BETA
Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan II
Sumber: telaga
Id Topik: 1055

Abstrak:

Sebagaimana kita ketahui, siapakah diri kita sekarang merupakan kepanjangan atau produk dari masa lalu yang kita alami. Dan, masa lalu yang buruk berpotensi besar memburukkan pertumbuhan diri, yang pada akhirnya berdampak negatif pada pernikahan. Itu sebabnya kita mesti menata ulang dan merenda diri secara lebih sehat agar pernikahan menjadi sehat pula. Saya akan membagikan empat langkah untuk membangun pribadi yang sehat, yang saya rangkumkan dalam empat tema:
  1. saya tidak bahagia,
  2. saya tidak layak,
  3. saya tidak berfungsi, dan
  4. saya tidak menyerah.

Transkrip:

 

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen dan kali ini saya bersama Ibu Dientje Laluyan, kami akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang "Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan" bagian yang kedua, yang merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu, kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

 

GS : Pak Paul, pada kesempatan yang lalu kita sudah membicarakan tentang "bagaimana merajut masa lalu dan merenda masa depan" dalam hubungan keluarga. Supaya para pendengar kita pada saat ini bisa mengingat kembali atau mungkin bahkan yang baru kali ini bergabung dengan kita bisa mengikuti perbincangan ini selanjutnya secara lengkap, mungkin Pak Paul bisa mengulang secara cepat apa yang pernah kita bicarakan pada kesempatan yang lampau.

PG : Pada dasarnya kita sedang membahas problem dalam keluarga dan biasanya kita beranggapan kalau ada masalah dalam keluarga berarti keduanya ada masalah, tetapi saya juga mau mengangkat sisi yang satunya yaitu kadang-kadang sebetulnya satulah yang lebih bermasalah daripada yang lainnya. Penting bagi kita untuk masing-masing menengok ke dalam dan melihat diri kita serta kita juga harus berkata, "Inilah kelemahan saya, inilah kekurangan saya dan saya juga mau berubah" karena kalau kita tidak berubah maka kita tidak bisa menikmati pernikahan yang sehat. Berangkat dari bingkai ini kita mulai membahas langkah-langkahnya apa yang harus kita lakukan. Pertama-tama yang saya coba lakukan adalah menjelaskan mengapa ada orang-orang yang masuk ke dalam pernikahan membawa masalah, saya mencoba menjelaskan bahwa besar kemungkinan orang yang masuk ke dalam pernikahan membawa masalah adalah orang yang dibesarkan dalam keluarga bermasalah. Mengapa keluarga mereka bermasalah ? Pada dasarnya kalau boleh saya sederhanakan, ada dua orang yang tidak bahagia dalam rumah tangga itu, apa pun penyebabnya tetapi intinya adalah si ayah dan si ibu tidak bahagia, karena dua-dua tidak bahagia keduanya akan menurunkan ketidakbahagiaan itu kepada anak-anaknya. Dampaknya adalah pada akhirnya anak-anak itu akan beranggapan bahwa mereka tidak akan layak dan tidak seharusnya layak mencicipi kebahagiaan itu, sudah terlalu lama menyaksikan ketidakbahagiaan orang tuanya. Mereka pun beranggapan, "Saya tidak layak untuk bisa hidup dan bahagia". Akhirnya ada masalah lain lagi yaitu dia dituntut orang tuanya untuk membahagiakan baik papa maupun mama atau keduanya. Jadi akhirnya bagi sebagian anak-anak misi hidupnya hanya satu yaitu membahagiakan orang tua sehingga akhirnya ini menjadi beban dalam dirinya. Waktu mereka masuk dalam pernikahan, sayangnya beban ini juga diembankan kepada pasangannya, "Aku tidak bahagia, aku harus membahagiakan orang tuaku, aku harus memberikan begitu banyak kepada orang tuaku, kamu juga sekarang beri kepadaku kebahagiaan itu. Kamu juga sekarang ringankan bebanku", akhirnya kita memberikan beban atau tanggungjawab itu kepada pasangan kita untuk membahagiakan kita. Kalau dia tidak melakukannya, kita marah, kita merasa tertolak, kita akan menuntut dia memberikannya kepada kita. Jadi mulai proses yang baru.

GS : Selain orang itu merasa tidak bahagia, apakah ada yang lain, Pak Paul ?

PG : Yang ketiga, kita merasa tidak berfungsi. Setelah kita merasa tidak layak untuk mendapatkan kebahagiaan, kita berkata, "Aduh saya juga tidak bisa berfungsi" mengapa ? Kegagalan demi kegagalan yang harus kita lewati, misalnya kita gagal membina pertemanan sehingga akhirnya harus sendirian, persahabatan hanya dangkal saja dengan orang-orang yang seperti kita ini. Mengapa, mungkin kita juga menjaga jarak, tidak mau dikecewakan oleh orang lain, jadi berteman seaman mungkin dan berusaha memelihara jarak senyaman mungkin. Kerja sama menjadi masalah untuk kita, kita tidak bisa bekerjasama, susah sekali, kalau bekerja sendiri bisa beres, kerjasama susah jadi akhirnya kita mengalami kegagalan. Pernikahan juga memunyai masalahnya sendiri karena kita banyak menyalahkan pasangan maka pasangan juga tidak terima, kita tidak bisa lagi berkata bahwa kita menikmati pernikahan yang harmonis. Kita merasa pasangan kita tidak menghargai kita, kita merasa semua orang menolak kita akhirnya kita melihat diri sebagai orang yang tidak lagi berfungsi.

GS : Mungkin akarnya karena dia merasa tidak layak, tidak pantas untuk menerima itu, untuk berteman atau untuk meraih suatu kesuksesan. Dia merasa tidak pantas, tidak layak untuk itu, begitu Pak Paul.

PG : Orang yang sudah berpikir negatif, dia tidak layak memang tidak lagi bisa berfungsi dengan optimal, semuanya lebih sering gagalnya daripada suksesnya dalam hidup, karena memang benar-benar dia susah sekali berteman, sebab bisa dimengerti teman juga agak enggan berkawan dengan dia karena lelah akhirnya dia dijauhkan dari orang-orang lain. Makin dia sendirian makin ia merasa terkucilkan, dia akan tumpahkan semua itu pada pasangannya atau pada anak-anaknya.

DL : Kemudian kalau dia menderita sakit yang berkepanjangan itu tambah membuat dia lebih parah lagi.

PG : Biasanya begitu, Bu Dientje sebab ia makin tidak berdaya, ia makin merasa butuh dikasihi, diperhatikan. Dia akan menambah tuntutan itu kepada pasangannya atau kepada anak-anaknya.

GS : Tadi Pak Paul katakan bahwa orang seperti ini masih bisa berhasil kalau dia bekerja sendiri, itu bagaimana, Pak Paul ?

PG : Masalahnya dia bukan orang yang tidak sanggup bekerja, tidak memunyai talenta untuk berusaha, bukan ! Misalkan dia orang yang cerdas memunyai banyak kemampuan, tetapi masalahnya adalah dengan kerjasama karena kerjasama mesti mengalah, mesti bisa mengerti perasaan orang, mesti bisa memberikan kebutuhan yang dibutuhkan oleh orang lain, mesti realistik dalam menuntut orang kepada diri kita dan sebagainya. Hal-hal seperti itu tidak ada dalam dirinya.

GS : Apakah orang-orang seperti ini menyadari bahwa sebenarnya dia bisa berhasil pada suatu sisi, Pak Paul ?

PG : Kalau memang dia menyadari dia memunyai kemampuan dan dia bisa mengerjakannya sendiri, ya bisa oleh karena itu cukup banyak orang-orang seperti ini kalau tidak harus bekerjasama dengan orang lain, Oke-Oke saja dalam pekerjaannya, karena tidak harus bentrok dengan orang lain. Kalau dia menjadi atasan dan semuanya menjadi bawahan, tapi begitu dia harus bekerjasama dengan orang itu akan menjadi masalah. Kalau dia berkeluarga lebih sering konflik kecuali baik pasangan atau anak-anaknya berusaha sekeras mungkin mengerti apa yang dituntut oleh dia sehingga bisa hidup relatif harmonis.

DL : Menghadapi orang seperti ini susah ya, kita harus semakin dewasa untuk menolong, membimbing orang seperti ini, Pak Paul.

PG : Betul dan akhirnya memang dalam kesempatan yang lalu kita sudah membahasnya, pasangan akan terlalu lelah sebab yang satu akan berkata, "Kok searah, saya menjadi penyuplai, saya memberi saya memberi, kapan saya menerima ? Mengapa terus-menerus saya yang harus memberi dan mengerti, kapan giliran saya ? Akhirnya yang seorang merasa lelah.

GS : Kalau dia bekerjasama dengan orang lain sudah susah, apa untungnya dia menikah, bukankah lebih baik tidak usah menikah, hidup sendiri dan menikmati kesendiriannya itu.

PG : Sudah tentu ada faktor sosial budaya bahwa dalam masyarakat kita adanya tuntutan untuk menikah, kalau tidak menikah dianggap mungkin ada masalah sehingga orang terbiasa untuk menikah dan sudah tentu ada rasa cinta juga dengan pasangannya. Pointnya selain dari cinta dia juga akan embankan kepada pasangannya adalah tuntutan, tidak bisa tidak dia akan meminta itu. Pada akhirnya kalau itu yang dialami, pasangannya terlalu lelah, anak-anaknya menjauh dari dia dan tidak ada teman-teman, dia merasa putus asa, sedih, merasa terkucilkan dan hidupnya seperti perjalanan tanpa arah, berputar-putar begitu saja, asal melewatkan hari sehingga arah hidupnya tidak ada lagi. Benar-benar makna hidup pudar semuanya, pada tahap ini biasanya anak-anak sudah mulai keluar rumah, dia tinggal mengurus anak-anak yang sudah mandiri, hubungan dengan pasangannya renggang tidak ada lagi perasaan intim yang tersisa. Mungkin kalau masih bisa bekerja satu-satunya penghiburan kita, biasanya hati kita kosong tidak bahagia sama sekali. Kalau sudah sampai tahap itu, kita sudah merasa tidak ada fungsinya lagi hidup ini, tidak ada gunanya hidup ini, kita pun akhirnya tidak lagi menuntut pasangan atau siapa pun untuk membahagiakan kita. Kita akan berkata, "Sudahlah saya tidak mendapatkannya, orang mau memberi ya boleh, tidaklah ya sudah".

GS : Apakah ini terkait dengan harga diri seseorang, Pak Paul ?

PG : Sudah tentu, Pak Gunawan, sebab biasanya memang ini berawal dari penghargaan diri yang berlebihan. Yang berlebihannya bermasalah, karena itu dia tidak bisa berdiri sendiri, dia selalu membutuhkan orang untuk menopangnya, menyuplai hal-hal yang baik, hal-hal yang dia butuhkan untuk dirinya sendiri.

DL : Itu berakibat kepada anak-anak juga, Pak Paul ?

PG : Biasanya begitu, Bu Dientje karena dia akan menuntut anak-anaknya begitu untuk dia, membuat dia merasa bahagia, jangan menyusahkan. Tolong buat saya lebih bahagia, lebih bangga sebagai orang tua jadi beban itu diembankan kepada anak-anaknya.

GS : Apakah ada sikap yang lain lagi, Pak Paul ?

PG : Kalau kita mengatakan, "Oke-lah saya produk dari orang tua yang tidak bahagia dan Oke-lah saya menjadi orang yang anggap diri tidak layak di dalam hidup, tidak layak menerima kebahagiaan dan akhirnya kita menyadari kita orang yang tidak berfungsi dan satu lagi yang saya ingin tekankan adalah kita mesti berkata, "Saya tidak menyerah", tidak peduli berapa pun usia kita dan bila kita menyadari bahwa inilah gambaran diri kita, masih ada yang dapat kita lakukan. Syaratnya satu, yaitu "Saya tidak menyerah". Langkah pertama kalau kita membahas tentang topik "Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan", langkah pertama adalah membuka mata lebar-lebar dan melihat apa yang telah terjadi, kita mesti melihat apa yang telah kita alami tanpa rasa takut menghakimi atau memihak pada siapa pun, kita mesti melihat apa yang terjadi antara orang tua kita dan apa yang orang tua kita telah lakukan kepada kita ? Jangan tergesa-gesa mencoba mengerti orang tua, jangan tergesa-gesa mencuci bersih tindakan yang salah, coba lihat apa yang telah terjadi. Memang ini tidak terlalu mudah sebab kecenderungan kita adalah untuk mendistorsinya, kita telah terlatih untuk tidak melihat apa adanya, sebaliknya kita terlatih untuk melihat yang sesuai keinginan dan harapan kita. Dengan perkataan lain, kita harus melihat apa adanya dan dalam proses pertama ini kita mesti rela melepaskan gambar kehidupan kita yang telah kita bangun selama ini, sebab bisa jadi gambar itu tidak tepat.

GS : Itu suatu perubahan yang sangat radikal untuk saya, Pak Paul, dari seseorang yang merasa tidak berfungsi, merasa tidak layak lalu tiba-tiba dia bisa merasa "saya tidak boleh menyerah dalam keadaan ini", tentu ada sesuatu yang menggugah dia untuk membuat dia tidak menyerah, begitu Pak Paul.

PG : Dia mesti melihat ke depan dan berkata, nomor satu, apakah dia mau menghabiskan sisa hidupnya seperti ini terus ? Pertanyaan ini harus dijawab, sebab kalau dia tidak berbuat apa-apa akan seperti ini terus, oleh karena itu kita sudah baca di Roma 12:2 kita diminta Tuhan untuk berubah oleh pembaharuan budimu supaya kita bisa membedakan manakah kehendak Allah dan manakah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, jadi memang kita mesti berubah. Kalau kita tidak berubah inilah hidup kita sampai nanti kita meninggalkan dunia ini. Jadi kita mesti mengambil keputusan apakah kita mau begini terus, kita mungkin tidak bisa mengubah pasangan kita tetapi kita masih bisa mengubah diri kita asalkan kita mau datang kepada Tuhan, mengakui apa adanya diri kita dan Dia akan memberikan kepada kita kekuatan untuk berubah itu.

GS : Dan itu pun kadang-kadang dialami seseorang dengan jatuh bangun, artinya suatu saat timbul semangat bahwa dia tidak akan menyerah tetapi setelah dilihat hasilnya kurang memuaskan, tidak secepat yang dia inginkan, dia akan kembali lagi, merasa percuma ini.

PG : Betul, jadi kegagalan untuk benar-benar memulai sesuatu yang baru bisa melemahkan semangatnya dan yang kedua, kita merasa tidak begitu rela melepaskan yang lama. Saya berikan contoh, misalnya ada orang berkata, "Meskipun keluarga saya susah, keluarga saya bermasalah tetapi kami tidak pernah meminta kepada orang", jadi kita mungkin saja mengambil sesuatu dari keluarga kita yang dulu dan menjadikannya sebagai kebanggaan kita. Ini yang kita jadikan identitas diri kita, pokoknya saya tidak akan minta, jadi berusaha sendiri. Kebanggaan itu yang nanti harus kita lepaskan, pada waktu kita mau berubah kita mesti berubah tuntas tidak bisa sepenggal-sepenggal. Kita harus melepaskan hal-hal yang tadinya kita pakai sebagai kebanggaan kita, apa pun itu. Contoh misalnya ada orang berkata begini, "Saya tidak akan pernah menunjukkan diri lemah sebab saya mesti kuat", nah kekuatan itu menjadi kebanggaan dia. Pada waktu dia diminta untuk melihat kondisi keluarganya seperti apa adanya, dia tidak rela untuk melepaskan gambar diri atau kebanggaannya itu bahwa ini sebetulnya kosong, sudah lepaskan. Bangun yang baru dari nol lagi, biasanya dia juga tidak siap.

GS : Bukan hanya tidak mau melepaskan, Pak Paul, tetapi ada sesuatu kekuatiran kalau ini dilepaskan dia malah tidak memunyai apa-apa lagi.

PG : Betul, saya masih ingat dia berbicara pada seseorang berkali-kali, :Saya orangnya keras", ini sering saya dengar dari orang yang memang dari keluarga yang keras seperti itu. Pertanyaannya adalah mengapa harus dipegang ? Harus dilepaskan bahwa saya bukan lagi orang yang keras, tetapi saya mau menjadi orang yang bijaksana, orang yang rendah hati, orang yang terbuka. Mengubah gambar diri dan menggantikannya dengan yang baru ternyata memang tidak semudah itu, kita seringkali masih mau memegang yang dulu itu sehingga kita tidak rela melepaskan karena itu sudah menjadi jati diri kita. Ada juga yang berkata begini, "Saya dengan orang kalau baik akan baik, kalau orang jahat kepada saya maka saya akan lebih jahat lagi, saya akan mendendam kepadanya", seringkali hal itu menjadi kebanggaan dirinya. Untuk melepaskan dan berkata, "Tidak lagi, saya mau menjadi orang yang sekarang pengampun, menjadi orang yang murah hati" susah, jadi seringkali ketidakrelaan kita menghalangi kita untuk berubah.

DL : Itu karena prinsip yang sudah dia pegang dari kecil sehingga susah.

PG : Betul, dan yang biasanya memang dia peroleh dari keluarga asalnya yang bermasalah itu, jadi tidak bisa dilepaskan dengan mudah.

GS : Kalau kita sudah melangkah dengan mencoba berani melihat apa adanya, selanjutnya apa, Pak Paul ?

PG : Kita mesti melihat dampak semua itu pada diri kita. Langkah kedua misalnya kita berkata, "Karena dulu kenyang dikritik orang tua akhirnya kita menjadi orang yang kritis, sukar menerima baik kelemahan diri sendiri atau orang lain", Kita mesti mengakui hal itu jangan malah kita membanggakan diri, "Saya orangnya kritis" dan lain-lain. Justru kita harus berkata, "Oleh karena saya sering dikritik saya menjadi orang yang sukar menerima kritikan, sukar menerima kelemahan diri atau orang lain". Atau misalnya orang tua kita mengeluh terus, semuanya disalahkan, kita mungkin menjadi orang yang tidak mudah atau tidak pernah memercayai orang lain. Sebab kita selalu melihat manusia secara negatif misalnya yang lain lagi, oleh karena kita harus hidup dalam ketidakbahagiaan karena orang tua kita tidak bahagia akhirnya bukan saja kita menjadi orang yang tidak bahagia tetapi kita juga merasa diri tidak layak untuk mengecap kebahagiaan. Dampak lainnya yang kitabisa lihat adalah tuntutan orang tua untuk kita membahagiakannya, membuat kita kehilangan diri kita. Kita tidak mengetahui siapa diri kita, kita tidak mengetahui ke mana arah hidup kita, pada akhirnya kita menjadi orang yang sulit didekati, sulit dikasihi, sulit dihargai, ibaratnya kita menjadi seperti pohon di tengah pulau yang kosong. Itulah dampaknya pada diri kita oleh karena apa yang telah kita alami itu.

GS : Kalau kedua hal itu sudah kita jalani tahap demi tahap dan akhirnya kita bisa menjalani itu semua, berikutnya yang kita alami apa, Pak Paul ?

PG : Setelah kita berhasil mengakui semua itu kita lihat apa yang telah terjadi, kita juga melihat dampaknya pada diri kita, baru kita mulai bisa merajut masa lalu, kita menjahit sebuah diri yang bernama saya, inilah diri kita yang seutuhnya karena kita berhasil merajut semua potongan hidup kita yang tadinya tercecer dan terlupakan, sebelumnya kita belum memunyai diri yang utuh karena kita membangun konsep siapakah diri kita di atas satu atau dua puing yang kita banggakan tadi. Baik atau buruk, membanggakan atau memalukan, hitam atau putih, kudus atau kotor, semua dirajut menjadi sebuah baju atau sebuah diri yang bernama saya. Nah, inilah langkah ketiga, proses ini memang membingungkan sebab kita tidak mengetahui lagi dengan pasti perasaan apa yang mesti kita labelkan. Dulu kita bisa melabelkan rasa bangga, sekarang tidak ada lagi namun kita tidak mengetahui kata apakah yang mesti kita tempelkan untuk menggantikan rasa bangga itu, tidak ada sekarang, jadi merajut masa lalu untuk menjadi pakaian yang bernama saya memang tidak bertujuan untuk dipajang atau diperagakan. Tujuannya hanyalah satu yaitu membuat pakaian atau diri apa adanya, tanpa label tanpa merek, namun setidak-tidaknya kita bisa berkata, bahwa pakaian ini atau gambar diri ini sekarang pas untuk kita. Kita juga merasa lebih bebas tidak lagi terikat, kita lebih bisa menjadi diri kita sendiri, sebelumnya tidak meskipun kita memunyai kebanggaan-kebanggaan sesungguhnya kita tidak bebas karena justru kita dipasung oleh kebanggaan itu. Kita juga tidak bebas memperlihatkan diri apa adanya sebab kita tidak siap namun sekarang berbeda. Kita mungkin tidak memunyai kebanggaan apa-apa tetapi kita merasa lebih bebas, inilah diri kita dan kita tidak lagi terlalu kuatir bagaimana orang nanti menilai kita.

GS : Sebenarnya pada titik itu orang mulai menemukan jati dirinya sendiri, siapa dirinya sendiri yang dia terima pada saat itu, dia harus menerima apa adanya, begitu Pak Paul.

PG : Betul sekali, dalam kondisi itulah kita baru mulai bisa merenda hidup kita, maksudnya kita baru bisa ibaratnya membubuhkan bordiran. Kita menambahkannya satu demi satu di baju kita, kita menyadari apa yang dapat kita lakukan dan apa yang tidak dapat kita lakukan dengan baik. Kita menyadari kebutuhan kita sekaligus tanggungjawab kita untuk memenuhinya, kita menyadari batas antara diri kita dengan orang lain. Kita tidak bisa masuk seenaknya ke dalam wilayah orang dan menuntutnya memberi kepada kita sesuatu yang kita inginkan. Kita juga menyadari sumbangsih yang dapat kita tebarkan namun kita juga maklum bahwa orang tidak berkewajiban menerima apalagi menghargai sumbangsih kita, kita sadar bahwa pemberian bukanlah pemaksaan. Pada waktu kita memberi sesuatu bukan memaksa orang memberikan kepada kita apa yang kita harapkan. Kita memberi karena kita bersedia berbagi diri dengan sesama, bukan supaya ia berbagi dengan kita dan ini yang penting dalam merenda masa depan barulah kita sadar bahwa kita tidak perlu besar dan penting untuk bahagia. Yang membuat bahagia adalah menikmati apa yang telah diberikan Tuhan dan memberikannya kembali kepada Dia.

GS : Apakah di sini sikap pasangan atau anak itu tidak lagi memengaruhi orang ini, Pak Paul ?

PG : Masih ada sedikit banyak, tapi setidak-tidaknya dia sudah lebih stabil, dia tidak lagi terlalu diatur atau dipengaruhi oleh apa yang dilakukan oleh orang lain, baik itu pasangannya maupun anak-anaknya.

DL : Tapi itu memakan waktu proses yang cukup panjang, Pak Paul ?

PG : Biasanya iya, Bu Dientje.

DL : Benar-benar pergumulan dalam dirinya dengan Tuhan.

PG : Ini point yang bagus bahwa memang mesti ada pergumulan, tetapi kita tidak menyerah dan tidak mau mengambil jalan pintas. Jalan pintas adalah menyalahkan orang, membuat orang lain yang rasanya bersalah, tidak bisa berbuat apa-apa untuk kita, tetapi kita menyerahkan ini kepada Tuhan dan kita sadari bahwa kita yang harus bergumul. Sekali lagi yang saya ingin ingatkan kepada kita semua adalah kita mesti sadari bahwa kita memunyai bagian yang harus kita lakukan.

GS : Apakah ada ayat firman Tuhan yang mendukung hal itu, Pak Paul ?

PG : Firman Tuhan di Amsal 28:19 berkata, "Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan". Ada yang diberikan tanah yang luas, ada yang diberikan tanah yang kecil, terpenting adalah kita mengerjakan tanah kita sendiri. Tuhan telah berjanji bahwa apabila kita mengerjakan tanah sendiri atau hidup kita sendiri kita akan kenyang. Dengan perkataan lain, tidak peduli ukuran luasnya, semua tanah yang diberikan Tuhan cukup untuk mengenyangkan kita. Fokuskan pada diri kita apa yang harus kita lakukan dan Tuhan pasti akan menolong kita.

GS : Apakah kita tergoda untuk melihat lahannya orang lain, yang lebih subur, yang lebih enak daripada lahan kita sendiri, Pak Paul ?

PG : Cenderungnya begitu, kita mengejar fantasi ke kiri ke kanan, "Aduh betapa enaknya orang ini" dan sebagainya, tetapi jangan menolak mengerjakan tanah sendiri. Jangan berkata, "Hidup saya hanya begini saja". Ingat tanah sendiri, baju sendiri, diri sendiri itulah pemberian Tuhan kepada kita. Apa yang terjadi pada masa lalu, rajut semua potongan yang terkoyak menjadi satu diri atau pakaian yang pas dan nyaman. Setelah itu barulah kita mulai kerjakan, bangun diri yang baru dan kita katakan, "Inilah saya", kita menikmati apa yang Tuhan berikan dan kita berikan kembali kepada Tuhan.

DL : Berarti intinya kita harus bersyukur di atas semuanya itu, menjalani dengan berserah kepada Tuhan.

PG : Harus penuh syukur, jangan kita menengok ke kanan ke kiri, apa yang orang lain punya dan saya tidak punya. Kita syukuri apa yang telah Tuhan berikan, kita bangun dari situ hidup kita.

GS : Sebenarnya bagian yang diberikan oleh Tuhan kepada kita, itulah yang paling pas buat kita, Pak Paul. Kalau kita mengerjakan yang lebih besar mungkin tidak kuat tetapi yang lebih kecil kurang baik.

PG : Betul.

GS : Terima kasih Pak Paul, untuk perbincangan ini dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang "Merajut Masa Lalu, Merenda Masa Depan", yang merupakan kelanjutan dari perbincangan kami terdahulu. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan Anda menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@telaga.org kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.


Ringkasan:

Neal Clark Warren, seorang psikolog Kristen di Amerika, menegaskan bahwa seberapa sehatnya suatu pernikahan sesungguhnya bergantung pada seberapa tidak sehatnya si suami atau si istri itu sendiri.

Martin Berkowitz, seorang pakar pendidikan karakter di Amerika, menyimpulkan dengan tepat, "Cara terbaik menciptakan dunia yang lebih adil dan lebih mempedulikan satu sama lain (caring) adalah dengan cara menciptakan manusia yang lebih adil dan lebih mempedulikan satu sama lain." Singkat kata, cara terbaik menciptakan pernikahan yang lebih sehat adalah dengan cara menciptakan pribadi suami dan istri yang lebih sehat pula.

Firman Tuhan pun mengajarkan hal yang sama. Perubahan atau transformasi mesti terjadi pada level pribadi, sebagaimana disarikan dengan indah dalam Roma 12:2, "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna."

Sebagaimana kita ketahui, siapakah diri kita sekarang merupakan kepanjangan atau produk dari masa lalu yang kita alami. Dan, masa lalu yang buruk berpotensi besar memburukkan pertumbuhan diri, yang pada akhirnya berdampak negatif pada pernikahan. Itu sebabnya kita mesti menata ulang dan merenda diri secara lebih sehat agar pernikahan menjadi sehat pula. Saya akan membagikan empat langkah untuk membangun pribadi yang sehat, yang saya rangkumkan dalam empat tema:
(a) saya tidak bahagia,
(b) saya tidak layak,
(c) saya tidak berfungsi, dan
(d) saya tidak menyerah.

Ø  SAYA TIDAK BAHAGIA

Berikut akan dijelaskan beberapa ciri relasi yang tidak membahagiakan dan dampaknya pada anak.

Pertama, secara alamiah kita tidak nyaman dengan ketidakbahagiaan dan akan berusaha untuk mengeluarkannya.
Masalahnya adalah, bukan saja kita melampiaskan ketidakbahagiaan itu kepada satu sama lain, kita pun melampiaskannya pada anak-anak pula. Jadi, dimulailah sebuah siklus berputar: Karena merasa tidak bahagia, kita melampiaskannya pada satu sama lain. Alhasil baik pasangan maupun anak merasa tidak bahagia karena ditimpakan ketidakbahagian. Mereka pun melemparkan ketidakbahagian itu kepada kita. Begitu seterusnya.

Kedua, akibat perputaran ketidakbahagiaan itu, sebenarnya ketidakbahagiaan bertambah besar dan bertambah kompleks.
Ketika suami merasa tidak bahagia dan melemparkan ketidakbahagiannya itu kepada si istri sehingga membuat si istri tidak bahagia. Sewaktu orangtua melemparkan ketidakbahagiaannya kepada anak, tidak bisa tidak, anak akan menyerap dua ketidakbahagiaan—dari ayah dan ibu. Bukan saja bertambah besar, ketidakbahagiaan itu makin bertambah kompleks. Anak akan bingung karena ia melihat dari masing-masing sisi—ayah dan ibu. Ia pun tambah tertekan karena ia tidak melihat solusi dari kemelut masalahnya.

Ketiga, pada akhirnya kita berusaha mencari solusi untuk melenyapkan ketidakbahagiaan.
Ada orangtua yang mendapatkan solusinya di luar keluarga—dengan berjudi, bekerja siang dan malam, atau berselingkuh. Ada anak yang mencari solusi dengan berbuat ulah di sekolah atau dalam pergaulan. Sayangnya, ada pula orangtua yang mencari solusi dengan cara memberi tuntutan kepada anak untuk melenyapkan ketidakbagiaannya. Anak yang mendapat tuntutan untuk meringankan beban ketidakbahagiaan orangtua akan terlibat dalam sebuah relasi yang tidak sehat.

Ø  SAYA TIDAK LAYAK

Akibat jeratan siklus ketidakbahagiaan si anak keluar dari rumah dan masuk ke dalam dunia dengan sebuah papan pengumuman: "Saya Tidak Layak." Ia merasa tidak layak untuk bahagia. Singkat kata ia kehilangan sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan anak: penghargaan diri (self-esteem). Anak yang tidak memiliki penghargaan diri pada akhirnya beranggapan bahwa ia tidak layak mengalami sesuatu yang baik. Ia ditakdirkan untuk hidup susah dan ia pun meyakini bahwa ia tidak akan mengalami kebahagiaan.

Masalahnya adalah, secara diam-diam ia menyalahkan orang lain sebagai penyebab mengapa ia tidak layak untuk bahagia. Memang pada awalnya ia menyalahkan orangtua sebagai penyebab mengapa ia menjadi seperti itu. Namun setelah ia dewasa dan berada di luar rumah, ia pun mulai mengalihkan pandangannya kepada orang di sekelilingnya.

Sudah tentu pola ini akan dibawanya ke dalam pernikahan. Ia menuntut pasangan untuk membahagiakannya. Tidak bisa tidak, sikap seperti ini akan meletihkan pasangan dan juga dirinya. Pasangan merasa tidak sanggup lagi menjadi pemasok kebahagiaan dan berusaha mengelak. Masalahnya, begitu mengelak, dengan cepat ia akan menuduh bahwa pasangan sudah tidak mencintainya lagi. Maka dimulailah sebuah siklus baru: ia mengejar pasangan supaya membahagiakannya, pasangan berusaha mengelak dan menjauh, makin menjauh makin ia merasa diri tidak layak, dan makin merasa tidak layak, makin ia memaksa pasangan membuatnya layak dan bahagia.

Ø  SAYA TIDAK BERFUNGSI

Kegagalan akhirnya menjadi bagian hidup si anak yang tak terelakkan lagi. Ia gagal membina pertemanan sehingga pada akhirnya ia cenderung menyendiri. Persahabatan menjadi dangkal dan karena ia menyadari bahwa persahabatan akan berakhir dengan kekecewaan, ia pun menjaga jarak. Ia berteman seaman mungkin dan berusaha memelihara jarak senyaman mungkin.

Pernikahan juga menjadi ajang kegagalannya. Kendati ia lebih banyak menyalahkan pasangan, namun kenyataan pahit berada di pelupuk mata: ia telah gagal membina pernikahan yang harmonis. Pasangan tidak lagi mencintainya, anak tidak dekat dan tidak menghargainya. Semua seakan membalikkan badan dan meninggalkannya. Pada akhirnya ia melihat diri sebagai seorang manusia yang tidak lagi berfungsi.

Pada umumnya kita baru sampai pada tahap ini di usia pertengahan. Pada saat itu anak-anak sudah akil balig dan meninggalkan rumah. Hubungan dengan pasangan telah menjadi begitu renggang sehingga tidak ada lagi perasaan intim yang tersisa. Jika kita masih memunyai pekerjaan, mungkin itu menjadi penghibur tunggal. Namun tetap, di dalam hati kita merasa kosong dan tidak bahagia—sangat tidak bahagia.

Ø  SAYA TIDAK MENYERAH

Tidak peduli berapa pun usia kita, bila kita menyadari bahwa inilah gambaran diri kita, masih ada yang dapat kita lakukan untuk membelokkan arah hidup. Syaratnya satu: "Saya tidak menyerah."

Langkah pertama merajut masa lalu dan merenda masa depan adalah membuka mata lebar-lebar dan melihat apa yang telah terjadi. Cobalah melihat apa adanya tanpa rasa takut menghakimi atau memihak siapa pun. Lihatlah apa yang dilakukan orangtua terhadap satu sama lain dan terhadap kita pula. Jangan tergesa-gesa menganugerahkan pengertian dan jangan buru-buru membasuh tindakan yang salah. Lihatlah apa adanya.

Ketakutan terbesar—yang menjadi penghalang proses pertama ini—adalah ketakutan akan kehilangan satu-satunya yang berharga dalam hidup kita. Ibarat rumah yang terbakar, kita mengais dan berhasil menemukan puing atau sisa peninggalan yang kemudian kita simpan dan jadikan kebanggaan serta identitas diri. Misalkan kita berkata, "Sejelek-jeleknya keluarga saya, mereka tidak akan mengemis belas kasihan." Inilah puing yang kita simpan dan jadikan kebanggaan. Masalahnya adalah, kebanggaan ini akan menghalangi kita untuk melihat apa yang terjadi dengan lebih jernih. Kita tidak lagi dapat melihat kenyataan bahwa ada begitu banyak hal lain yang menyakitkan oleh karena adanya kebanggaan itu. Itu sebabnya menanggalkan kebanggaan tidaklah mudah. Melihat semua apa adanya adalah sukar namun mesti dilakukan.

Ketika kita berhasil melihat apa adanya, barulah kita dapat melihat dampak semua itu pada diri kita. Inilah langkah kedua. Kritikan telah membuat kita kritis dan sukar menerima, baik kelemahan diri sendiri atau orang lain. Keluhan membuat kita tidak mudah—dan mungkin tidak pernah—mempercayai orang lain. Ketidakbahagiaan yang mengendap membuat kita bukan saja tidak bahagia tetapi juga merasa diri tidak layak mengecap kebahagiaan.

Bila kita berhasil mengakui semua itu, barulah kita dapat mulai merajut masa lalu. Dengan kata lain, barulah kita dapat menjahit sebuah diri yang bernama, "Saya." Inilah diri kita yang seutuhnya karena kita berhasil merajut semua potongan yang tadinya tercecer dan terlupakan. Sebelumnya kita belum mempunyai diri yang utuh karena kita membangun konsep siapakah saya di atas satu atau dua puing yang kita banggakan. Baik atau buruk, membanggakan atau memalukan, hitam atau putih, kudus atau kotor, semua dirajut menjadi sebuah baju—sebuah diri—yang bernama, "Saya." Inilah langkah ketiga.

Di dalam kebebasan barulah kita dapat mulai merenda. Inilah langkah keempat dan terakhir. Di atas baju yang kosong kita mulai membubuhkan bordiran—satu demi satu. Kita menyadari apa yang dapat kita lakukan dan apa yang tidak dapat kita lakukan dengan baik. Kita menyadari kebutuhan kita sekaligus tanggung jawab kita untuk memenuhinya. Kita menyadari batas antara diri dan orang lain dan bahwa kita tidak bisa seenaknya masuk ke dalam wilayah orang dan menuntutnya untuk memberi kepada kita sesuatu yang kita inginkan. Di dalam merenda masa depan barulah kita sadar bahwa kita tidak perlu besar dan penting untuk bahagia. Yang membuat bahagia adalah menikmati apa yang telah diberikan Tuhan dan memberikannya kembali kepada Dia. Firman Tuhan berkata, "Siapa mengerjakan tanahnya akan kenyang dengan makanan tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia akan kenyang dengan kemiskinan." (Amsal 28:19)

Ada yang diberikan tanah yang luas, ada yang diberikan tanah yang kecil. Terpenting adalah kita mengerjakan tanah sendiri. Tuhan telah berjanji bahwa apabila kita mengerjakan tanah sendiri, kita akan kenyang. Dengan kata lain, tidak peduli ukuran luasnya, semua tanah yang diberikan Tuhan cukup untuk mengenyangkan kita.

Sebaliknya, bila kita menengok ke kanan dan ke kiri dan mengejar "fantasi" atau barang yang sia-sia, sampai kapan pun kita tidak akan pernah kenyang.

Tanah sendiri, baju sendiri, diri sendiri. Itulah pemberian Tuhan kepada kita. Apa pun yang terjadi di masa lalu, rajutlah semua potongan yang terkoyak menjadi satu pakaian yang pas dan nyaman. Setelah itu mulailah kerjakan. Ibarat tanah, pacullah, berilah air, taburkan pupuk, dan tanamilah. Nikmatilah hasilnya dan berikanlah kembali kepada Tuhan. Inilah yang akan membuat kita berkata, "Saya bahagia."


Questions: