BETA
Cinta Uang Versus Cinta Tuhan (II)
Sumber: telaga
Id Topik: 2021

Abstrak:

Dalam1 Timotius 6:10 dikatakan: “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”Kita kadang kurang waspada terhadap ancaman mencintai uang lebih dari mencintai Tuhan.Apa tandanya orang yang cinta uang? Apa pula solusi praktis apabila kita mendapati diri termasuk orang yang cinta uang lebih dari cinta Tuhan?

Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi di mana pun Anda berada, Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Hendra, akan berbincang-bincang dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, MK. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini tentang topik "Cinta Uang Vs Cinta Tuhan" bagian kedua. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

H : Pak Sindu, dalam perbincangan kita sebelumnya, Bapak sempat menyinggung solusi supaya kita tidak menjadi hamba uang, tidak menjadi orang yang cinta uang, tetapi menjadi hamba Tuhan dan pribadi yang cinta Tuhan. Langkah pertama adalah mengakui dan mengalami pemulihan dari trauma kemiskinan dan penipuan tentang sukses, harta dan rasa aman. Langkah berikutnya apa Pak ?

SK : Langkah yang kedua adalah mari asahlah meditasi bahwa surga rumahku dan Bapa pemelihara yang bisa kita andalkan.

H : Meditasi surga rumahku, maksudnya apa Pak ?

SK : Secara alami kita mudah sekali mengadopsi, menerima keyakinan-keyakinan bahwa dunia adalah rumah kita. Namanya sukses, cita-cita, perjuangan hidup ini adalah untuk hidup di dunia ini. Makin baik, lebih baik, makmur, kaya, sukses dalam ukuran manusia. Ketika kita mau menjadikan surga sebagai rumah, orientasinya kepada kekekalan bukan pada hal yang sementara. Ini tidak bisa dilakukan tanpa disengaja, tapi kita perlu membuat perlawanan terhadap pola keyakinan dunia adalah rumahku. Makanya perlu kita asah meditasi ini. Meditasi artinya sebuah pemikiran, pola pikir, olah batin, olah rasa, yang diulangi terus-menerus bagaikan sapi memamah biak, sampai inti sari makanan itu masuk ke seluruh tubuhnya. Demikian ketika kita memeditasikan bahwa surga adalah rumahku, baik lewat pembacaan dan perenungan firman, perkataan pada diri sendiri, kesempatan berdoa setiap hari, mengambil saat teduh di dalam Tuhan. Disini kita bermaksud meyakini dan mensosialisasikan surga rumahku. Perjuangan kita adalah untuk kesuksesan di surga, bukan berarti kita melarikan diri dari tanggung jawab. Justru dengan surga adalah rumahku, maka yang kita lakukan dalam dunia yang sementara, kita lakukan dengan bersemangat sebagai seorang manajer Allah. Akan ada waktunya Tuanku, Raja di atas segala raja, akan kembali ke dunia ini menjemput aku dalam kemuliaan-Nya, dan Dia akan menuntut pertanggungjawaban atas kepercayaan, waktu, harta, kesempatan, talenta, karunia yang Dia percayakan. Jadi aku harus mengelola semuanya dengan baik, termasuk kehidupan pernikahan, keluarga, gereja, bermasyarakat, bagaimana semuanya itu bisa didayagunakan bukan untuk kesenangan yang bersifat hawa nafsu tetapi untuk menyenangkan hati Allah. Inilah meditasi surga rumahku. Yang kedua, memeditasikan bahwa Allah Bapa yang baik dan sempurna itu menjamin kecukupanku, memelihara kehidupanku. Hidupku bergantung pada pemeliharaan Allah. Secara alami, iklan-iklan, percakapan, tontonan dan pemikiran-pemikiran yang beredar di sekitar kita mengajarkan bahwa Tuhan tidak bisa diandalkan, Dia adalah pribadi yang abstrak, Dia tidak dapat diandalkan, sehingga kita harus berdiri di atas kaki sendiri, kita harus berusaha sendiri barulah kita bisa cukup, kondisi finansial dan keluarga bisa aman. Dalam hal ini kita membuat perlawanan, memeditasikan bahwa Bapaku adalah Bapa yang baik dan sempurna, Dia tidak akan mengabaikan kebutuhanku, bagianku adalah cari dulu kerajaan Allah dan kebenarannya, cari dulu bagaimana Allah dimuliakan dan ditaati, maka apa yang aku butuhkan untuk hidup layak di dunia ini, Bapa pasti menyediakannya. Inilah, kita perlu mengasahnya setiap saat. Memeditasikannya.

H : Bapak katakan itu meditasi yang harus terus diasah. Jadi memang ada kemungkinan bisa jadi tumpul ?

SK : Bisa. Itulah yang membuat kondisi ini, dalam bahasa Tuhan Yesus tentang perumpamaan seorang penabur, benih dan tanah, bila kita tidak tekun merenungkan firman Allah siang dan malam, maka apa yang ada di dunia ini akan ‘garbage in garbage out’ (Sampah masuk, sampah keluar). Yaitu ketika kita nonton televisi atau media-media yang lain, iklan di majalah-majalah, percakapan di dunia, itu yang akan masuk sebagai ‘garbage in’, sehingga ‘garbage out’. Sehingga kekuatiran dunia itu akan bertumbuh dan menghimpit benih kebenaran dalam diri kita sehingga iman kita akan menyimpang. Maka yang diperlukan adalah ‘truth in truth out’, kita memasukkan kebenaran maka yang keluar juga adalah kebenaran dari pemikiran, perkataan dan keyakinan kita. Pergaulan dengan Allah lewat firman-Nya, lewat pergaulan dengan saudara-saudara seiman, ini yang perlu dengan sengaja kita lakukan.

H : Jadi ini dimulai dengan sebuah paradigma, dengan sebuah pemahaman bahwa surga adalah rumahku dan kita yakin pada jaminan pemeliharanan Bapa tapi kita pupuk, tumbuhkembangkan dan asah melalui pembacaan firman dan doa yang dilakukan rutin setiap hari.

SK : Iya, termasuk dalam perjalanan hidup kita ketika ada krisis atau masalah, ingat Tuhan, lari pada Tuhan, lari ke Gunung Batu yang sejati itu. Ini akan menjadi pola pikir, gaya hidup, model refleks hidup kita dan ini yang akan membuat kita mengakhiri pertandingan iman dengan baik tanpa seperti Demas. Demas adalah rekan sepelayanan Paulus yang sangat baik, disebut-sebut dalam beberapa suratnya, tetapi dalam satu surat Paulus mengatakan bahwa Demas telah meninggalkanku, Demas tersesat dengan dunia, Demas mengejar dunia. Kenapa Demas bisa tersesat mengejar dunia, memburu uang ? Saya yakin salah satu alasannya adalah Demas tidak rajin, tidak setia memeditasikan kebenaran Allah ini, sehingga sedikit demi sedikit pikirannya mulai dikuasai oleh kekuatiran dunia dan di titik puncaknya dia benar-benar meninggalkan Tuhan dan pelayanannya. Dia mengejar dunia dengan segala kekuatirannya itu.

H : Apakah dengan hanya langkah pertama kita mengakui dan dipulihkan dari trauma, kemudian langkah kedua kita mengasah meditasi ini, sudah cukup ?

SK : Perlu ada langkah ketiga, Pak Hendra. Terapkan gaya hidup perang.

H : Seperti apa ini, Pak ?

SK : Istilah gaya hidup perang, sebagaimana kalau kita berperang – perang secara fisik. Mungkin kita tidak mengalami, tapi dialami oleh generasi orang tua di Indonesia, artinya mengembangkan pola hidup yang tidak dibebani dengan hal-hal yang tidak penting. Jadi apa yang kita miliki, apa yang kita kumpulkan, apa yang kita kenakan, segala sesuatu itu ditujukan supaya kita efektif dalam berperang. Dalam konteks ini peperangan kita adalah peperangan rohani, untuk menyatakan kebenaran Allah, untuk menegakkan kerajaan Allah, dunia bukan rumahku. Maka dengan demikian kita berpikir bagaimana hidup yang sementara ini - sebagai pekerja Kristus, sebagai hamba Allah, sebagai seorang yang dipercayai talenta oleh Allah, - bisa mendayagunakan waktu, kesempatan, harta, kecerdasan, peluang bisnis, peluang pelayanan, keluarga, semuanya untuk Kerajaan Allah. Kalau hidup kita berorientasi untuk memperkaya diri dan mengejar kenikmatan dunia, maka kita akan terbebani dan terjerat oleh dunia ini sehingga pikiran tentang Allah, surga dan kerajaan Allah akan terselewengkan. Karena kita, "Oh ini bagaimana menambah bisnis ini dari 3 menjadi 10 ?" waktunya tersita untuk mengembangkan, memelihara, mengecek bisnis kita yang 10 ini. Waktu untuk memikirkan tentang Kerajaan Allah, bagaimana Injil diberitakan, bagaimana murid-murid Kristus dilahirkan, bagaimana misi disebarluaskan, itu tergeser. Berarti itu bukan gaya hidup perang, melainkan gaya hidup menikmati dunia dan kita keluar dari kewaspadaan kita sebagai prajurit Kristus.

H : Ada contoh konkret gaya hidup perang, praktisnya seperti apa, Pak ?

SK : Gaya hidup perang berangkat dari gaya hidup sederhana, atau gaya hidup fungsional. Artinya bukan serba miskin, baju compang-camping, tidak punya kendaraan lalu jalan kaki, bukan! Artinya kita memakai dan mengembangkan segala sesuatu yang efektif untuk hidup bagi Allah. misalnya, kalau saya dengan status ini cukup naik sepeda motor, buat apa harus membeli mobil ? Kalaupun butuh mobil karena sudah ada keluarga, ada panas terik dan hujan, baiklah. Tapi pakailah mobil yang fungsional. Bukan berarti harus beli mobil terkenal dan merek mahal sehingga butuh ‘maintenance’ (pemeliharaan) yang mahal, padahal penghasilan saya tidak memadai untuk itu. Dalam hal ini, kalau saya seorang direktur, membawa citra perusahaan yang besar ya tidak apa-apa saya pakai mobil mewah. Tapi ‘kan tidak perlu ganti mobil mewah tiap tahun. Contohnya Pak Joko Widodo, Presiden kita. dia bergaya hidup perang. Dia tahu Indonesia dalam kondisi melarat, banyak rakyat di bawah garis kemiskinan dan korupsi sudah terlalu banyak, sehingga dia pakai mobil dinas yang sudah ada, tidak harus diganti dengan yang baru. Yang ada masih baik, buat apa harus dijual dan beli yang baru. Lebih baik anggaran mobil dinas dialihkan untuk hal yang membangun kesejahteraan masyarakat luas. Inilah yang diterapkan presiden kita. itu gaya hidup perang. Prihatin dengan keadaan sekeliling, dia menerapkan ke dirinya tanpa berarti harus miskin, hidup terlalu miskin. Dia menyesuaikan dengan apa yang dibutuhkan. Seperti juga, buat apa kita memiliki 3 rumah ? Kita hanya pakai satu rumah, dua rumah kosong. Baiklah, kenapa tidak kita jual saja dua rumah itu, uangnya untuk membiayai para misionaris dan biaya pelayanan yang memang membangun kerajaan Allah. kalau kita pertahankan, kita bisa pinjamkan dua rumah itu kepada hamba Tuhan, kepada keluarga tertentu yang tidak punya rumah. Lebih berfungsi daripada dua rumah menganggur dan kita selalu mengeluarkan uang untuk memeliharanya. Kenapa tidak didayagunakan untuk sesuatu yang bernilai kekal?

H : Tapi kalau difungsikan untuk investasi ‘kan juga tidak salah, Pak ? Misalnya dikontrakkan.

SK : Boleh. Asal dengan uang hasil kontrakan ini kita tidak menimbun dan memperkaya diri. Kita boleh investasi, menabung. Tapi saya pikir perlu ada batasan. Pada titik tertentu kita tidak menimbun. Karena kalau kita menimbun, kita cinta uang. Saya tertarik pada kisah sebuah pasangan di kota Solo. Beliau seorang karyawan di sebuah perusahaan yang punya jabatan baik mungkin manajer. Istrinya membuka toko bunga. Apa yang dilakukan dengan toko bunga ini ? Seluruh keuntungannya untuk pekerjaan Allah. Jadi keluarga ini mencukupkan diri dengan gaji suaminya sebagai manajer perusahaan swasta. Gaya hidupnya tidak berubah. Kemudian, punya bisnis tapi bukan untuk memperkaya diri. Keuntungan dari toko bunga ini untuk pekerjaan Allah. Inilah gaya hidup perang. Jadi kita perlu berkata di titik itu, "Tuhan, aku cukup. Secara daging, untuk aku kurang terus. Tetapi di dalam nama Yesus aku memutuskan mata rantai ketamakan ini. Aku menetapkan sebuah standard dan kalau Allah memberkatiku, bisnisku bertambah, asetku bertambah, kekayaanku bertambah, bukan berarti serta merta aku harus menerapkan gaya hidup yang lebih tinggi atau lebih mewah." Saya tertarik dengan istilahnya John Piper, yang memberi ilustrasi demikian: "Memang Allah membuat kita menjadi saluran anugerah-Nya. Tetapi bahayanya adalah kalau kita berpikir bahwa kita sebagai saluran berkat Allah harus dilapisi dengan emas." Jadi Allah menjadikan kita saluran berkat-Nya sehingga kita berpikir, "Lho Tuhan, aku ‘kan saluran berkat-Mu. Aku sebagai saluran berkat-Mu dilapisi emas ya." Tidak perlu ! Sebagai saluran berkat Allah cukupkan dengan tembaga, buat apa harus dilapisi dengan emas. Inilah yang disebut gaya hidup perang, yang saya ambil dari istilahnya John Piper.

H : Mungkin bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Karena pada dasarnya kita memang dididik untuk berimprovisasi dalam hal karir, penghasilan dan sebagainya. Maksudnya ada peningkatan derajat kehidupan dan sebagainya. Saya rasa, mungkin hal yang bisa dilakukan mulai dari awal adalah memberikan persembahan dengan persentase tertentu yang dilatih.

SK : Iya. Poin yang keempat adalah tetapkan prosentase pemberian wajib. Tapi kalau boleh saya meneguhkan dulu, gaya hidup perang ini memang tidak bisa eksakta. Orang per orang berbeda tetapi poinnya, semangatnya sama. Saya sebagai karyawan, buruh pabrik, manajer, direktur, pendeta atau pengusaha kelas kakap, semuanya berangkat dari semangat yang sama, yaitu gaya hidup perang. Bagaimana gaya hidup ini efektif untuk Kerajaan Allah. Jadi aku tidak direpotkan dengan dunia ini dan segala kekuatirannya, seperti orang muda yang kaya itu. Akhirnya karena terlalu kaya dan saking hatinya terjerat dengan kekayaannya, Yesus sampai menantang dia untuk menjual harta miliknya dan bagikan kepada orang miskin lalu mengikut Yesus, maka harta surgawi akan menjadi bagianmu. Dikatakan orang muda kaya ini meninggalkan Yesus dengan hati yang sedih. Dalam hal ini Yesus tidak berkata, "Maaf, maaf ! Aku keliru. Sini mendekatlah. Maaf, maaf ! Yang Aku maksud persepuluhan saja. Terserah kamulah, kamu ‘kan masih muda. Nikmatilah. Sepuluh persen saja untuk Aku dan pengembangan Kerajaan Allah." Tidak ! Yesus membiarkan orang muda ini pergi dengan sedih. Kenapa ? Bagi Yesus persoalannya bukan sekadar sepuluh persen dua puluh persen, tapi hatinya sudah terjerat dengan dunia ini. Hatinya menjadi hamba uang, cinta uang. Inilah soal sentral. Jadi saya tidak bisa membuat gaya hidup perang ini menjadi relatif. Hati-hati, ini soal hati. Makanya dalam hal ini kalau perlu, mari hidup dalam pertanggungjawaban. Ada orang lain yang boleh memeriksa hidup kita apakah gaya hidup kita adalah gaya hidup perang, gaya hidup kerajaan Allah, atau seperti tentara yang lari dari tugas (desertir), orang lain sibuk berperang tapi kita sibuk mencari kenyamanan sendiri dan meninggalkan medan peperangan. Dan sebenarnya yang terjadi adalah sebuah perwujudan dari dunia ini rumahku, surga itu abstrak. Inilah sebuah hal yang sangat menentukan yang harus kita bongkar dan berani ekspos. Kalau ada ketidakmurnian, kita bisa memberi pertanggungjawaban kepada mentor atau rekan seiman. Apakah aku menjadikan Allah sebagai pusat hidupku ataukah mammon dengan segala kenikmatan dunia ini yang menjadi pusat hidupku ? Dan Tuhan hanya sebagai bemper, kalau aku butuh aku datang kepada Tuhan, kalau aku sudah oke, Tuhan kupinggirkan dan aku akan menikmati dunia ini. Saya masuk ke poin yang keempat tadi. Prosentase pemberian wajib ini memang menjadi hal yang pokok karena menentukan sikap hati. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Iman bahwa Allah adalah pusat hidupku, surga adalah rumahku, hidupku berdiri di atas keyakinan bahwa Bapa memelihara hidupku, maka kita perlu melakukan perbuatan yang nyata. Menetapkan prosentase minimal dari persembahan kita. dan itu saya usulkan sebesar 10 persen berdasarkan firman Allah. Ada orang mengatakan, "Persepuluhan ‘kan di Perjanjian Lama, di Perjanjian Baru tidak disinggung lagi ?" Jangan lupa, salah satunya di dalam Surat Roma 15:4 dikatakan,"Semua yang ditulis dahulu menjadi pelajaran bagi kita." bahwa apa yang terjadi pada Perjanjian Lama bukan berarti dihapus tetapi itu menjadi standart minimal. Dari sepuluh persen bahkan kita bisa beranjak menjadi 11, 12, 15 persen. Saya tertarik pada kisah yang lalu pernah saya sampaikan yaitu tentang William Colgate. Pada saat dia hidup dalam kemiskinan, dia setia memberikan sepuluh persen. Tambah kaya bukan berarti tetap sepuluh persen! Malah dia tingkatkan menjadi 15, 20, sampai dia berani memberi 90 persen untuk Tuhan. Ini ‘kan uangnya Tuhan, Aku cukup hanya dengan 10 persen, yang 90 persen untuk Tuhan. Inilah yang perlu kita mulai, misalnya ada pemberian wajib dari penghasilan kita setiap bulan.

H : Bagi seorang pemula yang sedang belajar untuk terlepas dari paradigma sebelumnya dia menumpuk kekayaan tapi sekarang dia belajar untuk menjadi hamba Tuhan, bukan cinta uang tetapi cinta Tuhan. Ini merupakan langkah yang baik ya dengan menetapkan prosentase wajib sepuluh persen ini.

SK : Ya. Saya punya rekan semasa kuliah kemudian dia menjadi asisten laboratorium di Fakultas Teknik di tempat kuliahnya, dia menerapkan prinsip ini yaitu memberi perpuluhan. Bukan kurang dari sepersepuluh, misalnya lima persen atau tujuh persen, tapi langsung sepuluh persen. Padahal dia pas-pasan. Kalau dihitung matematis tidak cukup sampai akhir bulan. Sebagai seorang mahasiswa dia mencukupkan diri dengan apa yang dia hasilkan, baik sebagai seorang asisten laboratorium ataupun pekerjaan yang lain seperti sebagai asisten fotografer. Tapi dia rajin. Dia mengalami ketika dia di awal bulan memberi sepersepuluh dari penghasilan seorang asisten yang kecil itu, ternyata Tuhan membukakan tingkap-tingkap langitnya. Eh, ada kesempatan order dari sebuah acara pernikahan, misalnya dan dia jadi fotografer. Kemudian ada kesempatan yang lain lagi. Dan ternyata cukup sampai akhir bulan. Pengalaman iman seperti ini penting untuk kita miliki. Hidup oleh iman itu bukan hanya monopoli milik misionaris dan hamba Tuhan fulltimer, tapi milik setiap kita orang percaya. Tidak membedakan jabatan pelayanan kita. jadi inilah yang indah yang perlu kita nikmati.

H : Dan dengan mengambil keputusan iman seperti itu kita akan mengalami pengalaman iman yang luar biasa juga.

Sk : Betul. Maka ada poin yang kelima, asahlah kepekaan rohani dengan memberi secara spontan. Poin yang keempat tadi adalah menetapkan prosentase pemberian wajib. Tapi hati-hati, kadang kita, "Tuhan, aku sudah memberi 15%, lho. Sisanya 85% adalah hakku. Engkau tidak boleh ikut campur." Kalau sikap hati seperti itu ya sama saja. Kita transaksional dengan Tuhan. Seharusnya 100% milik Allah dan kita memakai sejauh yang kita butuhkan. Artinya kalaupun kita sudah menetapkan batas minimal tiap bulan dari 10% meningkat jadi 15 atau 20, yang 80 atau 85 atau 90 persen ini tetap milik Tuhan. Jadi satu kali dalam proses hidup kita dalam sebulan itu misalnya kita bertemu dengan orang yang membutuhkan, dengan pelayanan yang membutuhkan, kalau ada hati aku perlu memberi, tapi kok pas-pasan ya. Maka kita doakan. Dan dorongan itu tetap sama, bukan dorongan impulsif sesaat, tapi dorongan yang menetap. Maka ambillah langkah iman. "Tuhan, sebenarnya aku pas-pasan, tapi aku memberi untuk pekerjaan-Mu. Untuk menolong orang yang sedang membutuhkan, maka aku berikan." Itulah sebuah hal yang indah yang perlu kita miliki sebagai bentuk kita cinta Tuhan bukan cinta uang. Jadi asahlah kepekaan rohani untuk memberi secara spontan.

H : Terkait hal memberi, biasanya namanya manusia yang terbatas, ada kecenderungan ketika kita memberi kita mengharapkan sesuatu. Meskipun kita berusaha memberi tanpa mengharapkan imbalan. Misalnya kita memberi persembahan tapi kita berharap itu jasa kita, orang ingat itu pemberian kita.

SK : Betul. Inilah yang perlu kita lawan. Makanya Tuhan mengatakan kalau engkau memberi dengan tangan kananmu, biarlah tangan kirimu tidak tahu. Kita tidak perlu pamer. Dalam hal ini, ada saatnya baik kalau perlu kita memberi anonim. Maka poin yang keenam adalah berilah tanpa main kuasa. Ada orang-orang yang menikmati pemberian sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan kemudian menguasai orang lain, pelayanan atau gereja. Bagi saya ini sangat menyakitkan. Ada kisah nyata, sebuah gereja melakukan rapat majelis dan hamba Tuhan. Keesokan harinya keputusan itu dibatalkan. Kenapa ? Karena orang kaya yang ada di gereja itu mengatakan, "Aku tidak setuju dengan keputusan ini, aku tidak mau mendukung." Majelis dan hamba Tuhannya langsung ketakutan. Akhirnya dianulir tanpa lewat meja rapat. Ini sebuah penghinaan bagi Kristus sebagai Kepala Gereja. Gereja berdiri di atas dasar Kristus, pemeliharaan Bapa, bukan di atas orang kaya, bukan di atas duitnya manusia. Gereja butuh uang, tapi bukan berarti gereja bergantung pada uang. Ini sebuah eklesiologi yang sangat sesat. Kalaupun orang kaya ini tidak mendonasi mendukung program, tidak apa-apa, tetap jalan. Mari kita berdoa, dimulai dalam nama Yesus, kita lakukan bersama-sama dengan Yesus. Jadi jangan sampai gereja atau sebuah pelayanan menjadikan orang-orang tertentu sebagai mesin ATM gereja atau pelayanan. "Kita sedang defisit 3 bulan. Kamu setor ya, tutupi ya." Itu akan menjadi transaksional. Orang akan memberi bukan dengan sukarela tapi dengan terpaksa. Karena dia terpaksa, dia akan minta imbalan. "Kalau aku bicara, dengarkan aku. Kalau aku minta sesuatu, ikuti aku ya. Aku sudah memberi banyak lho untuk kebutuhan gereja per bulan." Ini salah dan sesat. Malah justru ketika krisis finansial gereja terjadi mari kita sebagai hamba Tuhan, majelis, umumkan. "Kita defisit 3 bulan sekian. Mari kita tetapkan hal ini sebagai hari doa dan puasa. Seminggu ini kita berdoa, cari kehendak Tuhan. Apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan. Mungkin memberi lebih atau kita menutup pos-pos tertentu, mengurangi untuk menyesuaikan. Mari kita doa, cari kehendak Tuhan, bukan cari kehendak diri sendiri." Bila perlu kalau engkau digoda untuk itu, jangan memberi dengan mencantumkan nama. Lewat gereja yang anonim. Dengan demikian engkau "playing god", main kuasa ini akan lebih berkurang.

H : Jadi selain memberi anonim atau tanpa mencantumkan nama kita, mungkin hal yang perlu dikoreksi juga adalah cara pandang kita terhadap orang lain. Kita menghargai orang lain bukan karena kita melihat status dia yang lebih kaya atau lebih miskin.

SK : Saya sepakat, Pak Hendra. Kita satu tim pelayanan. Ada yang di garis depan, ada yang di garis belakang, ada yang di garis tengah. Ada yang sebagai pasukan doa, ada pasukan yang langsung dalam penginjilan, ada yang sebagai pasukan logistik. Tidak ada yang lebih tinggi satu sama lain. Semuanya satu tim dalam nama Yesus, sehati, sepikir, tidak mencari kepentingan sendiri, tidak mencari pujian yang sia-sia, tetapi mencari kepentingan Allah. Kalau saya memberi kepada pendeta atau ke sebuah gereja, itu bukan berarti saya lebih tinggi, atau saya jadi majikan bagi yang saya beri ini. Tapi kita bersyukur bahwa kita diberi kesempatan untuk ambil bagian dalam pekerjaan pelayanan. Ini sikap hati yang perlu. Maka hal yang ketujuh adalah hargailah diri sendiri dan orang lain tanpa syarat. Bukan karena soal status sosial ekonomi, tapi karena kita ciptaan Allah maka kita harus menghargainya, tanpa memandang dia kaya atau miskin, bajunya mewah atau biasa-biasa saja, wangi atau bau, saya tetap hargai karena Allah ada di dalam dirinya sebagai Penciptanya.

H : Apa pesan firman Tuhan untuk menutup perbincangan kita ini ?

SK : Saya bacakan dari 1 Timotius 6:17-19, "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati, jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang di dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi. Dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." Ini bukan hanya untuk orang yang kaya raya. Kita secara umum termasuk orang kaya bila dibandingkan dengan sekian banyak orang yang ada di bawah garis kemiskinan. Maka mari kita orientasikan kepada Allah bukan kepada kekayaan harta di dunia ini. Kita mensyukuri dan belajar terus bertumbuh berbuat baik membagi, kaya dalam kebajikan, kaya dalam kemurahan hati. Maka harta di surga sedang kita kumpulkan dan kita akan menikmati sukacita surgawi.

H : Kiranya pesan firman Tuhan dari 1 Timotius 6:17-19 dan seluruh perbincangan kita ini akan menjadi berkat bagi semua pendengar kita. Terima kasih untuk percakapan kita yang sangat menarik ini, Pak Sindu. Para pendengar sekalian kami mengucapkan terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, MK. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang topik "Cinta Uang Versus Cinta Tuhan" bagian kedua. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami melalui surat yang dapat dialamatkan kepada Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org. Kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan, serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan:

Sambungan dari Cinta Uang Vs Cinta Tuhan (I) :

Solusi praktis apabila kita mendapati diri termasuk orang yang cinta uang lebih dari cinta Tuhan:

2. Asahlah meditasi bahwa "surga rumahku" dan Bapa pemelihara yang bisa kita andalkan. Ketika kita mau menjadikan surga sebagai rumah, orientasinya kepada kekekalan bukan pada hal yang sementara. Ini tidak bisa dilakukan tanpa disengaja, tapi kita perlu membuat perlawanan terhadap pola keyakinan dunia adalah rumahku. Makanya perlu kita asah meditasi ini. Meditasi artinya sebuah pemikiran, pola pikir, olah batin, olah rasa, yang diulangi terus menerus bagaikan sapi memamah biak, sampai inti sari makanan itu masuk ke seluruh tubuhnya.

3. Terapkan gaya hidup perang. Artinya kita mengembangkan pola hidup yang tidak dibebani dengan hal-hal yang tidak penting. Jadi apa yang kita miliki, apa yang kita kumpulkan, apa yang kita kenakan, segala sesuatu itu ditujukan supaya kita efektif dalam berperang. Dalam konteks ini peperangan kita adalah peperangan rohani, yaitu bagaimana kita - sebagai pekerja Kristus, sebagai hamba Allah, sebagai seorang yang dipercayai talenta oleh Allah, - bisa mendayagunakan waktu, kesempatan, harta, kecerdasan, peluang bisnis, peluang pelayanan, keluarga, semuanya untuk kerajaan Allah. Kalau hidup kita berorientasi untuk memperkaya diri dan mengejar kenikmatan dunia, maka kita akan terbebani dan terjerat oleh dunia ini sehingga pikiran tentang Allah, surga, dan kerajaan Allah akan terselewengkan. Gaya hidup perang berangkat dari gaya hidup sederhana atau fungsional. Kita boleh menginvestasikan harta asalkan kita tidak menimbun harta untuk kepentingan sendiri saja tapi juga untuk membantu pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia ini.

4. Tetapkan prosentase pemberian wajib. Ini menjadi hal yang pokok karena menentukan sikap hati kita. Kembalikanlah sepersepuluh dari hasil pekerjaan kita. Berilah persembahan rutin sesuai dengan kemampuan dan kerelaan hati kita.

5. Asahlah kepekaan rohani dengan memberi secara spontan.Apabila ada dorongan untuk memberi, janganlah menahan-nahan. Kadang keuangan kita sedang sulit atau pas-pasan namun ingin memberi, berilah. Semua harta adalah milik Allah dan Ia pasti akan memelihara hidup kita.

6. Berilah tanpa main kuasaatau mengharapkan imbalan tertentu. Ada orang-orang yang menikmati pemberian sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan dan kemudian menguasai orang lain, pelayanan, atau gereja.

1 Timotius 6:17-19, "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati, jangan berharap pada sesuatu yang tidak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang di dalam kekayaanNya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.Dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya."


Questions: