukan digitalisasi di kota dan di desa. Kita tahu merek-merek tertentu yang mendunia yang masuk ke Indonesia baik itu laptop, komputer, maupun handphone itu dari Korea Selatan. Tapi ironisnya negara ini semakin tinggi angka gangguan jiwanya.

Y : Berarti imbasnya betul-betul negatif ya.

SK : Ya. Memang seorang psikiater khusus bidang anak dan remaja mengekspos bahwa ini adalah sumbangsih dari kemajuan dunia digital. Akhirnya Indonesia sekalipun tidak semaju Korea Selatan, tapi mari kita lebih maju dalam berpikir tentang ekses dampak negatif, berani melakukan pembatasan bagi kita orang dewasa apalagi bagi anak-anak kita sehingga terhindar dari ancaman kesepian, ancaman kecanduan, ataupun ancaman gangguan emosi dan kepribadian.

Y : Sangat menarik. Terima kasih banyak, Pak. Apakah Bapak bisa menyampaikan ayat Alkitab yang pastinya menjadi dasar dalam kehidupan kita sebagai orang percaya ?

SK : Saya bacakan dari Ibrani 10:24-25, "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita seperti dibiasakan oleh beberapa orang. Tetapi marilah kita saling menasehati dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." Firman Tuhan ini bukan hanya mendorong kita untuk beribadah Minggu dengan setia, hadir dengan ritus-ritus upacara keagamaan. Tapi semangat firman Tuhan ini mendorong kita, mari menghidupkan relasi baik dengan sesama manusia, terlebih dengan saudara-saudara seiman. Itu dialami dengan perjumpaan, persahabatan, keterbukaan, saling menolong, saling memuji, saling merangkul. Baik teman-teman yang sejenis, kita ekspresikan. Berani merangkul dari samping, merangkul berhadapan, tentu bukan merangkul secara erotik. Merangkul secara sehat karena kita juga manusia yang butuh sentuhan sehat. Mari kita merayakan kemanusiaan kita, menghidupkan kemuliaan kita sebagai manusia yang adalah makhluk sosial dan melindungi kita dari kesepian dan sekian banyak ancaman gangguan jiwa.

Y : Amin. Terima kasih banyak untuk perbincangan kita yang sangat menarik ini, Pak Sindu. Para pendengar sekalian, terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, M.K. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang topik "MEDIA SOSIAL DAN KESEPIAN". Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org. Kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan, serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa dalam acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan:

Media sosial begitu marak dan akan makin marak. Orang merasa tidak perlu ke mana-mana dan menghabiskan banyak uang untuk bepergian, traktir makan atau telepon, namun sudah bisa terhubung dengan banyak orang. Begitu efisien dan irit. Tak heran muncul tren seseorang bisa memiliki banyak akun media sosial, termasuk banyak akun grup media sosial. Ada studi menarik bahwa media sosial justru bisa membuat kita semakin merasa kesepian. Ditemukan bahwa kalau kita menghabiskan lebih dari dua jam setiap hari untuk bermedia sosial, justru membuat peluang merasa terisolasi atau terpisah dari orang lain dua kali lebih besar dan kita merasa semakin kesepian.

Studi lapangan tahun 2014 yang dilakukan Universitas Pittsburgh ini menjangkau 1.787 orang berusia rentang 19-32 tahun berkenaan penggunaan 11 situs media sosial paling populer: Facebook, YouTube, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine dan LinkedIn. Ditemukan, orang yang mengunjungi media sosial lebih dari 58 kali seminggu cenderung tiga kali lebih mungkin merasa kesepian daripada orang-orang yang menggunakan situs di bawah sembilan kali. Sebelumnya, sudah ada dugaan para ahli bahwa media sosial memberi sumbangsih kenaikan FOMO (fear of missing out), rasa takut terhilang dan terpisah.

Ada dua penafsiran yang muncul dari studi lapangan ini. Pertama, kemungkinan bahwa orang-orang yang pada awalnya merasa terisolasi atau terpisah dari pergaulan bersama orang lain, beralih ke media sosial. Kedua, peningkatan penggunaan media sosial menyebabkan perasaan terisolasi atau terpisah dari dunia nyata. Semakin lama menghabiskan waktu di media sosial, semakin sedikit waktu yang dimiliki untuk berinteraksi sosial dalam kehidupan nyata. Untuk kemungkinan pertama, sudah jelas dipahami. Untuk kemungkinan kedua, bisa dijelaskan dari 5 bahasa kasih sayang: sentuhan fisik yang sehat, kebersamaan yang dirasakan, kata-kata peneguhan, pelayanan, hadiah. Sentuhan fisik dan kebersamaan yang dirasakan optimal jika berjumpa langsung. Bisa dijelaskan pula dari fakta bahwa kita makhluk inderawi: melihat, mendengar, meraba, mengecap, membaui. Keberadaan kita sebagai manusia semakin penuh jika fungsi-fungsi panca indera kita dioptimalkan. Jika lewat media sosial, meraba dan membaui tidak bisa terwadahi.

Didukung pula kenyataan studi lapangan di masa lalu: dua kelompok bayi. Satu kelompok bayi hanya disusui dengan dot dan digantikan popok. Satu kelompok bayi disusui dengan dot, digantikan popok, dan digendong ditimang-timang dengan suara keibuan. Kelompok pertama lebih mudah sakit dan meninggal. Kelompok kedua sehat bertumbuh kembang.

Implikasinya:

  1. Lakukan Diet Media Sosial dan Puasa Media Sosial. Hidupkan kebenaran bahwa kita bisa hidup, eksis dan bahagia tanpa media sosial, bahkan tanpa teknologi sekalipun. Manusia adalah makhluk cinta dan bukan makhluk tehnologi.
  2. Secara sengaja hidupkan relasi sehat dengan sesama secara hidup, bertemu langsung, muka dengan muka. Hadir dan berinteraksi di tengah keluarga, di ruang-ruang publik seperti di taman kota, di kegiatan kampung atau perumahan, saling berbagi kisah dan dukungan lewat pertemuan dengan teman dan sahabat.
  3. Fokuskan anak usia 12 tahun ke bawah dalam pemenuhan lima bahasa kasih sayang dan arahan-arahan positif. Jauhkan dari gawai atau gadget, gim elektronik dan televisi. Optimalkan interaksi langsung dengan orang per orang. Dengan sendirinya kecerdasan emosi dan kecerdasan sosial anak tumbuh mekar dengan subur dan terjauhkan dari peluang berbagai gangguan emosi dan kepribadian di masa anak, remaja, maupun dewasanya kelak.

Manusia adalah zoon politicon, kata Aristoteles, makhluk yang bermasyarakat, makhluk sosial. Manusia adalah Homo homini socius, kata Adam Smith, manusia menjadi sahabat bagi sesamanya. "Tidak baik manusia hidup seorang diri," kata Tuhan Pencipta manusia. Manusia membutuhkan ruang interaksi yang langsung dan bukan terbatasi oleh media sosial.

Ibrani 10:24-25, "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat".

Firman Tuhan ini bukan hanya mendorong kita untuk beribadah Minggu dengan setia, tapi firman Tuhan ini mendorong kita menghidupkan interaksi horizontal kita dalam kita berelasi sesama manusia terlebih dengan sesama saudara seiman.


Questions: