BETA

Index Topik

YESUS

YESUS

YESUS
Sumber: browning
Id Topik: 1986

Merupakan fokus ibadah Kristen. Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi Palestina pada 4 sM.

1) Tentang nama-Nya. Telah berabadabad sM Yesus merupakan nama pribadi yang lazim digunakan untuk pria Yahudi. Yesus merupakan bentuk Latin terjemahan Yunani atas kata *Yosua atau Yehosua dalam bahasa Ibrani, yang berarti '*Keselamatan itu adalah Yahweh'. Yosua adalah pengganti Musa, yang memimpin pasukan Israel ketika mereka menduduki *Kanaan. Nama itu juga digunakan oleh penulis Kitab Ben Sirakh. (Ketika nama Yosua disebut dalam Kis. 7:45, dan Ibr. 4:8, dalam AV tampaknya disalah-mengerti oleh para pembaca modern sebagai Yesus.) *Josephus menyebut empat orang *Imam Besar dengan nama Yesus, dan nama kawan sekerja Paulus disebut Yesus Yustus (Kol. 4:11). Kemudian umat Kristen tidak lagi menggunakan nama ini karena rasa hormatnya, dan orang-orang Yahudi tidak lagi menggunakannya karena kebencian yang amat sangat. Meskipun demikian, pada zaman modern, di Spanyol dan Filipina, 'Yesus' digunakan sebagai nama *baptis untuk anak-anak.

Nama Yesus, yang mengisi banyak kolom dalam konkordansi PB, sering kali dengan tambahan 'orang Nazaret'. Namun, 'Yesus Kristus' hanya dua kali terdapat dalam Injil-injil Sinoptik, meskipun dalam surat-surat lazim disebut, dan Paulus hanya 18 kali menyebut 'Yesus' saja.

2) Kehidupan Yesus: petunjuk pada sejarawan purba. Di luar PB hanya sedikit terdapat catatan mengenai 'Yesus dari Nazaret'. Petunjuk dalam Antiquities karya Josephus (XVIII, 63) melukiskanYesus sebagai orang bijaksana, yang melakukan perbuatan-perbuatan mengherankan, dan seorang guru. Tacitus (kira-kira 110 M) menyebut kematian-Nya, dan *Plinius (sekitar 110 M) menunjuk pada umat Kristen yang menyembah 'Kristus sebagai Allah'. Suetonius (sekitar 120 M) menyatakan tentang pengusiran orang-orang Yahudi dari Roma pada 49 M, ketika mereka melakukan kerusuhan karena nama 'Khrestos' (kemungkinan kesalahan dalam menyebut 'Khristos'). Dalam tulisan-tulisan rabinik terdapat beberapa petunjuk mengenai Yesus, namun hanya memberi sedikit sekali bukti historis. Mereka menolak pengakuan-Nya sebagai *Anak Manusia, dan terdapat berbagai petunjuk mengenai *penyaliban dan tandatanda dalam hubungannya dengan *mukjizat-mukjizat dan *kebangkitan, bahwa Yesus adalah seorang ahli sihir. Namun, penemuan dalam *gulungan Laut Mati dan dalam undang-undang *Nag Hammadi memungkinkan adanya penilaian baru terhadap asal-usul umat Kristen dan prakiraan yang lebih dapat dipercaya mengenai keyahudian Yesus serta *ajaran-Nya.

3) Kehidupan Yesus: petunjuk PB. Dari dalam Kitab-kitab Injillah petunjuk-petunjuk mengenai kehidupan Yesus dan pengajaran-Nya harus diangkat. Injil-injil itu ditulis dari dalam *persekutuan Kristen, dalam rangka menjawab kebutuhan internalnya; karena itu, Injil-injil tersebut harus diuji (sebagaimana telah dilakukan) dengan semua sumber secara ilmiah. Pengakuan-pengakuannya diuji dengan kriteria koherensi (pertautan) dan metodologi yang tepat, dalam terang keadaan sosial, politis, dan intelektual abad pertama M, yang diketahui.

Penelitian mengenai Yesus historis telah memiliki banyak pengaruh dan konsekuensi, bahkan dalam hubungan-hubungan politis dan internasional. Dalam Injil Barnabas (abad ke-15 M) diyakini bahwa Yesus telah menubuatkan kedatangan Muhammad, dan bahwa Yudaslah yang disalibkan -- meskipun karya ini kemungkinan merupakan pemalsuan Abad Pertengahan oleh seseorang yang berpindah ke agama Islam. Pada zaman modern Yesus digambarkan sebagai seorang reformator ekonomis (seorang Marxis mula-mula), sebagai seorang Mesias-Hitam yang anti Romawi, sebagai pembebas kaum miskin, sebagai seorang pasifis, sosialis, dan anggota perkumpulan kebatinan. Diduga bahwa Yesus tidak disalibkan oleh penguasa Romawi, tetapi dirajam oleh orang-orang Yahudi. Dalam prakiraan-prakiraan atas berbagai petunjuk yang saling tidak cocok ini, Yesus sejarah menjadi kabur. Beberapa orang mengatakan bahwa Ia sama sekali tidak dapat diangkat ke permukaan lagi. Namun, terdapat alasan-alasan pula untuk suatu harapan yang lebih menjanjikan.

Dalam studi ini telah lama diakui bahwa dalam menyaring intisari historis dari penafsiran, ketiga Injil Sinoptik pasti lebih memiliki keunggulan, ketimbang Injil Yohanes yang menyuguhkan penafsiran teologis, dengan mempertahankan garis besar ceritanya. Terdapat cerita-cerita lain mengenai kehidupan guru-guru dalam dunia purba yang mirip-mirip Injil-injil Sinoptik. Namun, sebagai biografi, Injil-injil tersebut telah menghilangkan banyak hal yang lazim digunakan dan diangan-angankan oleh seorang penulis modern. Tetapi, Matius dan Lukas masih mencatat kelahiran Yesus, dan keduanya sepakat bahwa hal itu terjadi ketika *Herodes Agung berkuasa. Lukas juga menyebutkan bahwa Kaisar *Agustus (27 sM-14 M) adalah kaisar Romawi yang sedang memerintah, dan bahwa suatu *sensus dilaksanakan ketika *Kirenius menjadi wali negeri *Siria, yang mengharuskan *Yusuf dan *Maria pergi ke *Betlehem. Pernyataan-pernyataan ini menimbulkan pertanyaan historis yang sulit -- seperti halnya ketika kedua Injil ini mengatakan bahwa Yesus secara ajaib dikandungkan oleh *Roh Kudus, dan bahwa Ia adalah keturunan Raja *Daud. Kedua pernyataan tersebut telah menjadi hal yang penting dalam Kristologi PB. Ketika Herodes wafat pada 4 M, maka waktu kelahiran Yesus adalah pada waktu itu atau beberapa tahun sebelumnya (perhitungan tahun 1 *M adalah suatu perhitungan yang keliru dari abad ke-6).

Keluarga Yesus tinggal di Nazaret, tempat Yusuf bekerja sebagai seorang tukang kayu. Itu adalah pekerjaan rendah, yang menyiratkan bahwa Yesus pasti tidak memiliki pendidikan intelektual sebagaimana dipuji oleh Ben Sirakh (Sir. 38:24), namun Ia benar-benar memiliki *karunia untuk berbicara secara gamblang dan populer.

Di kalangan sarjana-sarjana modern banyak yang menekankan bahwa Yesus harus dimengerti dalam kerangka *Yudaisme sezamannya. Sebagai seorang *guru dan juru sembuh, Ia dikenal sebagai pemimpin kharismatik yang berkelana, atau orang kudus dari *Galilea. Bukti ini bertentangan dengan *Doketisme mana pun, dan jelas menyatakan keadaan Yesus sebagai manusia, dalam tatanan sosial dan religius Palestina abad pertama M.

Pelayanan Yesus di tengah masyarakat dimulai ketika ia memihak pada pekerjaan *Yohanes Pembaptis. Ia kemudian memanggil dua betas orang untuk segera menjadi *murid-murid-Nya -- bukan karena mereka laki-laki, dan bukan perempuan [Ia tidak menjauhkan diri dari perempuan (Luk. 8:2-3), tidak seperti guru-guru Yahudi pada umumnya], tetapi karena mereka dikaitkan dengan dua betas leluhur keduabelas suku Israel; dan karena itu merupakan dasar bagi persekutuan yang baru, 'Israel baru'. Sebagai seorang guru keliling, Yesus memiliki kepribadian kharismatik, yang kuasa-Nya menciptakan kesan kuat dan periawanan sengit, ditambah lagi karena hubungan-Nya dengan orang-orang yang terbuang dan kaum hina (Luk. 15:2). Ia tidak bermaksud merusak *Taurat atau mengejek prinsip-prinsip *Yudaisme. Sebaliknya, tidak ada catatan mengenai penolakan-Nya terhadap satu pun ketetapan *Torah, yang merupakan kerangka kehidupan yang heradab. Ia berbicara di *sinagoga (Mrk. 6:2) dan mengenakan 'jumbai-jumbai' (Mrk. 6:56). Empat jumbai-jumbai berwarna biru dikenakan oleh seorang Yahudi sesuai dengan Taurat (Bil. 15:38). Namun, Ia berkata bahwa untuk membebaskan penderitaan seseorang boleh mengesampingkan ketaatan pada hari *Sabat (Mrk. 3:4; Mat. 12:3-14). Intisari Taurat dapat diringkas dengan singkat (Mat. 22:37-39) dalam kewajiban untuk mengasihi Allah dan sesama kita, serta dalam '*kaidah utama' untuk berbuat kepada orang lain seperti yang kita harapkan orang lain perbuat kepada kita (Mat. 7:12). Namun, Ia menuntut lebih dari orang-orang sezaman-Nya: tidak hanya sesama, tetapi musuh-musuh pun harus dikasihi (Mat. 5:44); orang muda yang kaya harus menjual harta miliknya dan mengikut Dia (Luk. 18:22). Ini adalah etika dalam pandangan *Kerajaan Allah, karena pesan yang diberitakan Yesus adalah bahwa Kerajaan Allah sudah datang. Karena itu, beberapa kewajiban tradisional hams ditinggalkan (Mat. 8:21-22). Tidak pernah sekalipun Yesus menjelaskan Kerajaan Allah ini, namun diperkirakan bahwa yang Ia maksudkan sebagai Kerajaan itu adalah zaman pembebasan, ketika kesalahan-kesalahan manusia dibenahi, dan masa keadilan serta kedamaian dihantarkan. Kerajaan Allah digambarkan sebagai sesuatu yang akan datang -- bahkan akan segera datang (Mrk. 1:15) -- dan akan menjadi saat *penghakiman (Mat. 20:1-16; Luk. 12:16-21; 18:1-6). Karena itu, Ia menyerukan pertobatan, yang berarti 'tidak sekadar menyesal', tetapi mengubah cara pandang. Yesus juga menekankan bahwa penghakiman yang akan datang itu telah dimulai (Luk. 11:20). Pelayanan Yesus sendiri termasuk dalam rencana *keselamatan Allah. Misi-Nya adalah menunjukkan bahwa Pencipta yang kekal dan Bapa itu dekat, dan Dia adalah Allah yang dapat didekati serta dikenal sebagai Allah yang berbelas kasih dan murah hati. Orang yang mengakui bahwa dirinya membutuhkan *anugerah-Nya disambut baik ke dalam *perjanjian Allah. Yesus adalah wahana Allah untuk menghadirkan zaman baru, yang di dalamnya syarat-syarat ritual dan etnik, yang dituntut oleh orang-orang *Saduki dan orang-orang *Farisi, diabaikan.

Metode pengajaran Yesus meliputi *perumpamaan-perumpamaan yang luas (dalam Injil-injil Sinoptik terdapat 39 perumpamaan), amsal-amsal singkat, metafora dan kiasan-kiasan serta nubuat-nubuat. Ia tidak membuat pengakuan eksplisit mengenai kemesiasan diri-Nya, namun gelar 'Anak Manusia' yang biasa digunakan-Nya tidak menyangkal pengakuan itu. Pernyataan-Nya yang tidak ortodoks mengenai Bait Suci telah membenarkan kebencian yang didorong oleh kepentingan pribadi (Mrk. 14:58). Penyucian Bait Allah (Mrk. 11:15) yang diikuti dengan kutukan atas pohon ara (yang melambangkan umat Israel) dapat dipahami sebagai tindakan mesianik.

Seperti kebanyakan guru-guru Helenistik periode itu, Yesus dilukiskan sebagai juru sembuh dan *pengusir setan. Namun, tidak seperti guru-guru sezaman-Nya, Ia berbicara dengan sederhana dalam bahasa Aram, bahasa ibunya, dan tidak menggunakan obat bius atau memakai anting-anting dan gelang. Penyembuhan dilakukan-Nya dalam konteks *doa (Mrk. 1:23) dan dengan latar belakang PL. Sebagai seorang nabi eskhatologis, Yesus dipengaruhi terutama oleh Yes. 40-66 (mis. Luk. 4:18-19). *Iman dapat dianggap sebagai akibat atau syarat penyembuhan, dan bagi orang-orang yang melihatnya sangat mengherankan (Mrk. 5:1-20). Orang-orang, yang karena penyakitnya, dianggap 'najis' disambut baik dalam *persaudaraan dengan Yesus. Hal ini merupakan bagian dari pembenahan Yesus atas sikap-sikap zaman-Nya.

4) Minggu terakhir. Tidak mengherankan, sejak awal *pelayanan publik-Nya Yesus membangkitkan semangat perlawanan (Mrk. 2:6-7), dan pertentangan fatal pada akhirnya tak terhindarkan. Pada jamuan malam perpisahan bersama murid-murid-Nya, dengan berbagi *roti dan *anggur, Yesus memberikan interpretasi dalam terminologi *perjanjian baru atas kematian-Nya yang akan segera terjadi. Namun, Yesus tidak pergi ke Yerusalem untuk menyongsong kematian-Nya dengan sengaja, Ia pergi dengan harapan dapat memberi kesempatan terakhir kepada orang-orang sezamanNva untuk berubah pikiran, karena janji Kerajaan Allah yang telah lama dinantikan sudah dekat. Bait Allah, tempat istimewa di mana Allah hadir di tengah umat-Nya, akan dihancurkan (Mrk. 13:1-4) dan umat baru yang setia akan ditegakkan oleh perjanjian baru (Mrk. 12:1-9). Karena itu, seandainya maut merupakan akhir perjalanannya, maka maut itu akan menjadi sarana keselamatan, 'menjadi tebusan bagi banyak orang.' (Mrk. 10:45). Para penguasa takut terhadap popularitas-Nya, tidak percaya pada pesan eskhatologis-Nya mengenai Kerajaan Allah, dan ngeri terhadap kekacauan besar oleh-Nya di Bait Allah ketika Yerusalem penuh sesak dengan para peziarah untuk merupakan hari *Paskah (Mrk. 11:15). Para pemimpin Yahudi, yang juga marah karena tertantang oleh pengakuan-pengakuan eksplisit-Nya, memutuskan untuk mengajukan tuntutan terhadap-Nya, dengan tuduhan telah menghasut pemberontakan, yang tidak mungkin diabaikan oleh penguasa Romawi. Jadi, direkayasalah kematian Yesus dengan *penyaliban cara Romawi (29/30 M), berdasar pengakuan, yang Yesus sendiri menyangkalnya, bahwa Ia ingin menjadi 'raja' secara politis.

Injil-injil bukanlah tulisan yang paling awal dalam PB. Surat-surat Paulus ditulis paling tidak 10 tahun sebelum Injil Markus; dan karena itu 1Kor. 15:3-7 merupakan kesaksian penting mengenai kepercayaan umat Kristen pertama bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah menampakkan diri kepada banyak pengikut-Nya. Banyak rincian cerita *kebangkitan sulit dipadukan, namun apa yang terjadi di hari Paskah pada tahun itu telah melahirkan kepercayaan baru, persekutuan baru, dan masa depan baru.