BETA

Index Topik

BAPTISAN

BAPTISAN

BAPTISAN
Sumber: browning
Id Topik: 200

Kata Yunani untuk ritus baptisan, yaitu baptizomai, berarti 'memandikan' atau 'membasuh'. Namun, dalam *LXX ditemukan arti klasik: 'menenggelamkan' atau 'menyelamkan' (Yes. 21:4). Ada dugaan bahwa dalam PB dengan arti inilah Yesus meramalkan 'baptisan *kematian-Nya' yang akan segera terjadi (Mrk. 10:38-39), demikian pula ketika Paulus menunjuk pada 'baptisan' Israel di *Laut Merah (1Kor. 10:2). Dua perikop ini merupakan pemahaman terhadap baptisan Kristen. Bagi Paulus, baptisan disetarakan dengan *keluaran Israel melintasi laut. Dalam baptisan secara simbolis umat Kristen ikut ambil bagian dalam *kematian dan *kebangkitan Yesus. Mereka dikuburkan bersama-Nya dan bangkit dalam *kehidupan baru. Jadi, baptisan juga dianggap sebagai permulaan kehidupan baru (Yoh. 3:4-5).

Upacara Kristen bukannya tanpa presedennya, yang terdapat dalam Yudaisme dan agama-agama lain. Air adalah sumber penyucian yang alamiah dan gamblang, sehingga orang *bukan Yahudi yang ingin menjadi Yahudi dibaptis dulu sebelum *penyunatan. Dalam *Qumran terdapat upacara *penyucian dengan air secara rinci. *Yohanes Pembaptis memanggil para pendengarnya untuk bertobat dan dibaptiskan di Sungai *Yordan. Yesus pun menerima baptisan dari tangannya, bukan untuk pengampunan dosa-dosa-Nya (Mat. 3:13-15), melainkan untuk menyamakan diri dengan umat-Nya. Peristiwa tersebut merupakan saat ketika Ia diutus memberitakan *Kerajaan Allah, dan saat ketika Ia diangkat sebagai *Anak Allah (Mrk. 1:10-11).

Baptisan segera menerima peran ritus inisiasi ke dalam *perjanjian, yang merupakan tujuan sunat dalam *Yudaisme (Kol. 2:11-12). *Petrus mendesak para pendengarnya di Yerusalem untuk bertobat dan menerima baptisan (Kis. 2:38). *sida-sida Etiopia dibaptiskan oleh *Filipus segera setelah menemukan kolam, tanpa mengikuti pelajaran yang rumit (Kis. 8:38). Tidak dicatat apakah sida-sida Etiopia itu menjadi anggota jemaat Kristen setempat.

Diyakini bahwa dalam baptisan *karunia *Roh dianugerahkan, sebagaimana terjadi pada diri Yesus (Mrk. 1:10). Prasyarat untuk menerima baptisan adalah *iman (Gal. 3:14). Dengan adanya syarat iman ini, apakah anak-anak dikesampingkan dari *sakramen Kristen? Hal ini banyak diperdebatkan. Dalam PB tidak ada satu pun bukti tertulis tentangnya. Dikemukakan bahwa ada rumah tangga dibaptis (Kis. 16:15, 33) yang mencakup anak-anak, sejajar dengan sunat sebagai upacara inisiasi anak-anak. Keduanya memiliki kesamaan tujuan.

Bukti arkheologis dari abad-abad awal menunjukkan bahwa baptisan kadang-kadang dilakukan dengan penyelaman atau pencelupan. Secara simbolis upacara tersebut mengulang kembali proses penguburan dan kebangkitan Yesus. Baptisan juga dilakukan dengan penuangan air dari sebuah bejana. Ketika air dituangkan ke atas kepala orang yang dibaptiskan, hal itu laiknya tanah yang ditaburkan ke atas mayat di pemakaman. Terdapat kesamaan simbolisme di antara kedua bentuk upacara tersebut. Paulus menyebutkan praktik baptisan pada zamannya, 'bagi orang mati' (1Kor. 15:29). Mungkin yang ia maksudkan adalah orang-orang *Korintus yang telah dibaptis, beranggapan bahwa pada waktu kebangkitan dirinya akan dipersatukan dengan sesama orang Kristen yang telah mati.