BETA
Kecanduan Seksual 1
Sumber: telaga
Id Topik: 1239

Abstrak:

Jarang kita mendengar seorang mencari pertolongan karena bergumul dengan kecanduan seksual. Sebagian karena tidak menyadari itu adalah masalah, sebagian karena hal itu dianggap terlalu pribadi sehingga tabu untuk diutarakan dan didengar. Padahal kecanduan seksual dapat merusak hubungan, menghancurkan pernikahan dan menggerus kehidupan. Mari kita kenali sifat dan siklus kecanduan seksual ini agar dapat merdeka darinya.

Transkrip:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Acara ini diselenggarakan oleh Lembaga Bina Keluarga Kristen atau LBKK bekerjasama dengan radio kesayangan Anda ini. Saya, Hendra, akan berbincang-bincang dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan, M.K. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling keluarga. Perbincangan kami kali ini tentang topik "Kecanduan Seksual" bagian pertama. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

H : Pak Sindu, topik kecanduan seksual ini adalah topik yang sangat penting untuk dibahas. Sebelum kita memulai pembahasan ini, apakah Bapak bisa mengawali dengan apa yang dimaksud dengan kecanduan seksual itu ?

SK : Ya. Kecanduan seksual ini terlebih dulu saya tarik dari kata "kecanduan". Kecanduan dapat dimengerti sebagai kebiasaan memakai suatu zat atau kebiasaan menerapkan suatu perilaku untuk mengendalikan suasana hati seseorang sekali pun kenyataannya zat atau perilaku tersebut menciptakan masalah yang berulang-ulang. Jadi kecanduan ini bisa berkenaan dengan kebiasaan memakai zat atau kebiasaan menerapkan suatu perilaku. Di dalam konteks ini, kecanduan seksual, berkenaan dengan kebiasaan menerapkan suatu perilaku. Maka kecanduan itu meluas ruang lingkupnya bisa berkenaan dengan bahan kimiawi, makanan, bisa juga kecanduan itu berkenaan dengan relasi/hubungan dengan manusia lain atau berkenaan dengan seks sebagaimana yang akan menjadi fokus percakapan ini, atau terkait juga dengan kecanduan pekerjaan, atau terkait juga dengan pemborosan/penghambur-hamburan materi dan uang, kecanduan judi, termasuk kecanduan praktek keagamaan.

H : Termasuk bermain 'game' dan 'gadget' dan sebagainya yang sekarang sedang populer, Pak ?

SK : Ya ! Kecanduan internet dan kecanduan belanja. Yang dulu kesannya bukan masalah, saat ini menjadi masalah. Hobi-hobi tertentu. Sebenarnya terjadi perluasan kecanduan. Dulu kecanduan hanya dua hal, yaitu alkohol/minuman keras atau kecanduan narkoba. Atau mungkin yang mirip tapi bentuknya berbeda adalah kecanduan judi. Cuma tiga hal ini. Tapi rupanya dalam perkembangannya karena faktor gaya hidup, akhirnya meluas. Orang mencari hal-hal yang bisa mengendalikan suasana hatinya dengan hal-hal yang pada awalnya tidak ada hubungannya dengan moral, tapi akhirnya itu dipakai dan menjadi pengendali suasana hatinya. Bila hal itu tidak dilakukan, suasana hatinya akan galau dan disanalah kecanduan itu lahir.

H : Ada dua hal yang tadi Bapak sebutkan yang menjadi pertanyaan. Yang pertama waktu Bapak menyebutkan kecanduan relasi dengan orang lain. Kemudian Bapak menyebutkan kecanduan seksual, yang menjadi topik kita kali ini. Saya melihat apakah kecanduan relasi dengan orang lain itu ada yang tidak berhubungan dengan kecanduan seks, begitu Pak ?

SK : Ya. Kecanduan relasi ini misalnya berkenaan dengan rasa tidak percaya diri, sangat bergantung pada orang lain. Kalau tidak ada orang ini, maka tidak ada penerimaan, pengakuan dan arahan sehingga hidupnya terasa kacau, resah, gelisah. Akhirnya dia selalu membutuhkan bantuan, kehadiran, dukungan dan persetujuan orang lain untuk dia bisa menjalani hidup ini dengan normal. Tapi karena bergantungnya ini mengarah pada kecanduan akhirnya sebenarnya yang nampaknya normal menjadi tidak normal.

H : Apakah itu bisa relasi dengan orang tua, guru atau dengan teman, begitu, Pak ?

SK : Ya. Lebih banyak berkenaan dengan teman, sahabat atau kebergantungan kepada persetujuan dari figur otoritas. Jadi bisa berkaitan dengan rekan sebaya atau figur otoritas.

H : Pertanyaan kedua, tadi Bapak memberikan contoh kecanduan melakukan ritual keagamaan. Seperti apa contohnya, Pak ?

SK : Ya, ini memang sesuatu yang terselubung, sangat tertutup rapi. Misalnya rajin ke gereja, rajin doa pagi, rajin doa malam, rajin ini dan itu. Tapi ujung-ujungnya sebenarnya dia terikat dan tergantung dan rasa amannya bukan pada pribadi Tuhan, tetapi kepada ritual kegiatan keagamaan itu. Bisa dilihat ketika dia tidak melakukan kegiatan praktek keagamaan itu dia gelisah, rasa bersalah, bahkan hidupnya kacau. Dan kemudian apa yang dilakukan itu ternyata tidak ada kaitannya dengan relasi pribadinya dengan Tuhan. Bisa jadi hidup kesehariannya itu tidak menunjukkan Tuhan hadir di dalam hidupnya. Karakter dan perkataannya buruk, kurang bertanggung jawab di dalam rumah tangga, di dalam studi atau di dalam pekerjaan dan hubungan relasi keluarga, nampak sekali adanya kesenjangan. Jadi sebenarnya dia lebih mengalami kecanduan dengan praktek-praktek keagamaan semata atau dangkal.

H : Dia mengabaikan tanggung jawab yang lain, tapi memfokuskan diri pada praktek keagamaan itu ?

SK : Ya, jadi salah satu ciri khas apakah kita mengalami kecanduan adalah seberapakah kita bisa menjalani hidup kita secara bertanggung jawab dalam berbagai bidang kehidupan. Kalau orang mengalami kecanduan biasanya dia lumpuh dalam fungsi atau ruang utama kehidupannya, misalnya bekerja, sekolah, dalam relasi pernikahan, relasi keluarga dan tanggung jawab sosialnya. Paling gampang kalau kita lihat dalam konteks kecanduan narkoba. Orang yang kecanduan narkoba, hidupnya tidak seimbang lagi. Dia bisa bekerja kalau ada asupan narkoba. Akhirnya seluruh pikiran, energi, pikirannya hanya untuk membeli barang zat adiktif ini. Jadi ada wilayah hidup yang tidak seimbang yang dijalaninya. Begitupun dengan orang yang mengalami kecanduan praktek keagamaan tadi.

H : Selain kelumpuhan fungsi peran hidup atau ketidak seimbangan dalam berbagai aspek, ada satu pertanyaan lagi, bagaimana membedakan kalau saya suka makan dengan saya sudah masuk kategori kecanduan makan ?

SK : Pembeda yang jelas adalah faktor kendali atau kontrol. Jadi kecanduan itu ditandai dengan orang tidak bisa lagi membatasi atau mengendalikan diri. Harus dan harus. Bahkan tidak lagi memperhatikan ruang dan waktu, kalau makan tidak lagi memperhatikan faktor gizi, makannya sangat berlebihan. Ketika tidak makan untuk sekian waktu, hatinya bisa galau, marah-marah, frustrasi, agresif. Jadi orang melihat itu, "Kok berlebihan ya ? Hanya karena tidak ada makanan untuk saat ini, dia seperti lumpuh tidak dapat melakukan apa-apa, bahkan destruktif tendang sana sini, memaki-maki, nah ini tandanya kecanduan, bukan lagi sekadar suka menikmati atau hobi, tetapi sudah menjadi suatu yang adiktif dan mengikat bahkan mengendalikan suasana hatinya.

H : Jadi kalau saya suka makan, saya bisa mengendalikan kebiasaan untuk makan itu ?

SK : Ya, kalau pun tidak terpenuhi juga tidak apa-apa.

H : Oke. Kalau kecanduan perilaku makan itu yang mengendalikan saya, Pak ?

SK : Ya, dan itu harus. Bila tidak dilakukan, bagaikan bencana alam atau kiamat bagi dirinya.

H : Nah, kembali ke topik kita, Pak. Bagaimana kita mendeskripsikan kecanduan seksual itu, Pak ?

SK : Kecanduan seksual bisa dideskripsikan sebagai kebiasaan menerapkan suatu perilaku seksual untuk mengendalikan suasana hatinya, akhirnya perilaku seksual itu malah menciptakan masalah-masalah lain yang berulang-ulang. Jadi kecanduan seksual ini spektrumnya bisa luas, ya. Bisa dari yang sifatnya fantasi imajinasi, bisa sampai sesuatu yang nyata. Bisa berkenaan dengan dirinya sendiri (bersifat seks-solo/seks tunggal tanpa seks swalayan, kadang disebut begitu) atau berkaitan dengan seks yang membutuhkan partner untuk berhubungan seks. Jadi spektrumnya luas, dari yang pikiran fantasia atau khayalan sampai ke kenyataan, dari yang dilakukan sendiri sampai yang dilakukannya bersama orang lain, bisa berkenaan dengan manusia atau bukan manusia.

H : Apakah pornografi dan masturbasi termasuk di dalam hal ini, Pak ?

SK : Ya.

H : Sebenarnya kecanduan seksual ini misalnya dialami oleh seseorang, saya melihat ada perbedaan dengan kecanduan yang lain. Mungkin kalau kecanduan alkohol atau kecanduan makan, orang itu masih lebih berani terbuka. Tapi kalau kecanduan seksual, apakah betul ada kecenderungan orang kurang berani untuk terbuka ?

SK : Ya. Benar, Pak Hendra, pada kecanduan-kecanduan yang lain, orang sudah lebih mengakui kebutuhannya untuk mencari pertolongan. Tapi untuk kecanduan seksual, rupanya lebih banyak orang menutup diri. Dia tidak berani cerita, malu sekali, bahkan merasa itu sebagai aib yang besar.

H : Apakah ada hubungannya dengan budaya setempat, Pak ?

SK : Ya. Hal-hal yang berkaitan dengan seksualitas sampai hari ini masih menjadi wilayah yang tabu. Sekalipun negeri kita Indonesia sebenarnya sudah sangat permisif dengan tabloid, majalah dan dunia internet, tapi untuk mempercakapkannya di ruang yang terhormat termasuk ruang gereja, orang terbata-bata, kikuk atau canggung untuk mempercakapkan. Akhirnya ketika mengakui bahwa saya mengalami kecanduan pornografi, masturbasi, kehidupan seks yang bukan rancangannya Allah, orang merasa malu, hina dan tidak layak. Jadi bagaikan dosa yang paling besar dan paling memalukan di hadapan orang lain.

H : Sebenarnya seberapa besar bahaya dari kecanduan seksual ini ?

SK : Ya. Kecanduan seksual ini menjadi berbahaya karena kecanduan seksual ini bisa berkembang bagaikan bola salju yang menggelinding kian lama kian membesar, bagaikan bola liar yang bisa menggelinding ke berbagai arah yang menakutkan. Misalnya, mungkin kecanduan seksual ini berawal dari fantasi seksual, akhirnya dia membutuhkan objek yang bisa berupa gambar. Atau bisa dari novel kisah-kisah erotis dan pornografi. Setelah dibaca dan dibayangkan, ingin yang lebih, misalnya foto atau gambar porno. Dari gambar ke film. Dari film akhirnya melakukan bersama dengan orang lain. Dari sifatnya dilakukan seorang diri/masturbasi, akhirnya dia ingin menggunakan alat. Sekarang ada seks toys, boneka seks, atau alat bantu seks yang semakin banyak dan bisa dibeli di Indonesia. Kemudian dari itu, tidak puas ingin mencoba dengan orang. Dengan satu orang pun akhirnya kurang puas lalu melakukan dengan orang yang berbeda-beda, masuk ke dalam dunia pelacuran atau seks bebas. Dari satu orang ingin variasi dengan dua orang, tiga orang sekaligus, sampai akhirnya tidak puas dengan binatang. Beberapa waktu lalu saya membaca berita di media cetak harian Surat Kabar Indonesia ada yang melakukan dengan seekor anjing kebetulan terekam dengan kamera temannya, lalu dia dilaporkan ke polisi. Jadi benar-benar ada yang melakukan seks dengan binatang, padahal itu orang yang berpendidikan. Dan itu pun bisa berkembang sampai sekarang ini sedang di-ekspose pedofilia (melakukan seks dengan anak kecil) sehingga anak kecil menjadi korban. Ada yang seorang nenek pun menjadi korban. Jadi selera seksnya semakin lama menjadi semakin liar dan merusak diri maupun masyarakat. Ini faktor kengerian. Satu yang pasti, kecanduan seksual sebenarnya bicara tentang jati diri kemanusiaan. Sebagaimana pernah kita bahas dalam topik "Distorsi seks", seksualitas adalah sisi lain dari spiritualitas atau manusia rohani kita. Jadi rancangan Allah, seksualitas itu sejalan dengan spiritualitas manusia. Kalau itu diumbar di luar pasangan lain jenis yang diberkati dalam pernikahan kudus, maka itu bukan hanya perilaku biologis, tapi juga termasuk perilaku emosi dan perilaku rohani. Jadi merusak emosi jiwa dan rohani atau spiritual orang itu, membuatnya kacau. Jadi ini memang bukan sesuatu yang biasa-biasa, tapi luar biasa. Kalau saya mengutip perkataan Rasul Paulus di dalam Perjanjian Baru, bahwa dosa-dosa yang lain dilakukan di luar tubuhnya, tapi dosa perzinahan atau percabulan dilakukan di dalam diri orang itu. Jadi Rasul Paulus di dalam hikmat Roh Kudus memberikan penanda khusus beda dosa seksual dengan dosa-dosa yang lain. Dalam konteks ini, perbedaan antara kecanduan seksual dengan kecanduan-kecanduan yang lain itu, ada pada segi kualifikasi dan dampak rusaknya.

H : Jadi bisa merusak diri sendiri dan bisa merusak masyarakat. Dalam hal ini, apakah termasuk pemerkosaan, Pak ?

SK : Ya. Jadi pemerkosaan itu bisa menjadi bagian dari kecanduan seksual. Sekalipun bukan berarti pemerkosa selalu mengalami kecanduan seksual. Tetapi beberapa orang yang mengalami kecanduan seksual akhirnya menjadi pemerkosa. Semula hanya imajinasi, hanya melihat tayangan di HP, sebagaimana kasus artis-artis, yang kemudian ditiru oleh siswa-siswi SMP dan SMA juga melakukan hubungan seks. Bukan hanya di kota besar, di kota kecil bahkan desa-desa juga ada ! Bahkan muncul sebagai "hot news" surat kabar lokal, "Ada Video Esek-esek, Memakai Baju Pelajar!" kita juga melihat di pemberitaan televisi lokal atau televisi nasional, beredar rekaman seks seorang polisi, begitu dicari ternyata melarikan diri. Ini dampak dari sesuatu yang dibiasakan hanya ditonton akhirnya ingin melakukan, bahkan direkam video sendiri. Jadi ada kepuasan bila menonton video porno dirinya sendiri dibandingkan menonton video porno orang lain. Mungkin saling tukar menukar dengan milik orang lain. Inilah dampak kerusakannya yang akhirnya merusak tatanan masyarakat yang beradab, lama-lama menjadi masyarakat yang biadab.

H : Mengerikan sekali !

SK : Dalam konteks ini, saya ingatkan kepada kita semua, ini mirip dengan situasi jaman kerajaan Romawi. Kerajaan Romawi yang hebat, ada Julius Caesar dan kaisar-kaisar yang lain, hancur salah satunya karena demoralisasi, dengan kehidupan seks yang liar dan bebas tanpa batas-batas moral yang bertanggung jawab. Itu menghancurkan etos hidup masyarakat Romawi yang beradab itu, kemudian terjadi juga korupsi, nafsu kedagingan dan akhirnya peradaban Romawi pun punah. Ketika kita membiarkan Indonesia dalam situasi bermain-main dengan kehidupan seksualitas yang dirancang oleh Allah, ini bukan sekadar perilaku individual. Tapi ini soal perilaku masyarakat, nasib bangsa Indonesia ini, termasuk nasib gereja Tuhan. Jadi gereja Tuhan harus peduli! Jangan tutup mata "Ah, itu 'kan di luar sana." Saya dan sekian banyak rekan yang terjun di berbagai gereja/ceramah/seminar, survei membuktikan, kalau melakukan survei tertutup sederhana, pasti didapati banyak warga gereja yang melakukan pornografi, seks di luar nikah, perzinahan atau perselingkuhan dan berbagai hal. Dan bukan hanya warga jemaat, hamba-hamba Tuhan pun yang sudah ditahbiskan dengan gelar pendeta juga mengalami kehancuran yang seperti itu. Dan ini tidak pandang gereja atau denominasi ! Jadi kita tidak bisa berdiri atas nama teologi. "Oh, teologi kami lebih sehat. Kami lebih steril dari isu tentang demoralisasi seksualitas !" Siapa bilang ? Kalau dilacak dengan jujur akan ketemu kasus yang mengerikan. Ini fenomena gunung es, ya. Yang ketahuan cuma 1-2, tapi yang di belakang bisa 100 atau 1000, angka yang sesungguhnya. Makanya kita harus berani bicara blak-blakan dalam terang firman Tuhan, berani melakukan aksi untuk mengedukasi, berani melakukan proses pendampingan atau pemulihan bagi mereka yang sudah terlanjur terjerat. Topik kecanduan seksual ini juga bagian dari edukasi. Dari edukasi menjadi aksi bagi kita semua. Bukan aksi seperti gerakan radikal, sweeping, penyapuan, hajar sana sini. Bukan ! Lakukan dalam kebenaran sekaligus di dalam kasih karunia, kita ajarkan yang benar. Tapi ketika mendapati ada yang sudah jatuh, mari dengan penuh kasih karunia, dengan hati dan matanya Yesus, hati yang penuh belas kasihan, kita layani dan bimbing mereka. Bukan dipermalukan, tapi dipulihkan dan disembuhkan. Karena tetap ada jalan pertobatan dan pemulihan di dalam Kristus.

H : Mengerikan sekali, fenomena yang Bapak sampaikan ini sudah sampai menjangkit warga gereja dan hamba Tuhan. Yang ingin saya tanyakan, sebenarnya apa akar penyebab dari kecanduan seksual itu ?

SK : Memang berangkat dari kebutuhan-kebutuhan dasar kita, sebagaimana Tuhan menciptakan manusia memiliki kebutuhan dasar. Paling tidak ada dua kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan untuk dikasihi. Yang kedua sebagai manusia ciptaan menurut gambar Allah, kita butuh untuk memiliki makna/arti hidup. Sayangnya dalam perjalanan hidup kita, orang tua kita tidak dapat memenuhi secara optimal kebutuhan dasar ini, di dalam masa tumbuh kita sebagai anak. Dan ditambah juga dengan rata-rata manusia dalam kadar tertentu, mengalami pengabaian dan penolakan baik secara pasif maupun aktif, mengalami beberapa pelecehan, kekerasan, bukan hanya secara fisik, verbal, emosional, bahkan beberapa mengalami pelecehan seksual. Sehingga kita bertumbuh dalam kebingungan identitas gender kita. Maka kita pun bergumul dengan rasa kesepian, kecemasan, kebencian pada diri sendiri, tertekan, merasa malu, merasa bersalah, merasa takut, semua itu membentuk kehidupan emosi yang kacau, galau dan merindukan penawar rasa sakit di batin kita ini.

H : Jadi rasa sakit ini bermula dari tidak terpenuhinya dua kebutuhan dasar tadi, Pak ?

SK : Ya, tidak terpenuhinya dan juga adanya kerusakan akibat perlakuan buruk atau pelecehan yang kita alami, misalnya dalam bentuk pelecehan atau trauma tertentu. Orang tua kita yang tidak memenuhi secara optimal dan dari segi tindak pelecehan ataupun trauma yang kita alami. Nah, hal inilah yang menyebabkan luka di emosi jiwa kita dan itu membuat kita secara alami membutuhkan kesembuhan atau rasa terobati dan butuh penawar rasa sakit.

H : Tadi Bapak sempat menyebutkan kalimat, "bertumbuh dengan kebingungan identitas jenis kelamin". Bisakah Bapak menjelaskan maksudnya bagaimana ?

SK : Ini sisi yang lain berkaitan dengan sisi pergulatan homoseksualitas. Saya ingin menegaskan bahwa homoseksualitas berakar dari soal kekaburan tentang identitas jenis kelamin. Jadi ini menjadi faktor orang mengalami kecanduan seksual. Misalnya, "Aku laki-laki atau perempuan, ya ? Fisikku laki-laki. Tapi aku tidak yakin. Kenapa aku menyukai laki-laki, ya ?" Atau, "Tubuhku perempuan tapi kenapa aku benci laki-laki ? Aku lebih tertarik pada perempuan yang tampil lebih lemah daripada aku ?" Ini juga menjadi bagian yang membuat orang mengalami rasa kesepian dan kebingungan akhirnya merindukan penawar rasa sakit itu.

H : Ini topik yang sangat menarik. Namun karena keterbatasan waktu, kita harus akhiri dulu sesi pertama ini. Apa pesan firman Tuhan yang ingin Bapak sampaikan untuk menutup sesi pertama ini ?

SK : Saya bacakan dari Kolose 3:5-6, "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]." Firman Tuhan ini menegaskan kepada kita bahwa adalah rancangan Allah untuk kita hidup di dalam nilai-nilainya Allah, membuang yang berasal dari dunia yang tidak mengenal Allah. termasuk di dalamnya hawa nafsu seksual, kenajisan, yang semua itu identik dengan penyembahan berhala bukan menyembah Allah yang benar. Jadi lewat bahasan kita di sesi awal tentang kecanduan seksual ini, mari kita menyadari ini bukan sekadar isu sosial tetapi isu rohani dimana kita perlu memilih Allah bukannya sekadar mengikuti keinginan kedagingan atau keduniawian kita ini.

H : Terima kasih, Pak Sindu, dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bapak Penginjil Sindunata Kurniawan M.K. dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang topik "Kecanduan Seksual" bagian pertama. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini, silakan menghubungi kami melalui surat yang dapat dialamatkan kepada Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org. Kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan, serta tanggapan Anda sangat kami nantikan. Akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan:

Kita bisa kecanduan pada banyak hal, termasuk terhadap orang lain. Telaga kali ini membahas secara khusus tentang kecanduan seksual. Kecanduan seksual bisa berkenaan langsung dengan orang lain, baik sejenis mau pun lawan jenis, bisa juga berkenaan dengan orang yang kita imajinasikan, pornografi dan fantasi romantik, yang dapat menjadi sangat adiktif bagi wanita.

Jarang kita mendengar seorang mencari pertolongan karena bergumul dengan kecanduan seksual. Sebagian karena orang tidak menyadari itu adalah masalah, sebagian karena kita anggap hal-hal itu terlalu pribadi dan personal sehingga tabu untuk diutarakan dan didengar. Padahal kecanduan seksual dapat merusak hubungan, menghancurkan pernikahan dan menggerus kehidupan. Sangat mungkin kita sedang menjalani kenyataan tersebut saat ini.

Kita adalah orang-orang yang diciptakan dengan kebutuhan-kebutuhan dasar: kebutuhan untuk dikasihi dan kebutuhan untuk memiliki makna. Sayangnya kebutuhan itu tidak dipuaskan orang tua kita dalam masa tumbuh kembang kita sebagai anak. Malah kita mengalami pengabaian, pelecehan, bertumbuh dengan kebingungan akan identitas jenis kelamin. Kita bergumul dengan kesepian, kecemasan, kebencian pada diri, stres, rasa malu dan rasa takut. Semua itu menyatu membentuk kehidupan emosional yang merindukan penawar rasa sakit. Sementara itu kita tumbuh dalam budaya yang mengajarkan kita untuk menghindari penderitaan dan rasa sakit. Untuk apa susah-susah, kalau ada cara yang mudah. Pada tahun-tahun awal kehidupan, kita sudah mengembangkan pola-pola menghindari rasa sakit.

Di saat memasuki usia remaja, dengan kehadiran masa puber dan kesadaran akan seksualitas kita, kerinduan terdalam kita akan hubungan dan keintiman, yang sesungguhnya baik dan benar, mengalami pembelokan. Kerinduan yang sesungguhnya hanya dapat dipuaskan dalam relasi intim dengan Bapa di Surga dan relasi yang sehat dengan sesama, kita lampiaskan dengan mengejar objek-objek pengganti yang lebih rendah. Berbagai jenis perilaku seksual menjanjikan dan memberikan penawar rasa sakit kita dalam ukuran tertentu. Ketika rasa sakit muncul kembali, kita kembali pada perilaku seksual yang sebelumnya memberikan rasa nyaman.

Pada awalnya seolah sangat memuaskan dan menggairahkan karena memberi ilusi keyakinan bahwa dengan cara ini kita dapat mengendalikan dan mengatur kehidupan emosional. Kita berpuas diri dengan keintiman palsu dengan laki-laki atau perempuan lain atau dengan imajinasi atau fantasi kita. Kita berharap hubungan yang sementara ini akan memenuhi kerinduan yang lebih dalam untuk dikasihi, dikenal dan diterima. Namun, sesungguhnya kita telah masuk dalam penyembahan berhala, di mana kita menciptakan dan menginginkan "berhala" yang dianggap bisa memberikan apa yang kita inginkan. Kita menyembah ilah-ilah palsu dengan cara menyerah kepada kuasa hasrat seksual dan relasional kita. Kita telah menyerahkan diri kepada hawa nafsu; dan keinginan kita, tak pernah dapat dipuaskan.

Pola kegiatan yang berulang-ulang atau kompulsif ini, dengan cepat berubah menjadi kecanduan dan mengakibatkan kita kehilangan kendali dan sulit dihentikan. Kita akhirnya terperangkap dan terpenjara dalam PENJARA KETIDAKPUASAN. Ironis. Semua alternatif pemuasan lainnya menjadi tertutup. Tiap kali rasa sakit muncul, kita secara otomatis bergerak menuju perilaku kecanduan. Hasrat seksual telah membawa kita ke dalam penjara kecanduan ketika kita mencoba memenuhinya dengan cara kita sendiri. Kita merasa seolah-olah pintu penjara telah terkunci dan kunci telah dibuang jauh—sehingga kita terpenjara selamanya dalam penjara buatan kita. Kita merasa harapan untuk bebas telah lenyap dan tidak mungkin bagi kita untuk hidup bebas dari pergumulan dan kecanduan itu. Kita pun berteriak dengan seruan Paulus, "Siapa yang akan menyelamatkan aku dari tubuh celaka ini?"

Kolose 3:5, "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala". Rancangan Allah agar kita hidup dalam nilai-nilai Allah, membuang yang tidak berasal dari Allah, termasuk hawa nafsu seksual, kenajisan yang semuanya itu identik dengan penyembahan berhala. Ini bukan sekadar isu sosial tetapi isu rohani.

Kita hidup dalam budaya yang menghindari rasa sakit, mencari cara yang mudah. Kecanduan seksual bisa dimulai sejak masa remaja. Perilaku seksual bisa berkaitan dengan fantasi seksual, pornografi. Ketika rasa sakit, rasa kosong itu muncul, hati galau, akhirnya kita kembali pada perilaku seksual yang telah memberikan rasa nyaman. Awalnya masih bisa dikendalikan, tapi sebenarnya sudah terjadi tindak penipuan, kebohongan.

Dimulai dengan ketidaksengajaan, sesekali sampai akhirnya tidak bisa dikendalikan lagi. Mulai mendewakan, meng-ilah-kan, menjadi poros atau pusat hidupnya. Semestinya datang kepada Tuhan dan tidak menyerahkan tubuh dan jiwa kita pada hasrat seksual ini. Pada titik itulah kita masuk ke penjara ketidakpuasan, ketidaknikmatan. Tanpa sadar akhirnya masuk ke dalam kondisi pornografi, fantasi-fantasi romantis, masturbasi.

Hidup dalam kemenduaan, di gereja sebagai aktifis gereja, majelis, hamba Tuhan tapi di kamar pribadinya dia menjadi pribadi yang lain. Ada rasa bersalah, tapi tidak bisa lepas.

BERITA BAIKNYA, kita BUKANNYA TANPA HARAPAN. Kita sesungguhnya diciptakan untuk sesuatu yang jauh lebih besar dari kecanduan!

SIFAT KECANDUAN
  1. Toleransi
    Kita membutuhkan dosis yang kian ditambah untuk mempertahankan atau meningkatkan sensasi kesenangannya. Bertambah dosis dan bertambah buruk dan merusak. Dalam hal kecanduan seksual, bermula dari masturbasi dan berkhayal, menjadi kecanduan pornografi yang makin parah, lalu ke film-film dan obrolan mesum melalui telepon atau internet, sampai pada hubungan seks bebas.
  2. Menarik Diri (withdrawal symptoms)
    Perasaan-perasaan tertekan, cemas ketika tak melakukan aktifitas kecanduan itu, menjadi mudah marah, gelisah, sakaw.
  3. Menipu Diri
    Penyangkalan atau memendam: tak melihat diri bermasalah, OK-OK saja. Rasionalisasi: sadar diri kecanduan, tapi mencari-cari alasan membenarkan diri. "Yah, setidaknya 'kan hanya masturbasi dan pornografi, 'kan tidak merugikan orang lain." Menunda : yah ini memang masalah. Saya pasti akan mencari pertolongan, .... Kekalahan yang pasif : kita menyerah akhirnya pada perilaku kecanduan kita karena berulangkali gagal. Merasa Diri Gagal dan Hancur: merasa sama sekali tak ada harga diri dan berantakan. Mulai berfantasi bagaimana kalau mengakhiri hidup saja. Atau pindah kerja, pindah kota.
  4. Distorsi Diri
    Karena sifat kecanduan yang berulang, kita mulai meyakini beberapa pernyataan keliru yang menyimpang tentang diri kita. Saya memang maniak seks; saya pada dasarnya jahat dan cabul, dari turun temurun; Allah tak mungkin bisa mengampuni saya; tak akan ada yang mau terima saya kalau mereka tahu apa yang saya lakukan.
  5. Kesombongan
    Yakin mampu mengatur perilaku kecanduan, "Saya dapat berhenti kapan pun saya inginkan. Saya bisa mengontrol sendiri hal ini. Saya mampu berubah jika saya mau." Keyakinan ini lahir karena tidak memahami sifat dan kuasa dari kecanduan.
  6. Fiksasi (perasaan terikat atau terpusat pada sesuatu secara berlebihan)
    Kita merasa terjerat benar dengan kecanduan seksual. Tiap hari atau jam tanpa memikirkannya, merencanakan atau mengkhayalinya, merampas atau merampok perhatian dan energi kita dari aktivitas-aktivitas sehat lainnya. Seks bukan lagi diterima sebagai anugerah tapi menjadi segala-galanya dalam pengertian yang dangkal dan mekanis.
    Galatia 5:1, "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan". Kita bicara tentang bentuk keterbelengguan seksual. Itu rancangan iblis dari dunia yang tidak mengenal Allah, rancangan Allah, kita merdeka.
SIKLUS KECANDUAN
Ada siklus kecanduan seksual yaitu :
  1. Pemicu/ Trigger
    Yakni peristiwa atau perasaan yang menyebabkan semacam rasa sakit yang ingin kita hindari. Pemicu bisa berupa rasa tertekan, kecemasan, rasa sakit hati, konflik relasi, pembicaraan yang sulit, rasa tidak nyaman pada umumnya, penolakan, hari yang buruk, sebuah konfrontasi, pikiran yang putus asa, perasaan yang ditinggalkan, kesepian, perasaan buruk lainnya. Pemicu bisa berupa stimulus dari luar seperti: gambar-gambar di pinggir jalan, sampul majalah, 'chatting', berita atau gambar di internet, perjumpaan dengan orang tertentu yang memiliki sifat tertentu, wajah, kepribadian tertentu yang mengingatkan kita akan perilaku cabul di masa lalu.
  2. Preokupasi/ Keterlenaan
    Pikiran kita mengambil alih dan melampaui kendali kita. Di sini kita bergerak aktif ke arah kecanduan. Kita memilih untuk melakukan hal yang telah kita kenal dengan baik yang mampu memberikan kepuasan yang lebih rendah, dengan harapan, kita bisa memperoleh kelegaan. Ada perasan terhanyut, lepas kendali.
  3. Ritualisasi
    Kita mulai merencanakan untuk mencapai sasaran kita. Mungkin meninggalkan kegiatan kita lebih awal, merencanakan di mana bisa sendirian, menutup pintu agar tak ada yang akan mengganggu. Kita berhenti berpikir tentang apa pun yang lain. Kita terfokus pada gerak memuaskan keinginan kita. Terhisap ke dalam dengan tarikan yang kuat dan tak dapat dihentikan. Ibarat permainan kereta luncur ('roller-coaster') kita pelan-pelan sudah mendekati titik tertinggi dan siap turun dengan begitu cepat.
  4. Respons/ Tanggapan (Bertindak)
    Di sini kita bertindak sesuai keinginan kita dan terikat perilaku tersebut. Lampiaskan dorongan yang kita rasakan: pornografi, fantasi, seks bebas atau hal lain yang kita pakai saat itu. Inilah eksekusi dari ritualisasi.
  5. Keputusasaan
    Setelah terpuaskan, kita kemudian segera merasakan rasa bersalah dan keterputusasaan. Begini lagi, begini lagi. Kita menyalahkan diri, menghukum diri. Rasa bersalah dan rasa malu ini dapat juga membawa kita kembali ke langkah pertama siklus, menjadi pemicu/ trigger baru. Muncullah pikiran-pikiran: saya memang tak berharga, tak akan ada yang bisa menolong saya, Allah tak mungkin mengampuni saya. Siklus ini berulang dalam hitungan hari, jam, menit ; mengendalikan dan menggerogoti hidup kita.

KEMERDEKAAN DARI KECANDUAN
Yesus datang untuk membebaskan tawanan. Kitalah tawanan dari kecanduan kita. Segala cara yang kita lakukan tak menghasilkan apa-apa.

Maka jelaslah LANGKAH PERTAMA adalah :
  1. Pengakuan
    Kecanduan makin berkembang dengan subur dalam kegelapan. Selama kita bersikeras menyimpan rahasia, kecanduan akan terus memenjarakan kita. Yohanes 3:20-21, "Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak; tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah". Kita harus membawanya dalam terang lewat pengakuan. Berseru pada Roh Kudus untuk memampukan kita dalam mengakui kelemahan dan menghadapi rasa malu. I Yohanes 1:6-7, "Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa". Sebenarnya relasi kita itu segitiga : ada Allah, ada kita pribadi dan saudara seiman kita. Allah terang, jadi kita adalah anak-anak terang. Praktek saling mengaku dosa kepada sesama saudara seiman merupakan praktek Bapa-Bapa gereja.
  2. Kenali Siklusnya.
    Pada saat kita mengetahui pemicunya, kita hindari pemicu tersebut. Ada tindakan konkret yang harus kita lakukan.
  3. Kembangkan Rencana Konkret.
    Jauhi teman-teman yang dulu, misalnya sama-sama pecandu internet, pembuka situs porno dan lain-lain. Dalam merencanakan sebaiknya kita melibatkan pasangan kita. Dosa paling subur jika kita sendirian.
  4. Rangkul Gaya Hidup Rendah Resiko.
    Batasi jam di depan internet, batasi waktu ketika kita sendirian. Batasi jam kerja, berani berkata "tidak" walaupun itu pelayanan. Kita membutuhkan jadwal hidup yang tidak padat dan membangun relasi yang mendalam dengan orang lain. Godaan seksual karena miskin relasi, baik dengan keluarga maupun dengan Allah dan diri sendiri. Pilihlah film yang aman dari gangguan seksual. Buat jadwal hidup yang lebih sehat, ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk istirahat, ada waktu untuk hal-hal yang serius, ada waktu untuk santai, ada waktu untuk melayani orang lain, ada waktu untuk melayani diri sendiri, ada waktu untuk memberi diri kepada orang lain, ada waktu untuk kita menerima diri kita, ada waktu kita mencurahkan pikiran kepada orang lain, ada waktu dimana kita membangun relasi dengan orang-orang terdekat kita.
  5. Membangun Pertanggungjawaban atau Akuntabilitas.
    Lewat kejujuran kita membangun integritas. Kita boleh gagal tapi kegagalan ini bisa kita ceritakan kepada orang lain supaya kita tidak semakin terpuruk. Kelompok akuntabilitas ini akan semakin efektif jika ada seseorang yang bisa menjadi motor tapi jika kita bukan tipe orang yang bisa memulai, kita bisa mengikuti kegiatan seperti kamp interdenominasi dimana kita bisa bertemu dengan orang yang sekota. Fasilitator atau pemimpin kelompok kita akan menjadi alat Tuhan yang membantu kita menemukan saudara seiman yang membangun komitmen yang sama untuk bertumbuh dalam kelompok akuntabilitas tersebut.
  6. Kembangkan Perhatian Diri.
    Kembangkan waktu untuk diri sendiri, termasuk nutrisi untuk jiwa, kembangkan hobi. Ada 2 sisi, yaitu sisi lain dari pemuridan adalah pemulihan sedangkan sisi lain dari pemulihan adalah pemuridan. Dua sisi ini perlu diperhatikan. Targetnya adalah mengenali hal yang di dalam diri kita. Kita perlu diri yang bertumbuh. Kembangkan kebiasaan dengan memakai bahasa tubuh. Para aktivis gereja atau hamba Tuhan lebih berelasi di level pikiran kognitif, tapi kering dalam hal relasi emosional, pujian yang membangun. Tumbuhkan budaya yang sehat.

Questions: